Fatal, Ini 6 Komplikasi Akibat Nekrolisis Epidermal Toksik

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Fatal, Ini 6 Komplikasi Akibat Nekrolisis Epidermal Toksik

Halodoc, Jakarta - Meski tergolong gangguan kulit yang jarang terjadi, nekrolisis epidermal toksik dapat berujung fatal. Bahkan komplikasi nekrolisis epidermal toksik dapat membahayakan nyawa, ketika pengidapnya kehilangan lapisan luar kulit. Kondisi ini membuat kulit terlihat seperti luka bakar yang tersebar ke seluruh tubuh.

Nekrolisis epidermal toksik dapat dialami siapapun secara tidak terduga. Biasanya penyakit ini muncul akibat pemakaian obat baru. Selain akibat reaksi pemakaian obat, infeksi seperti bakteri mikoplasma atau HIV juga dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik.

Reaksi nekrolisis epidermal toksik juga dapat timbul akibat imunisasi, serta transplantasi sumsum tulang atau organ lain, walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kendati demikian, dalam beberapa kasus nekrolisis epidermal toksik, penyebabnya tidak dapat ditemukan.

Baca juga: Sembarangan Minum Obat, Hati-Hati Hepatitis Toksik

Gejala Awalnya Mirip Flu

Nekrolisis epidermal toksik memiliki gejala awal yang mirip dengan flu atau infeksi saluran pernapasan bagian atas, seperti demam melebihi 39 derajat celsius, sakit tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal ini biasanya berlangsung selama beberapa hari.

Selanjutnya, gejala yang muncul adalah berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh.

Luka lepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga  menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar. Selain pada kulit, muncul juga gejala pada bagian tubuh yang lain, seperti pada:

  • Mata, sehingga mata menjadi merah atau sensitif terhadap cahaya.

  • Mulut atau bibir, di mana bibir terlihat merah, berkerak, atau sariawan.

  • Tenggorokan dan kerongkongan, yang dapat menimbulkan kesulitan menelan.

  • Saluran kencing dan kelamin, yang dapat menyebabkan gejala retensi urine dan luka.

  • Saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan batuk dan sesak napas.

  • Saluran pencernaan, yang menimbulkan gejala diare.

Baca juga: Nekrolisis Termasuk Penyakit Serius, Kenali 5 Gejalanya

Disebabkan oleh Reaksi Hipersensitivitas Sistem Imun

Nekrolisis epidermal toksik diduga terjadi karena reaksi sensitivitas berlebihan (hipersensitivitas) dari sistem imun terhadap racun yang terakumulasi pada kulit karena penggunaan atau konsumsi obat. Belum jelas bagaimana mekanisme obat tersebut dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik.

Reaksi hipersensitivitas obat hingga memunculkan nekrolisis epidermal toksik biasanya berlangsung setelah beberapa hari hingga dua bulan pemakaian obat baru. Obat yang berperan memunculkan penyakit ini terjadi pada obat dengan waktu paruh yang panjang, yaitu obat-obatan yang bertahan lama di dalam darah.

Kondisi ini terlihat pada obat sistemik yang digunakan dengan cara diminum atau lewat suntikan, meski dilaporkan juga adanya kemunculan nekrolisis epidermal toksik setelah pemakaian obat luar. Obat yang diduga menjadi penyebabnya adalah sulfonamida, antibiotik beta laktam (misalnya sefalosporin), antikonvulsan, paracetamol, allopurinol, nevirapine, serta obat antiinflamasi nonsteroid, terutama meloxicam atau piroxicam.

Selain obat, kondisi lain juga dapat menjadi pemicu nekrolisis epidermal toksik, yaitu:

  • Infeksi, seperti mikoplasma dan HIV.

  • Faktor genetik.

  • Imunisasi, meski ini sangat jarang terjadi.

  • Penyakit lupus.

Baca juga: Perlu Diwaspadai, Ini Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik

Komplikasi Fatal yang Mengintai

Nekrolisis epidermal toksik dapat berakibat fatal jika terjadi komplikasi berupa:

  1. Dehidrasi atau malnutrisi.

  2. Infeksi kulit atau organ lain yang terkena, misalnya paru-paru.

  3. Sepsis.

  4. Acute respiratory distress syndrome.

  5. Tukak pada lambung atau bagian lain saluran pencernaan.

  6. Koagulopati atau pembekuan darah yang tersebar di seluruh aliran darah.

Itulah sedikit penjelasan tentang nekrolisis epidermal toksik. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!