3 Gejala Hipotermia yang Dialami Pendaki Gunung

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
3 Gejala Hipotermia yang Dialami Pendaki Gunung

Halodoc, Jakarta - Seseorang yang menyukai petualangan umumnya hobi untuk melakukan naik gunung. Hal tersebut menimbulkan suatu kesenangan tersendiri, terutama ketika mencapai puncak gunung. Walau begitu, saat mendaki gunung, kamu bisa mengalami hipotermia.

Gangguan ini menyebabkan suhu tubuh menurun drastis. Jika hipotermia tidak diatasi, kamu dapat mengalami gangguan pada fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya. Ketika terjadi, penurunan suhu tubuh secara drastis tersebut menimbulkan beberapa gejala. Berikut ini gejala yang mungkin ditimbulkan!

Baca juga: Bukan Hanya Udara Dingin, Ini Penyebab Lain Hipotermia

Gejala Hipotermia saat Naik Gunung

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh mengalami penurunan suhu yang menyebabkan bahaya. Hal ini umumnya disebabkan oleh paparan suhu dingin terus-menerus seperti saat naik gunung. Rata-rata suhu tubuh manusia adalah 37 derajat Celcius, jika mengalami hipotermia dapat turun hingga di bawah 35 derajat Celcius dan bahkan lebih.

Saat hipotermia terjadi, sebagian besar panas tubuh hilang bahkan hingga 90%. Panas tersebut keluar melalui kulit dan menghembuskannya melalui napas dari paru-paru. Kehilangan panas lewat kulit mempercepat bagian tersebut terkena angin atau mengalami kelembapan yang menyebabkan bertambah dingin.

Pusat kontrol untuk mengatur suhu pada otak atau hipotalamus berusaha menaikkan suhu tubuh dengan memicu proses pemanasan pada tubuh. Selama terpapar suhu dingin, menggigil adalah sebuah respon dari tubuh untuk menghasilkan panas melalui aktivitas otot. Hal ini menyebabkan pembuluh darah menyempit sementara.

Terdapat cara untuk mengklasifikasi hipotermia yang menyerang dengan melihat gejalanya. Hipotermia yang terjadi dapat dalam tahap ringan, sedang, hingga berat. Tiap tahap tersebut menunjukkan gejala hipotermia saat naik gunung yang berbeda-beda. Berikut gejala yang mungkin timbul pada tiap tahapan hipotermia, yaitu:

  1. Hipotermia Ringan

Salah satu jenis hipotermia yang dapat terjadi pada kamu adalah tahap ringan. Gejala dari hipotermia saat naik gunung yang umum terjadi adalah menggigil. Kondisi ini membuat tubuh kamu menghangatkan tubuh secara alami yang merupakan gejala dari hipotermia ringan.

Jenis gangguan ini dapat diobati dengan mudah. Kamu harus mencari tempat berlindung, menggunakan pakaian yang lebih tebal, dan mengonsumsi makanan dengan energi tinggi dan minuman hangat. Jika hal tersebut telah dilakukan, pengidapnya sudah dapat menuruni gunung tanpa bantuan tambahan.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait gangguan ini, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! Selain itu, kamu dapat membeli obat melalui online untuk mencegah gejala hipotermia saat naik gunung saat melakukannya melalui aplikasi tersebut.

Baca juga: Alami Hipotermia, Beginilah Cara untuk Mengatasinya

  1. Hipotermia Sedang

Pada tahapan ini, pengidapnya sudah tidak dapat berhenti menggigil yang merupakan gejala hipotermia saat naik gunung. Saat ini terjadi, energi tubuh telah menipis dan tidak menemukan cara untuk memanaskan tubuh dari dalam. Kamu mungkin kesulitan untuk bicara dan mudah kehilangan keseimbangan.

Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan halusinasi, sehingga orang tersebut mungkin melepaskan pakaiannya. Walau begitu, lebih banyak orang yang masih sadar dan menggunakan pakaian yang lebih tebal. Tetapi, jantung kamu mengalami fibrilasi dan dapat mengalami kolaps.

Baca juga: Ini Pertolongan Pertama untuk Tangani Hipotermia

  1. Hipotermia Berat

Seseorang yang mengalami suhu tubuh di bawah 32 derajat Celcius, maka sudah dalam keadaan serius. Gejala dari hipotermia saat naik gunung ini dapat menyebabkan gangguan serius pada fibrilasi ventrikel di jantung. Hal ini menyebabkan irama jantung tidak normal dan dapat mengancam nyawa.

Itulah gejala hipotermia yang sebaiknya diwaspadai oleh pendaki gunung. Segera lakukan penanganan pertama agar kondisi tubuh segera dapat dihangatkan dan tidak terjadi komplikasi yang membahayakan. 

Referensi:
Mountain Trails.Diakses pada 2019.What you need to know about hypothermia and the mountains.
WebMD.Diakses pada 2019.Hypothermia