• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Stigma Negatif Bisa Memicu Terjadinya Gangguan Dismorfik Tubuh

Stigma Negatif Bisa Memicu Terjadinya Gangguan Dismorfik Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder) mungkin terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah stigma negatif di tengah lingkungan. Pada dasarnya, gangguan mental yang satu ini memang muncul karena citra buruk terhadap diri sendiri. Nah, stigma negatif dari orang-orang di sekitar ternyata bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan dismorfik tubuh.

Gangguan dismorfik tubuh ditandai dengan muncul rasa takut atau cemas secara berlebihan terhadap penampilan diri sendiri. Semakin lama, kondisi ini akan menyebabkan pengidapnya berpikiran berlebihan dan selalu menaruh perhatian tidak wajar pada penampilan diri sendiri. Gangguan dismorfik tubuh bisa menyerang siapa saja, termasuk remaja dan anak-anak.

Baca juga: Benarkah Body Dysmorphic Disorder Dipicu Masalah Mental?

Tanda Pengidap Gangguan Body Dysmorphic Disorder

Sebagian besar orang yang mengidap gangguan ini hampir selalu merasa memiliki penampilan yang buruk. Seiring berjalannya waktu, stigma negatif terhadap diri sendiri ini bisa mengganggu tingkat kepercayaan diri dan aktivitas sehari-hari. Lantas, apa saja penyebab dan faktor risiko terjadinya gangguan body dysmorphic disorder?

Gejala khas dari gangguan ini adalah perasaan cemas akibat citra buruk terhadap diri sendiri. Hal yang paling diperhatikan oleh orang dengan gangguan ini adalah penampilan fisik. Pengidap gangguan dismorfik tubuh merasa bahwa penampilannya buruk, padahal belum tentu kenyataannya seperti itu. Seluruh ketakutan tersebut hanya ada di pikiran dan tidak sesuai dengan kenyataan. 

Pikiran-pikiran tersebut kemudian menyebabkan pengidap body dysmorphic disorder sering merasa malu, dan berujung pada menghindari berbagai interaksi sosial. Pada kondisi yang lebih parah, gangguan ini bisa menyebabkan pengidapnya rela melakukan apa saja untuk mengubah penampilan, termasuk operasi. Sekali lagi, hal itu dilakukan untuk mengubah stigma negatif dan citra buruk terhadap diri sendiri. 

Sayangnya, hingga kini masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab gangguan body dysmorphic disorder. Namun, gangguan ini sering dikaitkan dengan beberapa faktor, seperti faktor genetik, kelainan struktur otak, hingga faktor lingkungan, termasuk tekanan sosial.

Baca juga: Benarkah Korban Bullying Berisiko Terkena Body Dysmorphic Disorder?

Stigma negatif yang diterima dan berkembang bisa membuat seseorang sering merasa malu, resah, dan berujung pada kondisi body dysmorphic disorder. Anak-anak yang tumbuh besar di tengah keluarga perfeksionis juga memiliki risiko tinggi mengalami kondisi ini. Sebab, pola asuh demikian menyebabkan anak rentan mengalami gangguan kepercayaan diri akibat sering dikomentari atau dibanding-bandingkan oleh orangtua atau keluarga dekat.

Orang dengan gangguan ini sering mencemaskan beberapa bagian tubuh, seperti bentuk wajah, warna kulit, kondisi rambut, hingga bentuk payudara. Gangguan ini bisa menyebabkan pengidapnya menganggap bagian tubuh tertentu terlalu besar atau malah terlalu kecil.

Tanda seseorang mengalami gangguan ini adalah sering mengecek tubuh, salah satunya dengan bercermin. Hal itu terjadi diakibatkan oleh rasa cemas dan takut yang muncul. 

Baca juga: Ikuti Tips Ini untuk Menangani Body Dysmorphic Disorder

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi
NHS UK. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder (BDD)
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder
WebMD. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder