Vape Bisa Sebabkan Paru-Paru Basah, Mitos atau Fakta

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Vape Bisa Sebabkan Paru-Paru Basah, Mitos atau Fakta

Halodoc, Jakarta – Menurut European Respiratory Journal, E-cigarette atau vape dapat meningkatkan kerentanan terhadap bakteri penyebab pneumonia atau paru-paru basah.  Disebutkan dalam penelitian tersebut, vape bisa mengandung radikal bebas yang berpotensi memicu stres oksidatif.

Stres oksidatif dalam sel-sel yang melapisi saluran udara meningkatkan produksi protein yang disebut ekspresi platelet-activating factor receptor (PAFR), yang digunakan oleh bakteri pneumokokus untuk menempel pada jalan napas, meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, para peneliti berhipotesis bahwa uap vape dapat meningkatkan adhesi pneumokokus ke sel saluran napas yang mengakibatkan kerentanan terhadap infeksi.

Baca juga: Lebih Bahaya Mana, Mengisap Vape atau Rokok Tembakau?

Jonathan Grigg, profesor kedokteran pernapasan anak dan lingkungan dari Queen Mary University, London mengatakan, bakteri pneumokokus bisa ada di saluran udara kita tanpa menyebabkan penyakit, namun dalam beberapa kasus, mereka dapat menyerang sel-sel lapisan yang menyebabkan pneumonia atau septicemia.

Paparan asap rokok tradisional membantu bakteri ini menempel pada sel-sel saluran napas, yang meningkatkan risiko infeksi. Bagaimana dengan vape? Ternyata dalam studi yang dilakukan  ditemukan bahwa vape, baik yang mengandung nikotin maupun bebas nikotin dapat meningkatkan adhesi pneumokokus pada sel-sel saluran napas secara in vitro.

Sehingga, membuat saluran udara lebih rentan terhadap bakteri yang menempel pada sel-sel saluran udara. Ini terjadi ketika mengisap vape bisa terpapar bakteri pneumokokus yang dapat meningkatkan risiko infeksi.

Baca juga: Setelah Berhenti Merokok, Tubuh Tidak Langsung Bersih

Walaupun begitu, pendapat berbeda datang dari Profesor Mina Gaga, President of the European Respiratory Society, and Medical Director dan Head of the Respiratory Department of Athens Chest Hospital, yang mengatakan kalau vape ini masih sesuatu yang baru, sehingga butuh penelitian lebih lanjut bagaimana vape bisa memengaruhi tubuh dan kesehatan manusia.

Mengenal Pneumonia atau Paru-Paru Basah

Pneumonia adalah penyakit paru-paru yang ditandai oleh radang udara di paru-paru paling sering karena infeksi. Pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, atau jamur; lebih jarang karena sebab lain.

Jenis bakteri yang paling umum yang menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae. Tanda dan gejala pneumonia, termasuk demam, panas dingin, batuk, napas pendek, dan kelelahan.

Antibiotik mengobati pneumonia dengan mengendalikan infeksi bakteri atau jamur. Pilihan awal antibiotik tergantung pada organisme yang diduga menyebabkan infeksi serta pola resistensi antibiotik lokal.

Pneumonia bisa berakibat fatal hingga 30 persen dari kasus parah yang dikelola dalam pengaturan perawatan intensif. Komplikasi pneumonia, meliputi sepsis, efusi pleura, dan empiema. Influenza dan pernapasan virus (RSV) adalah penyebab virus pneumonia yang paling umum. Obat antivirus dapat digunakan untuk mengobati pneumonia yang disebabkan oleh beberapa jenis virus.

Baca juga: 5 Manfaat Kunyit Putih untuk Kesehatan

Sebagian besar jenis pneumonia bakteri tidak sangat menular, namun tuberkulosis dan Mycoplasma pneumonia adalah pengecualian. Rontgen dada biasanya dilakukan untuk mendiagnosis pneumonia.

Faktor risiko untuk pneumonia, termasuk usia di atas 65 atau di bawah 2 tahun, memiliki kondisi medis kronis tertentu (misalnya, sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit paru-paru yang mendasarinya, merokok, alkoholisme, dan masalah neurologis), atau cedera yang berkelanjutan yang mengganggu menelan atau batuk. Vaksinasi tersedia terhadap beberapa organisme umum yang diketahui menyebabkan pneumonia.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai hubungan antara paru-paru basah dan vape, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.