Stres Bisa Sebabkan Obesitas, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Stres Bisa Sebabkan Obesitas, Ini Alasannya

Halodoc, Jakarta – Para peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki kadar kortisol “hormon stres” yang tinggi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami obesitas. 

Informasi ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Department of Epidemiology and Public Health dari University College London (UCL) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres dapat memicu obesitas karena stres telah dikaitkan dengan "kenyamanan makan," di mana seseorang bisa beralih ke mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula dalam upaya membuat perasaan lebih baik.

Pemicu Stres dan Obesitas

Tadi sudah sedikit disinggung bagaimana stres bisa menjadi faktor penambahan berat badan. Sebagian besar dari kita menjadi makan berlebihan ketika mengalami tekanan. Ini dikarenakan sebagai bentuk respons pertarungan atau pelarian dari mode bertahan hidup yang dikirimkan tubuh.

Ketika seseorang mencapai tingkat stres tertentu, tubuh akan mengirimkan sinyal untuk melakukan apa saja guna meredakan stres tersebut. Dalam kebanyakan kasus, direspons dengan konsumsi yang berlebihan. 

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Ini Dampak dari Obesitas

Tubuh menganggap kalori menjadi cara untuk mengatasi stres padahal sebenarnya tidak. Tingkat "hormon stres," atau kortisol yang meningkat selama masa-masa penuh tekanan dapat menyebabkan perubahan pada pola makan. 

Ini karena peningkatan kadar hormon juga memicu kadar insulin meningkat, gula darah yang turun membuat kamu menginginkan makanan yang bergula dan berlemak. Inilah akhirnya menjadi skema interaksi antara stres dan obesitas. 

Punya masalah dengan berat badan dan pengaturan pola makan sehat, bisa ditanyakan langsung di HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja. 

Selain merangsang hasrat makan, ternyata pengaruh stres terhadap obesitas erat kaitannya dengan sistem metabolisme. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ohio State University menunjukkan bagaimana stres melambatkan sistem metabolisme pada perempuan. 

Baca juga: 4 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memulai Diet Keto

Selain stres meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kalori, ternyata ini memiliki interaksi dengan tingkat metabolisme terkait kadar gula darah, trigliserida, insulin, dan juga kortisol.

Perempuan yang mengalami stres membakar 104 kalori lebih sedikit daripada perempuan yang tidak stres. Stres juga memicu kadar insulin yang lebih tinggi, sehingga berkontribusi pada penyimpanan lemak. 

Tips Menurunkan Stres Supaya Tidak Obesitas

Sebenarnya ada banyak jalan ataupun langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi stres—dan bukan dengan konsumsi berlebihan. Berikut ini rekomendasinya:

  1. Berolahraga, tetapi jangan berlebihan. Latihan intensitas tinggi dapat meningkatkan kadar kortisol, makanya alternatif yang bisa kamu lakukan adalah dengan jalan cepat.

  2. Bermeditasi, atau cobalah latihan pernapasan yang penuh perhatian, seperti yoga dan tai chi. Ini dapat membantu menjernihkan pikiran dan mengekang impuls kenyamanan dari makanan yang menjadi pemicu obesitas.

  3. Mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman juga bisa menjadi salah satu opsi meredakan stres. Sangat baik jika kamu mendapatkan seseorang untuk diajak ngobrol dan berbicara hal-hal yang membuat kamu stres. Sebagai alternatif pereda stres yang lain, kamu juga bisa melakoni hobi seperti membaca, mendengarkan musik, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

Referensi:

Medical News Today. Diakses pada 2020. Chronic stress may raise obesity risk.
WebMD. Diakses pada 2020. Can Stress Cause Weight Gain?
VeryWellMind. Diakses pada 2020. How Stress Can Cause Weight Gain.