• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Pentingnya Patuh Konsumsi Obat Jantung

Alasan Pentingnya Patuh Konsumsi Obat Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alasan Pentingnya Patuh Konsumsi Obat Jantung

“Hingga kini, penyakit jantung masih menjadi ancaman karena menduduki peringkat satu penyebab kematian di dunia. Baik tua maupun muda, mereka memiliki risiko yang sama untuk mengalaminya. Bagi pengidapnya sendiri, bukan hanya pola hidup sehat saja yang harus diterapkan, mereka juga perlu mengonsumsi obat-obatan tertentu di sepanjang hidupnya.”

Halodoc, Jakarta – Sakit jantung adalah kondisi saat organ jantung mengalami masalah tertentu. Beberapa penyakit yang umum menyerang jantung, seperti gangguan pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau gangguan akibat bawaan lahir.

Ketika mengalami sejumlah kondisi tersebut, konsumsi obat harus dilakukan secara rutin guna mencegah komplikasi penyakit jantung yang membahayakan nyawa. Lantas, apa saja komplikasi penyakit jantung yang bisa saja terjadi jika tidak mengonsumsi obat dari dokter secara rutin?

Baca juga: Pengidap Penyakit Lupus Berisiko Mengalami Gangguan Jantung

Efek Samping yang Terjadi Jika Tidak Mengonsumsi Obat Jantung

Penyakit jantung sudah pasti memicu gangguan pada fungsi organ jantung itu sendiri. Salah satu langkah penanganan yang biasa dilakukan dokter adalah memberikan obat-obatan yang dikonsumsi dalam jangka panjang. Tujuannya adalah menurunkan risiko terjadinya komplikasi penyakit jantung. 

Jika melewatkan jam rutin minum obat atau bahkan sering tidak mengonsumsinya, maka sejumlah komplikasi berikut bisa saja terjadi.

1. Gagal Jantung

Komplikasi penyakit jantung yang pertama adalah gagal jantung. Gagal jantung ditandai dengan sejumlah gejala berupa sesak napas saat berbaring, detak jantung tidak teratur, nyeri dada, penurunan nafsu makan, tubuh mudah lelah, serta pembengkakan di pergelangan kaki atau tangan.

2. Serangan Jantung

Serangan jantung terjadi akibat tersumbatnya aliran darah menuju organ jantung  akibat penumpukan lemak, kolesterol, atau zat lain di pembuluh darah. Serangan jantung ditandai dengan sejumlah gejala berupa sesak napas, pusing, keringat dingin, mual, dan sensasi rasa tertekan pada dada yang menyebar hingga ke leher, rahang, serta punggung sebelah kiri.

3. Penyakit Stroke

Komplikasi penyakit jantung selanjutnya adalah stroke. Penyakit stroke terjadi akibat terhambatnya aliran darah yang kaya akan nutrisi dan oksigen menuju otak. Kondisi ini ditandai dengan sejumlah gejala berupa kesulitan berjalan dan berbicara, kebas pada wajah kaki dan tangan, pandangan kabur di salah satu atau kedua mata sekaligus, serta sakit kepala parah tiba-tiba.

4. Henti Jantung

Komplikasi penyakit jantung ini memicu gangguan bernapas dan kehilangan kesadaran akibat berhentinya fungsi jantung secara mendadak. Henti jantung umumnya terjadi tanpa peringatan. Pada beberapa pengidap, henti jantung ditandai dengan sejumlah gejala berupa sesak napas yang disertai dengan peningkatan atau penurunan detak jantung, serta rasa tidak nyaman di bagian dada.

5. Penyakit Arteri Perifer

Penyakit arteri perifer ditandai dengan sejumlah gejala berupa mati rasa, kram, serta nyeri pada pinggul, paha, hingga betis. Pada kasus yang jarang terjadi, beberapa pengidap mengalami keluhan berupa rambut rontok, disfungsi ereksi pada pria, serta sensasi rasa dingin pada tungkai.

6. Aneurisma

Komplikasi penyakit jantung yang terakhir adalah aneurisma. Di awal kemunculannya, aneurisma ditandai dengan benjolan di bagian pembuluh darah otak. Adanya benjolan akan memicu munculnya rasa nyeri pada salah satu mata, yang berdampak pada penurunan kemampuan penglihatan. Kemudian, gejala disusul dengan sakit kepala parah tiba-tiba, kejang-kejang, pingsan, mual dan muntah, leher terasa kaku, dan meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya.

Baca juga: Bukan Hanya Rokok, Ini 4 Penyebab Sakit Jantung di Usia Muda

Jenis Obat yang Umum Diberikan pada Pengidap Sakit Jantung

Meski sejumlah komplikasi penyakit jantung terlihat sangat menyeramkan, tetapi semua kondisi tersebut dapat dicegah. Salah satu cara efektif untuk mencegahnya adalah dengan mengonsumsi obat secara rutin. Berikut ini beberapa jenis obat sakit jantung yang umum diberikan oleh dokter kepada pasien:

1. Antikoagulan. Obat ini dikenal sebagai pengencer darah yang dapat mencegah terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah.

2. Agen antiplatelet dan terapi antiplatelet ganda. Obat ini mencegah pembekuan darah dengan mencegah menempelnya trombosit darah.

3. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor.  Bekerja dengan melebarkan pembuluh darah agar lebih mudah mengalir ke organ jantung, sehingga kinerjanya menjadi lebih ringan.

4. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB). Obat ini bekerja dengan mencegah naiknya tekanan darah. ARB biasanya digunakan untuk mengontrol tekanan darah tinggi, sehingga tidak memberatkan kinerja organ jantung.

5. Angiotensin Receptor Neprilysin Inhibitor (ARNI). Bekerja dengan membuka pembuluh darah yang menyempit, sehingga aliran darah menuju organ jantung tidak terhambat.

6. Beta blocker. Obat ini menurunkan tekanan darah, sehingga mencegah kontraksi berlebihan pada organ jantung. Beta blocker juga bekerja dengan menurunkan detak jantung yang tidak beraturan.

7. Calcium channel blocker. Bekerja dengan mencegah penumpukan kalsium pada sel jantung dan pembuluh darah. 

8. Obat penurun kolesterol. Obat ini bekerja dengan menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh yang menjadi pemicu penyakit jantung. 

9. Diuretik. Obat ini bekerja dengan meningkatkan rangsangan untuk membuang kelebihan cairan dan natrium lewat urine. Hal tersebut secara signifikan mampu mengurangi kinerja organ jantung.

10. Vasodilator. Bekerja dengan melemaskan pembuluh darah, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan suplai darah serta oksigen menuju organ jantung.

Baca juga: 4 Cara Memulihkan Kesehatan Jantung setelah COVID-19

Dari berbagai jenis obat di atas, tidak semua cocok bagi pengidap penyakit jantung. Oleh karena itu, dokter akan memberikan obat sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing pengidap. Pasalnya, kemungkinan besar obat dapat berinteraksi dengan obat atau tubuh, sehingga menimbulkan efek samping merugikan. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:
American Heart Assosiation. Diakses pada 2021. Types of Heart Medications.
WebMD. Diakses pada 2021. Common Heart Disease Drugs.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Heart disease.