Stres pada Anak Bisa Sebabkan Encopresis?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Stres pada Anak Bisa Sebabkan Encopresis?

Halodoc, Jakarta - Tidak sedikit anak kecil yang telah bersekolah mengalami buang air besar (BAB) di celana. Kamu sebagai orangtua pun mungkin akan merasa bingung akan hal tersebut. Padahal, ketika di rumah, kejadian tersebut tidak pernah terjadi satu kali pun dan tidak pernah ada masalah ketika BAB.

Ternyata, gangguan yang terjadi pada anak ibu disebut dengan encopresis. Hal ini terjadi karena terganggunya pencernaan anak, sehingga membuat dirinya buang air besar di celana. Salah satu penyebab terjadinya gangguan tersebut adalah stres. Berikut pembahasan mengenai hal tersebut!

Baca juga: Encopresis Bisa Pengaruhi Kondisi Psikologis Anak

Stres Dapat Sebabkan Encopresis pada Anak-Anak

Encopresis adalah terjadinya pengeluaran tinja ke pakaian secara tidak sengaja. Gangguan ini disebut juga dengan inkontinensia fekal. Hal tersebut umumnya terjadi karena tinja berkumpul di usus besar dan rektum. Akibatnya, usus besar menjadi terlalu penuh dan tinja menjadi bocor lalu menodai pakaian.

Gangguan encopresis dapat menyebabkan retensi tinja pada pengidapnya, sehingga menyebabkan pembengkakan (distensi) pada usus dan kehilangan kontrol terhadap pengaturan usus untuk bergerak. Anak laki-laki lebih berisiko terhadap kelainan ini dibandingkan dengan perempuan.

Encopresis umumnya terjadi pada anak-anak di atas usia 4 tahun, di saat seorang anak sudah belajar untuk menggunakan toilet. Pada kebanyakan kasus, hal ini termasuk dalam gejala konstipasi kronis. Ternyata, hal ini dapat disebabkan oleh perasaan stres yang mungkin disebabkan pelajaran di sekolah.

Bukan tidak mungkin seorang anak mengalami beban pikiran dan kesulitan untuk mengungkapkannya ke orangtua. Perasaan tersebut dapat terjadi karena masalah di sekolah atau di rumah. Rasa stres tersebut membuat usus besar menahan tinja. Ketika terlalu penuh, feses yang cair akan mendorong keluar dan keluar tiba-tiba terkena celana.

Kondisi mental yang menyebabkan seorang anak mengalami gangguan ini adalah stres yang disebabkan faktor emosional. Seorang anak yang mengalami gangguan ini dapat mengalami gangguan psikologis yang semakin parah. Hal tersebut mungkin saja disebabkan oleh ejekan teman-temannya karena buang air besar di celana.

Kamu juga dapat bertanya tentang gangguan encopresis ini pada dokter dari Halodoc agar dapat mengatasinya lebih efektif. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc untuk kemudahan akses kesehatan.

Baca juga: Encopresis Bikin Anak BAB di Celana, Apa Sebabnya?

Diagnosis dari Encopresis

Setiap anak berisiko terhadap encopresis, maka dari itu harus dilakukan diagnosis untuk memastikannya. Cara mendiagnosis gangguan tersebut adalah dengan melihat apakah feses keluar bukan dari anus secara teratur.

Cara lain untuk memastikan anak tersebut mengidap kelainan tersebut adalah dengan mengamati kontrol usus. Hal tersebut dilihat melalui kendali seseorang terhadap otot sfingter yang mungkin menyebabkan hal tersebut. Anak tersebut mungkin saja tidak menyadari hal tersebut karena encopresis dapat terjadi secara tiba-tiba.

Baca juga: 4 Pengobatan Encopresis di Rumah

Pencegahan dari Encopresis

Encopresis mungkin akan membuat orangtua mengalami kesulitan ketika terjadi di tempat umum. Walau begitu, kamu dapat mencegah hal tersebut agar tidak terjadi lagi. Berikut beberapa cara pencegahan tersebut, yaitu:

  • Menghindari Sembelit

Salah satu penyebab terjadinya encopresis adalah terjadinya sembelit. Maka dari itu, kamu harus mengajarkan anak untuk menghindari sembelit. Caranya adalah dengan melakukan diet seimbang dengan konsumsi yang tinggi serat. Selain itu, kamu harus mendorong anak untuk minum air cukup setiap hari.

  • Mempelajari Teknik Pelatihan Toilet

Kamu dapat mengajari anak untuk melakukan teknik pelatihan toilet yang efektif. Selain itu, kamu harus menunggu sampai anak siap dan memberikan dorongan yang positif agar dapat membuat kemajuan. Untuk itu, kamu harus meminta saran profesional agar lebih efektif.

Referensi:
Stanford Children.Diakses pada 2019.Encopresis
Mayo Clinic.Diakses pada 2019.Encopresis