• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Tes yang Dilakukan untuk Mendeteksi Feokromositoma

3 Tes yang Dilakukan untuk Mendeteksi Feokromositoma

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Tubuh memiliki dua kelenjar adrenal yang berfungsi untuk menghasilkan hormon yang bertugas untuk memberikan instruksi pada organ dan jaringan tubuh. Hormon ini bertugas untuk mengatur fungsi tubuh yang vital, termasuk tekanan darah, respon stres, kadar gula darah, respon imun tubuh, metabolisme, dan detak jantung. 

Feokromositoma mengacu pada tumor langka yang tumbuh di sel di tengah kelenjar adrenal, mengakibatkan kelenjar adrenal membuat terlalu banyak hormon norepinefrin dan epinefrin. Hormon ini mengendalikan detak jantung, metabolisme, tekanan darah, dan respon stres tubuh. Sayangnya, jumlahnya yang berlebihan membuat tubuh dalam keadaan stres-respon, yang berakibat pada meningkatnya tekanan darah.

Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Feokromositoma

Dilansir dari laman Healthline, feokromositoma dikaitkan dengan kondisi kurangnya pasokan oksigen atau hipoksia, yang terjadi karena hipertensi berat dan penyakit jantung bawaan. Masalah ini juga diwariskan secara genetik dan bisa terjadi pada usia berapa saja, meski lebih sering terjadi pada usia dewasa awal hingga menengah. 

Baca juga: 6 Hal yang Perlu Diketahui tentang Pheochromocytoma

Untuk mendiagnosis adanya feokromositoma dalam tubuh, dokter melakukan beberapa pemeriksaan, dikutip dari Mayo Clinic, yaitu:

Tes Laboratorium

Tes lab yang dianjurkan meliputi pemeriksaan urine dalam 24 jam. Kamu diminta untuk mengumpulkan sampel urine setiap buang air kecil selama 24 jam. Selain itu, dokter akan melakukan pengambilan sampel darah. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengukur kadar adrenalin, noradrenalin atau produk sampingan hormon yang berada dalam tubuh. 

Supaya lebih mudah dalam pengambilan sampel laboratorium, kamu bisa memanfaatkan layanan Cek Lab yang ada di aplikasi Halodoc. Jika kamu ingin melakukan pemeriksaan laboratorium di rumah sakit sekaligus mendapatkan diagnosis yang pasti, kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc dengan membuat janji terlebih dahulu di rumah sakit terdekat. Caranya sangat mudah, kamu hanya perlu download aplikasinya di ponsel. 

Baca juga: Hati-Hati, Feokromositoma Bisa Sebabkan Kerusakan Saraf Mata

Tes Pencitraan

Apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya indikasi feokromositoma, kamu disarankan untuk melakukan pemeriksaan pencitraan atau imaging test untuk mendeteksi keberadaan tumor, di antaranya:

  • CT Scan;
  • MRI;
  • MIBG (M-iodobenzylguanidine) untuk mendeteksi sejumlah kecil senyawa radioaktif yang disuntikkan yang ditangkap oleh feokromositoma;
  • PET.

Pemeriksaan Genetik

Pemeriksaan ini dilakukan apabila ada salah satu anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengidap penyakit yang sama. Informasi tentang faktor genetik ini sangat penting, karena:

  • Beberapa kelainan bawaan dapat menyebabkan kondisi lain yang nantinya mungkin diperlukan adanya skrining tambahan.
  • Beberapa kelainan lebih cenderung bersifat berulang atau bersifat kanker, sehingga hasil pemeriksaan bisa membantu menentukan jenis perawatan yang nantinya akan dilakukan.
  • Hasil pemeriksaan mungkin akan mengarah pada perlunya anggota keluarga lainnya untuk melakukan pemeriksaan yang sama untuk menghindari faktor risiko. 

Baca juga: Bagaimana Cara Mencegah Pheochromocytoma?

Kamu perlu tahu bahwa beberapa pengidap penyakit ini memiliki tekanan darah tinggi sepanjang waktu. Namun, beberapa pengidap juga menunjukkan gejala tekanan darah tinggi yang naik dan turun. Tekanan darah tinggi menjadi gejala utama dari feokromositoma.

Namun, dilansir dari WebMD, ada gejala lain yang harus diketahui, seperti sembelit, mual, tremor, sesak napas, kulit memucat, lemah, sakit perut, sakit kepala yang parah, hingga detak jantung yang tidak biasa. 

Gejala tersebut bisa datang secara mendadak yang terjadi seperti serangan dengan frekuensi beberapa kali dalam sehari. Namun, gejala bisa juga terjadi hanya beberapa kali dalam hitungan bulan. Sayangnya, apabila tumor berkembang, gejalanya bisa terjadi lebih kuat dan lebih sering. 

Sumber: 
Healthline. Diakses pada 2020. Pheochromocytoma.
WebMD. Diakses pada 2020. Pheochromocytoma.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Pheochromocytoma.