Toxic Shock Syndrome Bisa Terjadi karena Tampon dan Pembalut

Toxic Shock Syndrome Bisa Terjadi karena Tampon dan Pembalut

Halodoc, Jakarta – Pernah dengar toxic shock syndrome? Penyakit ini tergolong langka dan diakibatkan oleh racun dari bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Kabar buruknya, penyakit ini sangat rentan menyerang wanita. Kok bisa?

Baca juga: Lebih Lengkap tentang Mitos & Fakta Menstruasi

Toxic shock syndrome merupakan jenis penyakit yang terjadi karena masuknya racun dari bakteri ke pembuluh darah. Racun tersebut akan mengaktivasi sel-sel peradangan dalam sirkulasi darah dan menyebabkan berbagai gejala. Risiko penyakit ini menjadi lebih besar pada wanita, sebab wanita mengalami menstruasi setiap bulannya. 

Siklus haid yang terjadi pada wanita bisa dimanfaatkan oleh bakteri untuk masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Meski begitu, penyakit ini sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja  dan di usia berapapun.

Penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Toxic shock syndrome yang tidak ditangani dengan segera bisa berakibat fatal, bahkan mengancam nyawa. Sebaliknya, jika penyakit ini dideteksi sedini mungkin dan segera ditangani, toxic shock syndrome bisa disembuhkan. Dan ternyata, penggunaan tampon serta pembalut pada wanita bisa menjadi meningkatkan risiko serangan penyakit ini. 

Baca juga: 7 Tanda Haid Tidak Normal yang Harus Kamu Waspadai

Pembalut dan tampon merupakan “kebutuhan” setiap wanita yang tengah menjalani siklus menstruasi. Risiko menjadi lebih besar pada pengguna tampon, sebab ada kemungkinan serpihan tampon tertinggal di dalam Miss. V dalam waktu yang lama dan akhirnya memicu pertumbuhan bakteri. Selain itu, tampon yang menempel di dinding Miss. V bisa menyebabkan iritasi berujung luka yang kemudian dimanfaatkan bakteri untuk tumbuh. Selain penggunaan tampon dan pembalut, ada faktor-faktor lainnya yang bisa menyebabkan seseorang terkena penyakit ini, di antaranya: 

  • Bayi baru lahir 

  • Terdapat luka di bagian tubuh, termasuk luka bakar dan luka terbuka 

  • Baru saja menjalani operasi dan mengalami infeksi 

  • Pengguna alat kontrasepsi berupa diafragma, yaitu alat kontrasepsi berbentuk kubah yang terbuat dari karet atau silikon yang dimasukkan kedalam vagina untuk menutupi mulut rahim agar menghalangi masuknya sperma.

  • Mengalami penyakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus atau Streptococcus, misalnya radang tenggorokan, impetigo, ataupun selulitis. 

Meski begitu, sebenarnya toxic shock syndrome bukan merupakan penyakit yang menular dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit ini lebih mudah menyerang orang yang memiliki kekebalan tubuh rendah, dan jika sudah terserang satu kali, seseorang bisa mengalami penyakit ini lagi hingga berkali-kali. Penyakit ini harus diwaspadai. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika merasa mengalami penyakit ini. 

Toxic shock syndrome sering ditandai dengan gejala berupa demam, muntah, diare, kulit terasa panas, sakit kepala, mata merah, serta nyeri pada otot-otot. Penyakit ini juga bisa menyebabkan tekanan darah menurun, sensitif terhadap cahaya, rasa sakit di seluruh tubuh, hingga gangguan pada fungsi ginjal. 

Mencegah penyakit ini bisa dilakukan dengan menghindari terjadinya infeksi, sehingga bakteri tidak bisa mengeluarkan racun yang menyebabkan penyakit. Saat sedang haid, terutama jika kamu menggunakan tampon, pastikan untuk rutin mengganti setidaknya setiap 4 jam sekali atau saat sudah dirasa tidak nyaman. Hal ini dilakukan untuk menghindari bakteri tumbuh di Miss. V dan berujung pada penyakit toxic shock syndrome. 

Baca juga: Harus Tahu, Masalah Menstruasi yang Enggak Boleh Diabaikan

Masih penasaran seputar penyakit toxic shock syndrome dan risikonya pada pengguna tampon dan pembalut? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!