Ini 7 Faktor yang Bisa Tingkatkan Risiko Anak Terkena Rakitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ini 7 Faktor yang Bisa Tingkatkan Risiko Anak Terkena Rakitis

Halodoc, Jakarta - Masa kanak-kanak adalah masa yang penting bagi pertumbuhan anak termasuk pertumbuhan tulang. Tulang yang kuat dan sehat dibutuhkan anak-anak untuk mendukung proses belajarnya. Namun, beberapa anak mengalami masalah dalam perkembangan tulangnya, karena tekstur tulang yang lebih lunak dari umumnya. Kondisi ini disebut penyakit rakitis.

Gangguan pertumbuhan tulang atau penyakit rakitis adalah kondisi yang terjadi akibat kekurangan vitamin D dan kalsium. Dua nutrisi tersebut memiliki peran penting untuk pertumbuhan tulang anak. Tubuh memerlukan vitamin D agar menyerap kalsium dan fosfat dari makanan yang dikonsumsi. Saat asupan vitamin D kurang, maka otomatis kadar kalsium dan fosfat dalam tubuh juga menurun. Hasilnya, tubuh harus melepaskan kedua zat tersebut dari tulang, sehingga tulang menjadi lunak dan rapuh.

Kekurangan vitamin D ini bisa terjadi bukan hanya karena pola asupan makanan mengandung vitamin D yang kurang. Rakitis bisa terjadi akibat gangguan penyerapan vitamin D pada usus akibat beberapa penyakit, antara lain:

  • Penyakit celiac.

  • Penyakit inflamasi saluran pencernaan.

  • Cystic fibrosis.

  • Gangguan pada ginjal yang mengganggu penyerapan kalsium dari urine.

Baca Juga: 5 Manfaat Kalsium untuk Tumbuh Kembang Anak

Apa yang Dapat Meningkatkan Seseorang Terkena Rakitis?

Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang terkena rakitis antara lain:

  • Berkulit Gelap. Faktanya, pemilik kulit lebih gelap akibat banyaknya melamin menyebabkan penyerapan sinar matahari lebih sedikit. Hasilnya, pembentukan vitamin D pada kulit menjadi terganggu.

  • Obat-obatan. Beberapa obat-obatan antikejang dan antiretrovirus diduga mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap vitamin D.

  • Lahir Prematur. Bayi yang lahir prematur memiliki risiko lebih tinggi terkena rakitis dibanding bayi yang lahir normal.

  • Tinggal di daerah yang kurang sinar matahari. Anak-anak yang tinggal di daerah yang kurang sinar matahari (misalnya Kutub Utara) jadi lebih mudah terkena rakitis dibanding anak-anak yang tinggal di wilayah tropis.

  • ASI Eksklusif. ASI disarankan untuk bayi hingga usia enam bulan, namun sayangnya ASI tidak mengandung cukup vitamin D untuk pertumbuhan tulang anak-anak. Akibatnya bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif lebih mudah terkena rakitis. Ibu yang anaknya hanya konsumsi ASI wajib memberikan suplemen vitamin D untuk mendukung pertumbuhan tulang. Atau ibu bisa menjemur bayi secara rutin setiap pagi.

  • Mengalami kekurangan vitamin D selama kehamilan. Bayi yang dilahirkan dari ibu hamil yang mengalami kekurangan vitamin D dapat terlahir dengan gejala rakitis atau mengalami rakitis beberapa bulan pasca kelahiran. Oleh sebab itu, ibu wajib konsumsi makanan tinggi vitamin D untuk mencegah rakitis pada anak.

  • Genetik. Pada beberapa kasus, rakitis juga dapat disebabkan oleh faktor genetik. Contohnya adalah pada penyakit rakitis hipofosfatemia yang mengakibatkan kelainan ginjal dan tulang dalam menyerap fosfat.

Baca Juga: Ketahui Makanan untuk Anak Pengidap Rakitis

Komplikasi Rakitis

Gangguan tulang ini tidak bisa disepelekan, karena ia berpotensi mengganggu perkembangan anak hingga dewasa. Selain itu, jika tidak diobati dengan baik, rakitis menyebabkan beberapa komplikasi, misalnya:

  • Keterlambatan pertumbuhan.

  • Kejang-kejang.

  • Kelainan pada gigi.

  • Kelainan tulang.

  • Pelengkungan tulang belakang yang abnormal.

Baca Juga: Cara Mencegah Anak Terserang Rakitis

Itulah risiko penyebab rakitis pada anak yang sebaiknya ibu waspadai. Untuk mencegah anak mengalami penyakit ini, pastikan anak mendapatkan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup. Selain dari makanan, anak bisa mendapatkan asupan tersebut dengan mengonsumsi suplemen. Beli suplemennya di Halodoc saja. Ibu tidak perlu repot-repot keluar rumah, tinggal pesan lewat aplikasi Halodoc, dan pesananmu akan diantarkan dalam waktu satu jam. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.