Viral Wanita yang Bertahan dengan Pasangan Positif HIV 

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Viral Wanita yang Bertahan dengan Pasangan Positif HIV 

Halodoc, Jakarta – Cuitan seorang wanita yang mengaku menikah dengan pengidap HIV viral di media sosial (medsos) Twitter. Melalui akun @suamikuhivpoz, wanita tersebut mengaku sudah menikah selama 6 tahun dan hingga kini tidak tertular HIV dari pasangannya. Postingan tersebut, kemudian menarik perhatian pengguna internet dan dibagikan ulang oleh ribuan akun di media sosial. 

Selama ini, infeksi penyakit ini hampir selalu ditakuti dan sering mendapat pandangan negatif. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang mengidap HIV disebut bisa meningkatkan risiko tertular penyakit yang sama. Meski begitu, ternyata penularan virus tetap bisa dicegah seperti pada pasangan viral ini. Biar lebih jelas, simak tips hidup dan “berdamai” dengan pasangan yang mengidap HIV berikut! 

Baca juga: Hubungan Intim Sehat, Cari Tahu Gejala HIV/AIDS

Hidup dengan Pasangan yang Mengidap HIV 

Human Immunodeficiency Virus (HIV) bisa menginfeksi manusia dan merusak sistem kekebalan tubuh. Virus ini menyerang dengan cara menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Saat sudah menginfeksi, virus bisa menghancurkan semakin banyak sel sehingga kekebalan tubuh akan semakin lemah, dan pada akhirnya menjadi rentan diserang berbagai penyakit. Kabar buruknya, hingga kini masih belum ada pengobatan yang bisa mengatasi penyakit ini. 

Selain tidak bisa diobati, HIV juga diketahui sangat mudah menular terutama melalui hubungan seksual. Namun, baru-baru ini seorang wanita membagikan pengalamannya menikah dengan pengidap HIV dan tidak tertular virus. Cerita tersebut dia bagikan melalui media sosial, dia mengaku sudah 6 tahun menikah dengan pengidap HIV. Nyatanya, penularan HIV memang bisa dicegah, salah satunya dengan melakukan hubungan intim yang aman dengan pasangan. 

Risiko penularan virus dari pasangan yang positif HIV sangatlah besar. Namun, hal ini ternyata bisa dihindari dan ditekan risikonya selama kamu dan pasangan melakukan hubungan seksual dengan aman. Penggunaan kondom saat berhubungan intim menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah penyakit. Kondom menjadi satu hal yang wajib saat kamu memiliki pasangan dengan infeksi penyakit ini.

Baca juga: Cari Tahu 5 Hal Mengenai HIV AIDS

Jika digunakan dengan benar, kondom disebut bisa mengurangi risiko penularan HIV secara efektif. Penularan HIV pada wanita bisa ditekan hingga 73 persen dan 63 persen pada pria hanya dengan selalu menggunakan kondom saat berhubungan intim. Selain itu, kamu dan pasangan juga disarankan untuk menggunakan pelumas. Hal ini bertujuan untuk mencegah kondom robek akibat tekanan gesekan saat digunakan. 

Saat memiliki pasangan yang positif HIV, pastikan untuk rutin melakukan pengobatan. Meski tidak bisa disembuhkan, penyakit ini tetap harus mendapat penanganan medis untuk mengurangi gejala dan mencegah perkembangan virus. Pengobatan yang rutin dilakukan nyatanya bisa membantu menekan dan mencegah bertambahnya jumlah virus di dalam tubuh. Orang yang mempertahankan tingkat HIV tetap rendah disebut tidak memiliki risiko menginfeksi pasangannya

Tak hanya pada pengidap HIV, pengobatan juga perlu dilakukan pada orang yang memiliki risiko tinggi mengalami penularan, termasuk pasangan. Dalam hal ini, pengobatan dilakukan dengan konsumsi jenis obat tertentu yang bisa membantu mencegah penularan infeksi virus pada orang yang memiliki risiko tinggi. Selain pengobatan, pastikan juga untuk selalu rutin melakukan pemeriksaan kesehatan bersama pasangan.

Baca juga: 5 Kondisi Ini Bisa Dideteksi Melalui Cek Pranikah

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
WHO. Diakses pada 2019. Living with HIV when one partner is positive and the other is negative.
Everyday Health. Diakses pada 2019. Sexual Intimacy With an HIV-Positive Partner.