Rumah Kosong hingga Genangan Air Tingkatkan Risiko DBD

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Rumah Kosong hingga Genangan Air Tingkatkan Risiko DBD

Halodoc, Jakarta – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Setelah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh pemerintah, penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini kembali menelan korban jiwa. Angka kematian akibat DBD di Indonesia semakin tinggi. 

Sejak awal tahun 2020 lalu, DBD sudah ditetapkan sebagai KLB di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga kini, semakin banyak daerah di Indonesia yang melaporkan kasus DBD. Banyak faktor yang bisa menyebabkan nyamuk penyebab penyakit bersarang dan menginfeksi, mulai dari rumah kosong, lingkungan tinggal yang tidak terjaga kebersihannya, hingga genangan air. 

Baca juga: 5 Gejala DBD yang Tak Boleh Diabaikan

Beragam Faktor Risiko DBD 

Penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Setelah terinfeksi virus, ada beberapa gejala yang muncul, mulai dari demam, muncul ruam merah di kulit, serta nyeri pada sendi dan otot. Gejala penyakit DBD juga bisa memberi sensasi, seperti retak pada tulang dan terasa sangat menyakitkan. 

Virus penyebab penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk lalu masuk ke aliran darah dan mulai menginfeksi. Penularan terjadi ketika seseorang yang mengidap demam berdarah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti dan menginfeksi orang lain yang digigit oleh nyamuk yang sama. Ada berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko nyamuk penyebab DBD bersarang, di antaranya: 

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar DBD

  • Rumah Kosong 

Rumah yang dibiarkan dalam keadaan kosong bisa menjadi tempat nyamuk penyebab penyakit bersarang dan beranak pinak. Kalau sudah begitu, risiko penyebaran penyakit bisa menjadi lebih besar. Kendati begitu, rumah yang bersih sekalipun masih berisiko terdapat nyamuk Aedes aegypti, misalnya pada tumpukan pakaian, vas bunga, atau tempat tersembunyi lainnya. 

  • Genangan Air 

Untuk menghindari penularan DBD, penting untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Pastikan tidak ada genangan air yang bisa menjadi habitat nyamuk, salah satunya dengan rutin menguras bak mandi. Jika tidak terlalu dibutuhkan, sebaiknya hindari menumpuk air pada satu tempat. 

  • Tumpukan Sampah

Nyamuk penyebab penyakit juga bisa bersarang di tumpukan sampah. Aedes aegypti cenderung berkembang biak di tempat yang kotor, gelap, dan lembap, seperti tempat sampah. Selain itu, tumpukan sampah juga bisa menjadi tempat air menggenang. Genangan air merupakan tempat yang nyaman bagi nyamuk untuk bertelur. Saat musim hujan, hindari menumpuk sampah apalagi membuang sampah sembarangan agar terhindar dari DBD. 

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar DBD

  • Keluar Rumah Tanpa Pelindung

Tidak ada yang salah dengan keluar rumah, tetapi sebaiknya lindungi diri sebaik mungkin. Selalu kenakan pakaian yang bisa menutup tubuh dan melindungi dari gigitan nyamuk, terutama saat keluar di malam hari. Selain itu, hindari berdiam lama di tempat yang tidak terjaga kebersihannya. 

Risiko terserang DBD juga meningkat pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Maka dari itu, selalu terapkan pola hidup sehat agar tubuh tetap bugar. Hal itu bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang infeksi virus. Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat jika merasa digigit nyamuk penyebab penyakit. Terutama jika muncul gejala awal seperti demam tinggi, ruam, serta nyeri otot dan sendi. Gejala tersebut biasanya terjadi selama 3–7 hari. 

Jika ragu, kamu bisa bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja setelah gejala penyakit muncul. Aplikasi bisa diunduh di App Store dan Google Play. Dapatkan saran pertolongan pertama yang tepat dari dokter terpercaya. Jika dokter mencurigai gejala tersebut sebagai DBD, segera pergi ke instalasi gawat darurat di rumah sakit terdekat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dengue fever.
Web MD. Diakses pada 2020. Dengue Fever.
WHO. Diakses pada 2020. Where is the risk of dengue fever most acute and what should be done?
NIH. Diakses pada 2020. How Dengue Virus Infects Cells.
NHS. Diakses pada 2020. Dengue.