Sebabkan Peradangan Hati, Bisakah Hepatitis D Dicegah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sebabkan Peradangan Hati, Bisakah Hepatitis D Dicegah?

Halodoc, Jakarta – Hepatitis D adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan karena infeksi virus. Berbeda dengan jenis hepatitis lainnya, hepatitis D terjadi setelah virus hepatitis B menjangkiti sel hati. Penularannya melalui dua cara, yakni koinfeksi dan superinfeksi. Perbedaannya terletak pada cara virus menginfeksi tubuh pengidap.

Baca Juga: 4 Gaya Hidup Sehat untuk Pengidap Hepatitis D

Penularan koinfeksi terjadi saat virus hepatitis B dan D menginfeksi tubuh secara simultas. Sedangkan superinfeksi terjadi saat virus hepatitis D menginfeksi tubuh pengidap yang pernah terserang virus hepatitis B. Gejala yang muncul bisa bersifat akut (mendadak) dan kronis (perlahan).

Secara umum, hepatitis D ditandai dengan penyakit kuning, kelelahan, mual, muntah, nyeri sendi, nyeri perut, kehilangan nafsu makan, urine berwarna gelap, kebingungan, memar, dan perdarahan.

Lantas, Bisakah Hepatitis D Dicegah?

Belum ada pencegahan khusus untuk hepatitis D. Cara yang bisa dilakukan adalah menghindari infeksi hepatitis B, di antaranya adalah:

  • Lakukan vaksinasi hepatitis B. Vaksin ini berisi HbsAg, sejenis antigen yang bisa merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis B. Perlu diketahui hepatitis B tidak boleh diberikan pada orang dengan riwayat alergi berat (syok anafilaktik), terutama setelah pemberian vaksin hepatitis B dan vaksin lainnya.

  • Lakukan seks aman, alias pakai kondom saat berhubungan intim. Lakukan cara ini jika kamu belum yakin pasangan seksual terbebas dari risiko infeksi seksual menular (IMS). Usahakan untuk setiap pada satu pasangan seksual untuk meminimalkan infeksi IMS seperti hepatitis B, gonore, sifilis, dan HIV/AIDS.

  • Hindari penggunaan jarum suntik tidak steril. Pasalnya IMS menular melalui penggunaan jarum suntik bergantian. Kondisi ini rentan terjadi pada pengguna narkoba suntik atau orang yang mendapatkan tindik dan tato dengan jarum suntik yang tidak steril.

  • Cek potensi hepatitis B saat merencanakan kehamilan. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu dan janin. Pasalnya ibu hamil bisa menularkan hepatitis B pada bayinya saat persalinan.

  • Hindari berbagi penggunaan barang pribadi seperti sikat gigi, pisau cukur, dan alat lainnya.

Baca Juga: Perlu Tahu, Begini Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis D

Bagaimana Vaksin Hepatitis B Diberikan?

Vaksin hepatitis B termasuk ke dalam imunisasi wajib. Proses pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yakni saat anak lahir, saat anak berusia satu bulan, dan saat anak berusia 3-6 bulan. Meski begitu, orang dewasa yang berisiko tinggi dianjurkan untuk vaksinasi hepatitis B. Misalnya bagi orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual, berhubungan intim dengan pengguna obat suntik, serta mengidap penyakit hati kronis dan penyakit ginjal.

Pada ibu hamil pengidap hepatitis B, bayi yang baru lahir harus menerima vaksin hepatitis B paling lambat 12 jam setelah persalinan. Tujuannya untuk mencegah risiko penularan dari ibu dan bayi.

Baca Juga: Apakah Vaksinasi Hepatitis B Efektif Mencegah Hepatitis D?

Itulah fakta pencegahan hepatitis D yang perlu diketahui. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar hepatitis D, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!