Tes untuk Mendiagnosis Tarsal Tunnel Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Tes untuk Mendiagnosis Tarsal Tunnel Syndrome

Halodoc, Jakarta - Tarsal tunnel syndrome terjadi ketika saraf tibialis posterior yang berada di sepanjang bagian dalam pergelangan kaki memadat dan rusak, sehingga menyebabkan terjadinya peradangan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penggunaan berlebihan pada kaki dan pergelangan kaki, seperti berjalan, berlari, berdiri, atau berolahraga berat dan terlalu sering, juga dalam waktu lama. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi karena cedera mendadak.

Para atlet menjadi orang-orang yang berisiko mengalami kelainan yang terbilang langka ini. Pasalnya, mereka menggunakan kaki dalam waktu lama dan cenderung berlebihan, juga sangat sering. Kurangnya waktu untuk mengistirahatkan kaki dan penggunaannya yang berkepanjangan membuat tarsal tunnel syndrome rentan terjadi. Meski jarang terjadi, kelainan ini juga bisa menyerang anak-anak. 

Bagaimana Diagnosis Tarsal Tunnel Syndrome?

Jika kamu merasa memiliki tarsal tunnel syndrome, segera periksakan ke dokter sehingga identifikasi penyebab dan penanganan yang tepat bisa dilakukan. Kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter ahli bedah ortopedi atau ahli penyakit kaki di rumah sakit yang terdekat dengan lokasi. 

Baca juga: Begini Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Terkilir

Pada tahap awal, dokter akan bertanya mengenai perkembangan gejala yang terjadi sekaligus riwayat medis kamu, seperti apakah pernah terjadi cedera atau trauma pada area kaki yang terindikasi tarsal tunnel syndrome. Kemudian, dokter memeriksa pergelangan kaki dan kakimu untuk mencari karakteristik fisik yang bisa mengindikasikan kelainan ini. Kemungkinan, dilakukan pemeriksaan tinel yang melibatkan ketukan di saraf tibialis dalam ritme yang lembut. Jika kamu mengalami sensasi kesemutan atau mati rasa selama saraf diketuk, gejala ini mengarah pada tarsal tunnel syndrome.

Dokter bisa melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebab lain yang mungkin turut mendasari terjadinya kelainan tersebut. Pemeriksaan ini termasuk elektromiografi yang merupakan tes untuk mendeteksi adanya disfungsi saraf. Dokter juga akan menggunakan pemeriksaan MRI jika dicurigai ada pertumbuhan massa atau tulang yang memicu terjadinya sindrom ini. 

Baca juga: Kapan Atlet Harus ke Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga?

Bisakah Tarsal Tunnel Syndrome Mengakibatkan Komplikasi?

Tarsal tunnel syndrome menyebabkan rasa sakit di bagian dalam pergelangan kaki dan kaki bagian bawah, meski pada beberapa kondisi, dampak bisa dirasakan pada bagian jari kaki. Jika sindrom ini tidak diobati, kerusakan saraf permanen dan ireversibel sangat mungkin terjadi. Oleh karena kerusakannya memengaruhi bagian kaki, kamu bisa mengalami kesulitan berjalan atau beraktivitas dengan normal. 

Bagaimana Penanganan Tarsal Tunnel Syndrome?

Sebenarnya, mengistirahatkan kaki dari aktivitas berat dan berlebihan adalah cara paling baik mengobati dan mencegah tarsal tunnel syndrome berkembang menjadi lebih buruk. Hindari berolahraga ketika kamu berada dalam masa pengobatan, supaya penyembuhannya lebih cepat. Untuk mengurangi pembengkakan yang mungkin terjadi, kompres area yang sakit dengan es batu selama 20 menit. Beri jeda waktu hingga 40 menit sebelum mengulangi kompres kembali. 

Jika kamu merasa nyeri, tidak ada salahnya untuk mengonsumsi obat pereda nyeri. Namun, pastikan kamu sudah mendapatkan dosisnya dari dokter ya. Jika memang perlu, pemasangan gips mungkin dilakukan, supaya jaringan dan saraf pada bagian kakimu kembali aktif. Terutama yang perlu kamu lakukan adalah membatasi pergerakan kaki dari aktivitas berat. 

Baca juga: 4 Fakta Hamstring yang Sering Menimpa Atlet

Referensi: 
Healthline. (Diakses pada 2019). Recognizing and Treating Tarsal Tunnel Syndrome. 
Medical News Today. (Diakses pada 2019). What to Know about Tarsal Tunnel Syndrome.
Foot Health Facts. (Diakses pada 2019). Tarsal Tunnel Syndrome.