Si Kecil Alami Fimosis, Apakah Harus Segera Disunat?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Si Kecil Alami Fimosis, Apakah Harus Segera Disunat?

Halodoc, Jakarta - Kulup penis pria semestinya cukup fleksibel untuk ditarik ke belakang melewati bagian kepala. Namun pada orang yang mengidap fimosis, kulup melekat kencang pada kepala penis dan tidak dapat ditarik. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak-anak atau pria dewasa yang belum disunat. Fimosis pada anak biasanya akan teratasi sendiri, seiring bertambahnya usia. Lalu bagaimana jika kulup tak kunjung bisa ditarik ke belakang hingga anak menginjak usia dewasa?

Pada tahap awal pengobatannya, dokter biasanya akan meresepkan beberapa obat-obatan untuk anak yang mengidap fimosis. Obat-obatan yang diberikan dapat berupa:

  • Steroid topikal. Obat yang mengandung kortikosteroid ini tersedia dalam bentuk krim, gel, atau salep. Obat steroid dapat membantu melenturkan kulup sehingga memudahkan untuk ditarik.

  • Krim antijamur. Krim ini diberikan pada pengidap yang mengalami infeksi karena jamur.

  • Antibiotik. Obat ini diperlikan untuk mengatasi infeksi yang terjadi karena bakteri.

Namun, jika infeksi terus terjadi meski sudah menggunakan obat-obatan yang diresepkan, dokter kemungkinan akan menyarankan untuk melakukan sunat atau sirkumsisi. Jadi, dapat dikatakan bahwa untuk kasus fimosis pada anak, sunat biasanya merupakan saran pengobatan terakhir yang bisa dilakukan.

Baca juga: Si Kecil Alami Fimosis, Apakah Berbahaya?

Mengapa Fimosis Bisa Sebabkan Infeksi?

Sebenarnya, fimosis terbilang jarang menimbulkan rasa nyeri, jika tidak terjadi infeksi. Namun sayangnya, pengidap fimosis cukup rentan mengalami infeksi pada penis, imbas sulitnya membersihkan kotoran yang ada di bawah kulup penis. Pada kasus infeksi yang parah, gejala dapat cukup mengganggu, seperti memerahnya kulit penis, pembengkakan, hingga nyeri. 

Jika dibiarkan dan tidak segera ditangani, fimosis juga dapat menimbulkan kesulitan dalam buang air kecil dan gangguan dalam melakukan hubungan seksual di kemudian hari. Gangguan seksual yang umum terjadi akibat fimosis adalah nyeri, kulit penis pecah-pecah, atau kurang merasakan sensasi saat berhubungan seks

Untuk itu, jika melihat ada tanda-tanda fimosis pada anak, segera konsultasikan kondisinya ke dokter. Terutama jika anak mengeluh sakit saat buang air kecil, atau penisnya bengkak. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Kenali 6 Penyebab Fimosis

Hal-Hal yang Meningkatkan Risiko Fimosis

Meski belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab fimosis, kondisi ini diduga memiliki kaitan dengan faktor genetik. Mengingat gejala sudah bisa terlihat sejak bayi atau lahir. Namun, ada beberapa hal lain yang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya fimosis, baik pada anak-anak maupun pria dewasa, yaitu:

  • Masalah medis. Kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya fimosis adalah penyakit diabetes. Penyakit ini membuat pengidapnya rentan terkena infeksi yang dapat membentuk jaringan parut pada kulup, sehingga membuat kulit menjadi tidak lentur dan sulit ditarik. Selain itu, beberapa gangguan pada kulit juga dapat menyebabkan munculnya fimosis, antara lain psosiaris, lichen sclerosus (lesi pada kulup atau  terkadang kepala penis), lichen planus (ruam gatal non-infeksi), serta eksim yang membuat kulit berwarna merah, gatal, pecah-pecah dan kering.

  • Usia. Penuaan menyebabkan berkurangnya kelenturan kulup sehingga sulit ditarik.

  • Tarikan dan peregangan yang keras. Kedua hal tersebut dapat membuat kulit kulup robek dan mengalami peradangan, hingga mengarah pada fimosis.

Setelah mengetahui beberapa hal yang dapat memicu terjadinya fimosis, kamu juga sepertinya perlu mengetahui hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Berikut beberapa di antaranya:

  • Mencuci penis setiap hari dengan air hangat saat mandi. Hal ini juga perlu dilakukan pada pria yang telah disunat.

  • Menggunakan sabun ringan yang tidak mengandung parfum dan menghindari penggunaan talk atau deodoran pada penis untuk mengurangi risiko iritasi pada organ tersebut.

  • Tariklah kulup penis perlahan guna membersihkan kulit di bawah kulup dan jangan menarik kulup dengan keras karena dapat menimbulkan nyeri dan luka.

Baca juga: Rentan Dialami Si Kecil, Inilah Cara Mengatasi Fimosis

Itulah sedikit penjelasan mengenai fimosis. Selain berkonsultasi dengan dokter, jika kamu memerlukan obat, kamu bisa memesannya melalui aplikasi Halodoc, lho. Kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!