• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sebelum Lakukan Intermittent Fasting, Perhatikan 5 Hal Ini

Sebelum Lakukan Intermittent Fasting, Perhatikan 5 Hal Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta – Diet rendah lemak dan karbohidrat seringkali gagal, karena biasanya kamu diharuskan untuk menghindari semua makanan yang kamu sukai. Metode diet seperti itu juga dapat membuat kamu mudah lapar, karena mengurangi asupan makronutrien yang merupakan sumber energi bagi tubuh. Jika diet rendah lemak dan karbohidrat seringkali gagal padamu, mengapa tidak coba lakukan intermittent fasting atau diet puasa?

Intermittent fasting atau disebut juga diet puasa adalah metode diet yang dilakukan dengan cara berpuasa makan selama beberapa waktu yang ditentukan, tetapi masih dapat mengonsumsi minuman. Alasan tidak adanya label “diet” dalam nama intermittent fasting adalah karena metode ini lebih cocok disebut pembatasan atau pengaturan kebiasaan makan, ketimbang diet.

Baca juga: Rahasia Bentuk Tubuh Ideal dengan Diet Golongan Darah

Berbeda dengan kebanyakan metode diet lain yang “banyak aturan” soal jenis makanan, intermittent fasting membolehkan kamu untuk mengonsumsi apapun jenis makanan yang kamu suka atau inginkan. Metode dalam intermittent fasting lebih menjurus pada pengaturan waktu. Kapan kamu boleh makan dan kapan kamu harus berhenti makan atau puasa. Metode ini umumnya menganjurkan untuk puasa makan selama 16 jam. Namun, sebenarnya waktu puasa bisa kamu tentukan sendiri. Terdengar mudah bukan?

Sebelum memutuskan untuk mencoba intermittent fasting sebagai metode diet, ada beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan, sebagai tips agar bisa tetap sehat dan konsisten menjalankan metode ini, yaitu:

  1. Perbanyak minum air putih. Hal ini untuk mencegah dehidrasi, sehingga tubuh lebih mudah melewati periode puasa.
  2. Lakukan periode puasa atau berhenti makan saat malam hari. Sebab waktu tidur akan memudahkan kamu melewati waktu tanpa makan.
  3. Jangan setel mindset bahwa periode puasa adalah waktu untuk merasa kelaparan atau kekurangan makan. Pikirkanlah periode itu sebagai waktu untuk mengistirahatkan tubuh sejenak dari kegiatan makan.
  4. Mulailah periode berhenti makan saat kamu sibuk dengan rutinitas, karena lebih mudah untuk mengalihkan perhatian.
  5. Jalanilah intermittent fasting dengan rutin beraktivitas fisik. TIdak perlu yang berat, cukup dengan intensitas sedang atau aktif bergerak, tetapi teratur untuk dilaksanakan dalam dua atau tiga kali per minggu.

Perlu diketahui bahwa intermittent fasting dapat membuat kamu merasa stres pada awalnya, karena belum terbiasa dengan pola makan yang baru. Berbagai efek samping seperti sakit kepala dan perubahan jam tidur mungkin akan kamu alami. Namun, hal ini hanya bersifat sementara, kok. Ketika kamu telah beradaptasi dan menemukan pola puasa yang sesuai, kamu akan merasa nyaman dengan sendirinya.

Baca juga: 9 Buah-buahan yang Dapat Mencegah Dehidrasi Saat Berpuasa

Metode intermittent fasting terbilang cukup aman. Namun, ada beberapa kondisi medis yang membuat seseorang tidak disarankan untuk menjalani metode diet ini. Sebaiknya, hindari atau konsultasikan dengan dokter di aplikasi Halodoc lewat chat jika ingin tetap menjalani metode diet ini, atau memiliki beberapa kondisi berikut:

  • Mengidap diabetes.
  • Mengalami masalah kadar gula darah.
  • Mengidap tekanan darah rendah.
  • Sedang menjalani masa pengobatan.
  • Memiliki indeks massa tubuh di bawah normal.
  • Mengidap gangguan makan.
  • Wanita yang sedang menjalani program hamil.
  • Wanita yang mengalami perdarahan berlebih saat menstruasi.
  • Wanita yang sedang hamil atau sedang menyusui

Aneka Cara Melakukan Intermittent Fasting

Salah satu hal yang istimewa dari intermittent fasting dibanding metode diet lainnya adalah fleksibilitasnya yang tinggi. Dikatakan demikian, karena intermittent fasting memiliki aturan yang bervariasi dalam mengurangi makan. Dari berbagai cara melakukan intermittent fasting, berikut beberapa metode yang paling populer:

1. The 16/8 Method

Metode ini membagi 16 jam waktu puasa dan 8 jam waktu untuk makan. Sebagai contoh, kamu diperbolehkan makan dari jam 2 siang hingga jam 10 malam, lalu dilanjutkan berpuasa hingga 16 jam ke depan.

Baca juga: 6 Buah Yang Cocok Dikonsumsi Saat Sahur

2. Eat-Stop-Eat

Dilakukan dengan tidak mengonsumsi makanan sama sekali selama 24 jam dalam beberapa hari per minggunya. Misalnya, di hari Senin kamu berhenti mengonsumsi makanan dari waktu makan malam hingga makan malam berikutnya, lalu 24 selanjutkan kamu diperbolehkan untuk makan atau tidak berpuasa. Meski sulit, kamu bisa mencoba metode ini secara bertahap.

3. The 5:2 Diet

Metode ini dilakukan dengan cara mengurangi jumlah makanan yang biasa dikonsumsi, hingga 25 persen atau kira-kira setara dengan satu kali porsi makan per hari. Metode ini dapat dilakukan dalam 2 hari per minggu, tetapi tidak harus berurutan. Sementara di lima hari sisanya, kamu dapat mengonsumsi makanan seperti biasanya.

Referensi:
Live Science. Diakses pada 2019. Does Intermittent Fasting Have Benefits? Science Suggests Yes.
Daily Burn. Diakses pada 2019. 5 Intermittent Fasting Methods: Which One Is Right for You?