Suhu Makin Dingin di Musim Kemarau, Ini Alasan dan Cara Menghadapinya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Suhu Makin Dingin di Musim Kemarau, Ini Alasan dan Cara Menghadapinya

Halodoc, Jakarta - Musim kemarau di Indonesia berakhir dalam dua bulan lagi. Namun, apakah kamu menyadari bahwa terjadi penurunan suhu yang cukup signifikan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Bandung? Memang, suhu udara di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini selalu sejuk, tetapi beberapa waktu terakhir, Bandung menjadi lebih dingin daripada biasanya, terlebih di malam hari. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan rasa dingin yang muncul di Bandung tidak hanya datang satu atau dua kali, tetapi hingga beberapa kali. Udara yang dingin tetapi kering menjadi ciri khasnya, dan hal ini mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September mendatang. Sebenarnya, apa yang membuat suhu menjadi dingin padahal musim masih kemarau?

Suhu Dingin Terjadi karena Awan

Benarkah demikian? Masih dari BMKG, yang mengungkapkan bahwa pada ketinggian sampai 1,5 kilometer di atas permukaan laut, udara masih didominasi oleh kelembapan yang terbilang tinggi. Ketika kelembapan ini tinggal, awan masih bisa terbentuk bahkan ketika sore hari. Namun, di ketinggian sekitar 3 kilometer di atas permukaan laut, kelembapan semakin berkurang dan didominasi oleh udara kering. 

Baca juga: Jari Sensitif pada Suhu Dingin, Apa Sebabnya?

Pada ketinggian ini, pembentukan awan yang akan turun menjadi hujan potensinya semakin kecil. Hal ini berdampak pada meningkatkan kelembapan di malam hari hingga menjelang pagi atau sampai matahari terbit. Ini yang membuat suhu udara menjadi lebih dingin pada malam dan pagi hari ketika musim kemarau. Bahkan, jauh lebih dingin dibandingkan dengan saat musim penghujan

Wilayah Bandung sendiri memiliki suhu sekitar 13 derajat Celcius untuk lokasi dataran tinggi, seperti misalnya Lembang. Sementara untuk di lokasi dataran rendah, suhunya berada pada kisaran 16 derajat Celcius. Namun, tidak hanya Bandung, ternyata masih ada beberapa daerah lainnya yang mengalami penurunan suhu, termasuk Wamena dan Tretes, juga Ruteng dengan suhu paling rendah sebesar 12 derajat Celcius pada bulan Juli ini. 

Baca juga: Alergi pada Suhu Dingin, Kok Bisa?

Menjaga Kesehatan di Cuaca Ekstrem

Bisa dibilang, menurunnya suhu di beberapa wilayah di Indonesia ini juga menjadi dampak dari cuaca yang terbilang ekstrem. Terkadang, panas matahari bisa begitu terik, sementara beberapa waktu kemudian hujan bisa turun dengan derasnya atau udara menjadi begitu dingin, padahal seharusnya tidak begitu. 

Waspada, karena di cuaca ekstrem ini, ada banyak penyakit yang mengintai tubuh, bahkan beberapa di antaranya termasuk penyakit serius. Tidak hanya flu dan risiko terjatuh yang besar karena jalanan yang menjadi lebih licin, kamu juga bisa mengalami pneumonia, serangan jantung, hipotermia, hingga stroke

Namun, kamu tidak perlu lagi khawatir, karena jika kamu mengalami gejala penyakit tertentu tetapi kamu tidak mengetahui apa yang sedang dialami, kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter tanpa perlu ke luar rumah. Atau, jika kamu ingin beli vitamin, obat, dan melakukan cek lab, aplikasi Halodoc juga bisa kamu pakai. Jangan lupa untuk download aplikasinya dulu, ya!

Baca juga: 4 Alasan Tubuh Bisa Mengidap Alergi Dingin

Lalu, apa lagi yang harus dilakukan? Tentu saja menjaga kesehatan tubuh. Olahraga teratur membantu meningkatkan imunitas tubuh dan menguatkan kerja jantung. Hindari dehidrasi dengan banyak minum air putih. Jangan lupa konsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin. Jika perlu, konsumsi suplemen juga untuk membantu memenuhi asupan nutrisi harian.