Sering Terpapar Pestisida Bisa Terkena Limfoma Non Hodgkin?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Terjadinya limfoma mengacu pada keganasan sistem limfatik. Sistem tersebut merupakan jaringan simpul yang dihubungkan oleh pembuluh darah. Kelenjar getah bening mengalirkan cairan dan produk limbah dari tubuh. Kelenjar getah bening bertindak sebagai filter kecil, serta menghilangkan organisme dan sel asing. 

Limfosit merupakan jenis sel darah putih yang membantu melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Fungsi kelenjar getah bening adalah untuk mencegah infeksi memasuki aliran darah. Saat sistem limfatik melawan infeksi aktif, kamu mungkin memperhatikan bahwa beberapa kelenjar getah bening di area infeksi menjadi bengkak dan lunak. Ini merupakan reaksi normal tubuh terhadap infeksi. 

Baca juga: Perbedaan Limfoma Hodgkin dan Non-Hodgkin yang Perlu Diketahui

Faktor Risiko Limfoma Non Hodgkin

Dalam kebanyakan kasus, orang yang didiagnosis dengan limfoma non hodgkin tidak memiliki faktor risiko yang jelas. Kebanyakan orang yang memiliki faktor risiko penyakit tidak pernah mengembangkannya. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko limfoma non hodgkin meliputi:

1. Infeksi Virus dan Bakteri Tertentu

Infeksi virus dan bakteri tertentu tampaknya dapat meningkatkan risiko limfoma non hodgkin. Virus yang dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma non hodgkin termasuk infeksi HIV dan Epstein-Barr. Bakteri terkait dengan peningkatan risiko limfoma non hodgkin termasuk Helicobacter pylori yang menyebabkan maag. 

2. Terpapar Bahan Kimia

Bahan kimia tertentu, seperti pestisida dan yang digunakan untuk membunuh serangga dan gulma, dapat meningkatkan risiko pengembangan limfoma non hodgkin. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami kemungkinan hubungan antara pestisida dan pengembangan limfoma non hodgkin.

3. Usia yang Lebih Tua

Limfoma non hodgkin dapat terjadi pada segala usia, tetapi risikonya meningkat bertambahnya usia. Ini umum terjadi pada orang berusia 60 tahun atau lebih. 

Baca juga: 4 Stadium Limfoma yang Penting untuk Diketahui

Limfoma non hodgkin lebih lanjut diklasifikasikan ke dalam berbagai subtipe berdasarkan pada sel asal (sel B atau sel T) dan karakteristik sel. Subtipe limfoma non hodgkin memprediksi perlunya pengobatan dini, respons terhadap pengobatan, jenis perawatan yang diperlukan, dan prognosis. 

Dalam kebanyakan kasus, penyakit ini disebabkan oleh sistem kekebalan yang melemah. Namun, kondisi tersebut dimulai saat tubuh memproduksi terlalu banyak limfosit abnormal, yaitu sejenis sel darah putih. Jika kamu mencurigai gejala yang tidak kamu kenali, sebaiknya segera bicarakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Umumnya, limfosit melewati siklus hidup yang dapat diprediksi. Limfosit tua mati, dan tubuh kamu menciptakan yang baru untuk menggantikannya. Pada limfoma non-hodgkin, limfosit kamu tidak akan mati, tapi terus tumbuh dan membelah. Kelebihan pasokan limfosit ini akan berkumpul ke kelenjar getah bening kamu, menyebabkan mereka membengkak. 

Baca juga: Ketahui Pencegahan Terserang Penyakit Limfoma

Sel B dan Sel T

Limfoma non-Hodgkin dapat dimulai pada:

  • Sel B. Sel ini melawan infeksi dengan memproduksi antibodi yang menetralisir hal asing. Kebanyakan limfoma non hodgkin timbul dari sel B. Subtipe limfoma non Hodgkin yang melibatkan sel B meliputi limfoma sel B besar yang menyebar, limfoma folikuler, limfoma sel mantel, dan limfoma Burkitt. 
  • Sel T. Sel ini terlibat dalam membunuh “penjajah asing” secara langsung. Limfoma non hodgkin lebih jarang terjadi pada sel T. Subtipe limfoma non hodgkin yang melibatkan sel T termasuk limfoma sel T perifer dan limfoma sel T kulit. 

Limfoma non Hodgkin biasanya melibatkan keberadaan limfosit kanker di kelenjar getah bening kamu. Namun, penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian lain dari sistem limfatik kamu. Ini termasuk pembuluh limfatik, amandel, kelenjar gondok, limpa, timus, dan sumsum tulang. Kadang-kadang, limfoma non hodgkin melibatkan organ di luar sistem limfatik. 

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin’s Lymphoma

WebMD. Diakses pada 2019. Understanding Non-Hodgkin Lymphoma