4 Kondisi Medis yang Sebabkan Inkontinensia BAK Meningkat

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
4 Kondisi Medis yang Sebabkan Inkontinensia BAK Meningkat

Halodoc, Jakarta - Semakin bertambah usia, semakin rentan tubuh untuk terserang penyakit. Imunitas tubuh mengalami penurunan, sel, jaringan, dan organ semakin mengalami penurunan fungsi. Jadi, sudah sepantasnya bagi orang-orang yang berusia lanjut untuk menjaga kesehatan, baik dari pola hidup maupun pola makan. Selain jantung atau stroke, penyakit lain yang rentan dialami lansia adalah inkontinensia urine.

Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keinginan buang air kecil, sehingga tak jarang seseorang mengompol. Kelainan ini sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Kondisi ini tidak termasuk kondisi yang berbahaya, tetapi dampak yang ditimbulkan bagi pengidapnya buruk untuk kehidupan sosial dan kondisi psikologisnya. 

Baca juga: Latihan Kegel untuk Cegah Inkontinensia Alvi, Benarkah?

Apa yang Menyebabkan Intensitas BAK Meningkat?

Intensitas BAK cenderung mengalami peningkatan pada pengidap inkontinensia urin, sehingga seseorang menjadi sangat sulit untuk menahan keinginan buang air kecil. Penyebabnya ternyata beragam, beberapa di antaranya disebabkan karena kondisi medis tertentu, seperti:

  • Tekanan pada Kandung Kemih yang Menyebabkan Mengompol

Kondisi ini dikenal dengan stress incontinence, terjadi ketika kandung kemih mengalami tekanan, seperti misalnya ketika kamu tertawa, batuk, bersin, atau sedang mengangkat benda berat. Inkontinensia jenis ini terjadi karena otot pada saluran kemih yang terlalu lemah untuk menahan urin ketika mendapat tekanan. Perlemahan pada otot kemih sendiri bisa terjadi karena persalinan, berat badan berlebih, dan kerusakan pada saluran kemih. 

  • Tidak Bisa Menahan Keinginan untuk Buang Air Kecil 

Ketika intensitas BAK meningkat, seseorang tidak mampu menahan keinginan untuk buang air kecil. Ini disebut dengan urge incontinence, biasanya karena stroke, Alzheimer, dan penyakit diabetes. Bahkan, perubahan posisi tubuh atau mendengar suara aliran membuat pengidapnya selalu ingin buang air kecil. Sebenarnya, tidak masalah jika ada toilet. Namun, jika keinginan tersebut muncul dan pengidap tidak bisa menemukan toilet terdekat, ini akan membuat mengompol. Jadi, disarankan untuk memakai popok untuk mengantisipasi keinginan buang air kecil yang tidak tertahankan. 

Baca juga: Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Inkontinensia Alvi

  • Mengompol Tiba-Tiba

Pengidap bisa mengompol dalam jumlah sedikit, tetapi terjadi tanpa gejala. Overflow incontinence, begitu kondisi ini disebut dalam istilah medis, terjadi karena kandung kemih tidak bisa berada dalam keadaan kosong sepenuhnya, sehingga masih ada sisa urin yang dikeluarkan dengan cara mengompol. Retensi urine kronis yang menyebabkan kandung kemih tidak bisa dikosongkan bisa disebabkan karena ada penyumbatan pada kandung kemih yang dipicu karena pembesaran prostat, batu pada kandung kemih, sembelit, atau tumor. 

  • Tidak Bisa Menahan Urine Sama Sekali

Inkontinensia total terjadi ketika pengidap tidak mampu menahan urin sama sekali, karena ketidakmampuan kandung kemih dalam melakukan tugasnya untuk menahan urin. Jika intensitas BAK meningkat, pengidap tentu terus mengompol. Kondisi ini terjadi karena adanya kelainan panggul atau struktur pada kandung kemih sejak lahir, cedera pada saraf tulang belakang, atau adanya lubang di antara kandung kemih dan organ sekitar, termasuk vagina. 

Baca juga: Bahaya Infeksi Saluran Kemih yang Diabaikan

Oleh karena menjadi kondisi yang serius bagi sebagian orang, inkontinensia urin harus segera mendapatkan penanganan. Terutama jika pengidap mengalami kesemutan, gangguan bicara dan berjalan, tubuh lemas, penglihatan mengabur, hingga penurunan kesadaran. Segera buat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat agar penanganan bisa dilakukan dan komplikasi bisa dicegah.


Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Diseases. Urinary Incontinence.
Healthline. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Urinary Incontinence.