Begini Proses Penularan dari Difteri

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Begini Proses Penularan dari Difteri

Halodoc, Jakarta – Merupakan salah satu penyakit menular berbahaya yang perlu dihindari, difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae pada tenggorokan dan sistem pernapasan atas. Alasan mengapa penyakit difteri berbahaya adalah karena bakteri penyebabnya ini dapat menghasilkan racun yang dapat memengaruhi organ-organ lainnya. 

Lebih jelasnya, racun yang dihasilkan dari infeksi difteri ini dapat menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel. Akibatnya, pengidapnya akan mengalami kesulitan bernapas dan menelan. Kondisi ini kemudian menyebabkan sistem jantung dan saraf juga ikut terganggu.

Baca Juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Penularan difteri dapat terjadi melalui berbagai cara. Sebab, bakteri penyebabnya dapat tersebar dalam bentuk partikel di udara, benda pribadi, dan peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Berikut penjelasan lengkapnya:

  • Partikel udara. Jika kamu menghirup udara yang mengandung partikel dari batuk atau bersin pengidap difteri, kamu dapat tertular penyakit ini. Cara penularan ini termasuk yang paling mudah terjadi, terutama pada tempat yang ramai.

  • Barang pribadi yang terkontaminasi. Berkontak dengan benda-benda pribadi milik pengidap difteri juga dapat menyebabkan kamu tertular penyakit ini. Misalnya, memegang tisu bekas pengidap difteri, minum dari gelas yang sama dengan pengidap, atau kontak-kontak lainnya dengan benda-benda pribadi milik pengidap yang bisa menularkan bakteri.

  • Luka yang terinfeksi. Bersentuhan dengan luka yang terinfeksi juga dapat membuat kamu terpapar bakteri penyebab difteri.

Selain berbagai cara penularan tadi, risiko kamu untuk tertular difteri juga dapat meningkat karena beberapa faktor, yaitu:

  • Lokasi tempat tinggal yang tidak sehat.
  • Tidak mendapat vaksinasi terbaru.
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS.

Baca juga: Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

Gejala yang Dialami Jika Tertular Difteri

Pada tahap awal, gejala difteri kerap disalahartikan sebagai radang tenggorokan parah. Namun biasanya ada gejala lain yang menyertai, seperti demam dan pembengkakan kelenjar yang terletak pada leher. Selain itu, pada 2-4 hari setelah terinfeksi, pengidap dapat mengalami gejala berupa kulit terasa sakit, merah, dan bengkak.

Jangan tunggu parah, jika kamu mengalami berbagai gejala awal seperti radang tenggorokan parah dan gangguan pada kulit, waspadai gejala difteri dan segera cari pertolongan medis. Agar lebih mudah, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter lewat chat guna memastikan gejala, kemudian buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Perlu diketahui bahwa meski bakteri difteri dapat menyerang jaringan apapun dalam tubuh, gejala yang paling menonjol adalah pada tenggorokan dan mulut, seperti:

  • Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu.
  • Radang tenggorokan dan serak.
  • Pembengkakan kelenjar pada leher.
  • Masalah pernapasan dan susah menelan.
  • Cairan pada hidung, ngiler.
  • Demam dan menggigil.
  • Batuk yang keras.
  • Perasaan tidak nyaman.
  • Perubahan pada penglihatan.
  • Bicara yang melantur.
  • Tanda-tanda shock, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat.

Baca Juga: Ini Waktu yang Tepat Beri Anak Vaksin Difteri

Komplikasi Serius yang Ditimbulkan Difteri

Jika tidak segera ditangani dengan baik, difteri dapat menyebabkan komplikasi serius bagi pengidapnya, seperti:

1. Masalah Pernapasan

Infeksi bakteri penyebab difteri dalam tubuh dapat menghasilkan racun, yang dapat menghancurkan jaringan pada area yang terinfeksi, seperti hidung dan tenggorokan. Hal ini karena infeksi yang terjadi dapat menghasilkan membran keras berwarna abu-abu yang terdiri atas sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya, yang dapat menghambat pernapasan.

2. Kerusakan Jantung

Racun yang dihasilkan infeksi dapat menyebar melalui aliran darah dan menghancurkan jaringan lain yang ada di dalam tubuh, seperti otot jantung. Akibatnya, pengidap dapat mengalami peradangan pada otot jantung atau miokarditis. Kerusakan jantung ini biasanya terjadi pada 10-14 hari setelah terkena infeksi.

3. Kerusakan Saraf

Selain merusak otot jantung, difteri juga dapat menyebabkan kerusakan saraf, terutama pada tenggorokan. Hal ini kemudian memicu terjadinya kesulitan menelan. Ini merupakan komplikasi fatal, karena jika bakteri telah merusak saraf yang mengatur otot pernapasan, kelumpuhan otot dapat terjadi. Akibatnya, pernapasan jadi tidak akan bisa dilakukan tanpa alat bantu. Selain saraf di tenggorokan, saraf pada lengan dan kaki juga bisa mengalami peradangan dan menyebabkan lemah otot.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What is diphtheria?
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria.