Alami Pelecehan Bisa Sebabkan Kepribadian Ambang?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Alami Pelecehan Bisa Sebabkan Kepribadian Ambang?

Halodoc, Jakarta - Kasus pelecehan seksual sepertinya tidak pernah ada hentinya diberitakan di media. Mulai dari kasus yang menimpa anak di bawah umur, asisten rumah tangga, bahkan kasus pelecehan seksual yang terjadi di saat menonton konser seperti yang belakang ramai dibicarakan. Akibat pelecehan seksual, tidak sedikit korbannya yang mengalami gangguan mental. Salah satu gangguan tersebut adalah gangguan kepribadian ambang atau yang dikenal dengan borderline personality disorder (BPD).

Apa itu Kepribadian Ambang?

Kepribadian ambang merupakan gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang senantiasa berubah-ubah, dan kadang disertai dengan perilaku yang impulsif. Seseorang yang mengalami BPD memiliki cara pikir, cara pandang, serta perasaan yang berbeda dibanding orang lain.

Hasilnya akan timbul masalah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan menjalin hubungan dengan orang lain, misalnya hubungan dalam keluarga dan di lingkungan pekerjaan. Gangguan kepribadian ambang ini kerap terjadi pada periode menjelang usia dewasa. 

Baca juga: Bentuk Pelecehan Seksual yang Perlu Diketahui

Apa Penyebab Kepribadian Ambang?

Sayangnya, belum diketahui penyebab pasti seseorang alami BPD. Tetapi, terdapat beberapa faktor yang diduga memicu terjadinya kondisi ini, antara lain:

  • Lingkungan. Sejumlah faktor lingkungan yang negatif diduga bisa menimbulkan gangguan kepribadian. Terutama adalah adanya riwayat pelecehan dan penyiksaan semasa kecil, atau bahkan dicampakkan oleh orangtua.

  • Genetik. Gangguan kepribadian ambang diduga dapat diturunkan secara genetik.

  • Kelainan pada Otak. Dilaporkan bahwa mereka yang mengidap penyakit ini memiliki perubahan struktur dan fungsi pada otak, terutama pada area yang mengatur impuls dan emosi. Pengidapnya pun diduga mengalami kelainan fungsi dari zat kimia otak atau neurotransmitter yang berperan dalam pengaturan emosi.

  • Memiliki Kepribadian Tertentu. Beberapa tipe kepribadian memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami BPD, misalnya kepribadian agresif dan impulsif.

Apabila kamu atau orang terdekat mengalami kondisi di atas, maka kamu bisa meminta bantuan psikolog untuk melakukan penanganan yang tepat. Segera buat janji dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Kini kamu pun bisa melakukannya melalui aplikasi Halodoc agar lebih praktis.

Dengan penanganan berupa psikoterapi dan pemberian obat, pengidap borderline personality disorder bisa membaik seiring bertambahnya usia.

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Pengidap Borderline Personality Disorder

Pengobatan Apa Saja yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Borderline Personality Disorder?

Para ahli menemukan beberapa langkah pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan kepribadian ambang ini. Pengobatan tersebut meliputi terapi psikologis yang digabung dengan terapi perilaku kognitif. Psikoterapi bisa dilakukan oleh psikiater. Semua bertujuan menurunkan gejala dan perubahan perilaku serta mempererat hubungan dengan keluarga, teman dan kolega pengidapnya. 

Baca juga: 5 Prosedur untuk Atasi Borderline Personality Disorder (BPD)

Sementara, pada terapi perilaku kognitif lebih difokuskan untuk melatih pengidapnya akan cara-cara berpikir untuk mematahkan hubungan antara stres yang diakibatkan kerja dan respon mental pengidapnya terhadap hal tersebut. Dokter akan menggabungkan kedua jenis terapi untuk menghentikan gangguan pada pengidapnya. Obat juga dibutuhkan untuk meringankan gejalanya yang diresepkan oleh psikiater.

Beberapa obat ini bertujuan membantu pengidapnya mengontrol rangsangan yang terjadi dan memperpendek kasus neurosis (misalnya halusinasi, delusi), membantu menjaga suasana hati, juga mengurangi gejala perubahan suasana hati secara tiba-tiba serta depresi.

Penting untuk dipahami bahwa BPD bukanlah skizofrenia, tetapi pengidapnya akan mengalami depresi berat. Penting untuk menyadari peluang munculnya keinginan untuk bunuh diri sehingga para pengidapnya perlu mendapatkan pantauan serius.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Borderline Personality Disorder.
Mayo Clinic (2015). Diakses pada 2019. Borderline Personality Disorder.