Ranitidin Tercemar NDMA, Benarkah Berisiko Kanker?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ranitidin Tercemar NDMA, Benarkah Berisiko Kanker?

Halodoc, Jakarta - Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan pernyataan terkait adanya cemaran zat NDMA atau n-Nitrosodimethylamine pada salah satu obat asam lambung yang sering diresepkan untuk meredakan kelainan pada organ pencernaan yaitu ranitidin. Informasi ini didapatkan melalui Food and Drugs Administration (FDA) dan European Medicines Agency (EMA).

Meski begitu, BPOM tidak mengeluarkan perintah untuk menarik atau melarang peredaran obat tersebut di pasaran. Hanya saja, pihaknya mengimbau kepada para ahli kesehatan agar lebih berhati-hati ketika meresepkan obat ini kepada pasien. Kabarnya, risiko yang ditimbulkan oleh cemaran tersebut masih sangat rendah jika dibandingkan dengan manfaat yang diberikan. 

Apa Itu NDMA? Benarkah Berisiko Kanker? 

NDMA adalah cairan berwarna kuning yang tidak berbau. Cairan ini diproduksi di Amerika Serikat hanya digunakan untuk bahan kimia penelitian. NDMA secara tidak sengaja terbentuk selama berbagai proses pembuatan di banyak lokasi industri dan di udara, air, dan tanah dari reaksi yang melibatkan bahan kimia lain yang disebut alkilamin. 

Baca juga: Bukan Cuma Maag, Ini Penyebab Asam Lambung Naik

Sayangnya, paparan NDMA memiliki risiko tinggi untuk merusak fungsi hati. Pencemarannya ke tubuh bisa melalui obat, makanan, dan udara. Dampak yang ditimbulkan bergantung pada bagaimana cairan ini terpapar pada tubuh, kebiasaan, tingginya dosisnya, dan adanya zat kimia lain di dalam tubuh. 

Saat ini, NDMA diklasifikasikan sebagai “kemungkinan bersifat karsinogen” pada manusia karena ditemukan dan terbukti menyebabkan kanker dalam penelitian pada hewan. FDA masih terus melakukan penyelidikan apakah tingkatan NDMA yang terbilang rendah pada obat ranitidin menimbulkan risiko bagi kesehatan penggunanya. 

Baca juga: Pola Makan Sehat untuk Mencegah Asam Lambung Kambuh

Meski begitu, level NDMA yang ditemukan dalam ranitidin jumlahnya begitu kecil. Diyakini, ini tidak menyebabkan kerusakan dalam jumlah besar seperti ketika penggunaannya berada pada level dan dosis yang berlebihan. Terkait penggunaannya, pasien yang memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat ini karena alasan keamanan dan keselamatan harus bertanya dahulu pada dokter. Termasuk apabila mengajukan penggantian dengan obat yang memiliki fungsi yang serupa. 

Nah, kalau kamu adalah salah satunya yang ingin mengganti atau mengetahui lebih banyak informasi terkait ranitidin dan cemaran pengotor NDMA ini, sebaiknya tidak asal. Coba tanyakan langsung pada dokter agar informasi yang kamu dapatkan jadi lebih akurat. Kalau kamu tidak sempat ke dokter, kamu tetap bisa bertanya kapan saja melalui fitur Tanya Dokter yang ada di aplikasi Halodoc

Ranitidin adalah obat untuk mengatasi kenaikan asam lambung yang mudah ditemui di apotek. Zat yang terkandung pada obat ini menekan asam lambung yang diproduksi oleh sistem pencernaan. Secara klinis, obat ini menurunkan produksi asam lambung yang berlebihan sebagai dampak dari makan tidak teratur dan pola hidup yang tidak sehat. 

Baca juga: 4 Jenis Gangguan Lambung

Bentuknya bervariasi, bisa tablet, sirup, atau bahkan injeksi. Konsumsi yang dianjurkan adalah sebelum makan untuk mengurangi rasa mual berlebihan. Namun, dosis yang diberikan harus sesuai dengan anjuran dokter, karena kebutuhan tubuh terhadap obat ini berbeda. 

Referensi: 

Livescience. Diakses pada 2019. Heartburn Drug Found to Contain Traces of Cancer-Causing Chemical. 
Agency for Toxic Substances & Diseases Registry. Diakses pada 2019. Publich Health Statement for n-Nitrosodimethylamine.
European Pharmaceutical Review. Diakses pada 2019. NDMA Discovered in Samples of Ranitidine Medicines.