18 January 2019

Terlalu Sering ke Gym, Hati-Hati Gejala Bigorexia

Terlalu Sering ke Gym, Hati-Hati Gejala Bigorexia

Halodoc, Jakarta – Terlalu sibuk dengan perkembangan otot mungkin melibatkan gangguan pada citra tubuh yang mirip dengan anoreksia, namun pada hal ini disebut dengan bigorexia (muscle dysmorphia). Sindrom ini lebih sering memengaruhi laki-laki.

Tanda awalnya adalah ketika seseorang terlalu menyibukkan diri dengan menghabiskan waktu ke gym, sehingga melewatkan kewajibannya seperti pekerjaan, bahkan mengabaikan rasa sakit dan lelah akibat berolahraga.

Selain itu, gejala utama dari bigorexia adalah pikiran bahwa sekeras apa pun kamu mencoba, tubuhmu tidak pernah cukup berotot. Kondisi ini juga kerap dialami binaragawan laki-laki dan perempuan. Kebanyakan pria dengan bigorexia adalah atlet angkat besi, namun ini tidak berarti bahwa sebagian besar atlet angkat berat adalah orang-orang besar.

Bila dibandingkan dengan atlet angkat besi normal yang melaporkan menghabiskan hingga 40 menit sehari memikirkan perkembangan tubuh, pengidap bigorexia dilaporkan sibuk 5 jam atau lebih sehari berpikir tubuh mereka kurang berkembang.

Baca juga: 8 Gangguan Makan yang Merugikan Kesehatan

Para pria dengan bigorexia lebih sering mematut diri ke cermin, bahkan bisa sampai belasan kali untuk memeriksa apakah bentuk tubuhnya masih sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.  Diet ketat juga menjadi faktor penting bagi pengidap bigorexia.

Pengidapnya sangat jarang makan di luar demi mengontrol keseimbangan makanan atau tahu persis apa yang telah terjadi dalam persiapan makanan. Tidak menutup kemungkinan akibat dari bigorexia bisa berujung pada bulimia dengan kecenderungan perhatian khusus pada penambahan lemak tubuh bukan ke berat badan.

Tanda lain yang menunjukkan gejala bigorexia adalah kecenderungan untuk terus membandingkan bentuk tubuh. Bahkan, ketika mengamati laki-laki dengan ukuran tubuh yang sama pengidapnya cenderung menilai dirinya lebih kecil dan selalu ada yang kurang dari fisiknya.

Penggunaan steroid anabolik adalah umum di kalangan pengidap bigorexia. Karenanya, situasi ini memberikan efek samping lain, yaitu peningkatan agresi, jerawat, pembesaran payudara, impotensi, kebotakan, dan penyusutan testis.

Baca juga: Inilah 6 Makanan yang Tren di 2019

Kondisi Psikologis Pengidap Bigorexia

Pengidap bigorexia yang bukan binaragawan punya kecenderungan memiliki rasa percaya diri rendah, sehingga menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan sosial. Bahkan, banyak yang bersembunyi selama berhari-hari, karena malu dengan bentuk tubuhnya. Situasi ini sangat memengaruhi  secara psikologis. Termasuk menghindari hubungan intim dengan pasangannya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Roberto Olivardia, PhD, psikologis dari McLean Hospital, menemukan fakta bahwa 29 persen laki-laki dengan bigorexia memiliki riwayat gangguan kecemasan dan 59 persen lainnya menunjukkan beberapa bentuk gangguan mood.

Perawatan untuk bigorexia kerap kali mengalami hambatan karena pengidapnya merasa tidak memiliki gangguan apapun. Kondisi ini sendiri terjadi sebagian sebagai respons terhadap perasaan depresi dan kurangnya penghargaan terhadap diri, sehingga datang untuk melakukan perawatan sama saja “kalah”.

Baca juga: Intip Metode Diet Terbaik yang Bisa Dicoba di 2019

Teknik kognitif-perilaku di mana menempatkan penekanan pada identifikasi diri dan mengubah pola berpikir menuju tujuan yang lebih realistis, sejatinya dapat menjadi perawatan yang efektif. Sebagai langkah pengobatan yang lebih intens lagi, biasanya dokter akan memberikan obat antidepresan yang disebut selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs).

Ketika digunakan dalam kombinasi, SSRI dan CBT dapat secara efektif mengobati gejala-gejala muscle dysmorphia dan mengurangi pikiran-pikiran obsesif tentang penampilan mereka. Pendekatan perawatan ini juga membantu orang mendapatkan lebih banyak kontrol atas perilaku kompulsif mereka, seperti berolahraga berlebihan atau mematut diri di cermin.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai bigorexia serta bagaimana gejala dan penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.