06 November 2018

Sindrom Cushing Lebih Berisiko dengan Pengidap Diabetes?

Sindrom Cushing, hormon kortisol adalah, diabetes

Halodoc, Jakarta - Istilah sindrom cushing mungkin masih terdengar asing di telinga. Sindrom ini merupakan suatu kumpulan gejala yang muncul akibat kadar hormon kortisol yang terlalu tinggi dalam tubuh. Kondisi ini dapat terjadi secara seketika atau bertahap, dan akan semakin memburuk jika tidak ditangani.

Apa itu hormon kortisol? Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar adrenal, yaitu kelenjar yang berada di atas ginjal. Hormon kortisol berfungsi untuk mengontrol suasana hati dan rasa takut. Selain itu, hormon ini juga berperan penting dalam sejumlah fungsi tubuh, di antaranya mengatur tekanan darah, mengurangi peradangan, dan meningkatkan kadar gula darah.

Hormon kortisol juga dikenal sebagai hormon stres, karena hormon ini banyak diproduksi ketika seseorang sedang mengalami stres. Untuk menyeimbangkan kadar kortisol dalam darah, kelenjar adrenal dibantu oleh kelenjar yang berada di otak yang dinamakan hipotalamus dan hipofisis. Kedua kelenjar ini berfungsi untuk mengirim sinyal ke kelenjar adrenal untuk mengurangi produksi atau menambah produksi hormon kortisol.

Pada dasarnya, sindrom ini disebabkan oleh peningkatan kadar hormon kortisol yang abnormal. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem tubuh lainnya, seperti:

  1. Tekanan darah.

  2. Kadar gula dalam darah (glukosa).

  3. Aksi antiinflamasi.

  4. Kontraksi jantung dan pembuluh darah.

  5. Respon imun.

  6. Metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein untuk menjaga glukosa darah (glukoneogenesis).

  7. Aktivasi sistem pada saraf pusat.

Pertumbuhan hormon kortisol yang tak terkendali dapat meningkatkan tekanan darah serta kadar glukosa darah, dan pada akhirnya memicu diabetes. Bahkan, diabetes merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat sindrom cushing yang tidak diobati.

Gejala yang dapat dialami pengidap sindrom ini tergantung pada tingginya kadar kortisol dalam tubuh, beberapa gejala umum yang dapat timbul, antara lain:

  1. Menumpuknya jaringan lemak, terutama pada bagian bahu dan wajah.

  2. Penipisan kulit, sehingga kulit menjadi mudah memar atau lebam.

  3. Guratan berwarna ungu kemerahan pada kulit perut, payudara, lengan, dan paha.

  4. Terjadi peningkatan berat badan.

  5. Luka yang terdapat pada kulit menjadi susah untuk sembuh.

  6. Munculnya jerawat.

  7. Mudah cemas, merasa pusing, mudah marah, dan depresi.

  8. Otot menjadi lemah secara tiba-tiba.

  9. Adanya tekanan darah tinggi.

  10. Adanya gangguan pertumbuhan pada anak.

  11. Pengeroposan pada tulang.

  12. Rasa haus yang meningkat.

  13. Frekuensi urinasi yang meningkat.

  14. Gangguan siklus menstruasi.

  15. Tumbuh rambut lebat pada wanita di bagian-bagian yang biasanya hanya terdapat pada pria.

  16. Pada pria dapat mengalami disfungsi ereksi, hilangnya gairah seksual, penurunan kesuburan, bahkan impotensi.

  17. Pipi bengkak dengan adanya bercak merah.

Penyebab utama dari sindrom cushing adalah mengonsumsi terlalu banyak obat-obatan glukokortikosteroid. Prednisone, dexamethasone, dan prednisolon adalah beberapa contoh dari jenis obat-obatan ini. Glukokortikoid menyerupai cara kerja hormon alami tubuh kortisol. Obat-obatan ini digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, seperti asma, inflamasi kulit, kanker, penyakit usus, nyeri sendi, dan rheumatoid arthritis.

Sindrom cushing biasanya menyerang lebih banyak wanita daripada pria. Kondisi ini dapat terjadi pada wanita dengan rentan usia 25-40 tahun. Kenali gejala-gejala dan penyebab sindrom cushing sedini mungkin agar bisa cepat ditangani.

Kamu bisa ngobrol langsung dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc melalui Chat atau Voice/Video Call untuk mengetahui masalah kesehatan kamu. Tidak hanya itu, kamu juga bisa membeli obat yang kamu butuhkan, dan pesanan kamu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!

Baca juga: