17 January 2019

Amankah Menerima Donor Sperma?

Amankah Menerima Donor Sperma?

Halodoc, Jakarta - Hadirnya buah hati di antara pasangan yang telah menikah tentu menjadi hal yang diidam-idamkan. Namun, bagi sebagian dari mereka yang sulit memiliki anak, donor sperma dapat menjadi salah satu alternatif pilihan. Di berbagai belahan dunia, infertilitas (ketidaksuburan), sebagai salah satu penyebab utama sulitnya pasangan untuk memiliki keturunan, membuat metode donor sperma cukup digandrungi. Lalu, apakah metode ini aman untuk dilakukan?

Jika dibilang aman, tentu saja belum tentu. Dalam setiap prosedur medis, sedikit banyak, akan ada risiko yang mengintai. Pun dalam hal donor sperma. Meski proses inseminasi buatan menggunakan donor dari sperma orang lain dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa dicoba, bukan berarti proses ini lepas dari berbagai risiko masalah. Sebab, dalam prosesnya, bisa jadi timbul beberapa masalah yang harus dihadapi. Berikut beberapa di antaranya:

Baca juga: 5 Alasan Donor Sperma Jadi Tren di Luar Negeri

1. Ketidakjelasan Genetik

Salah satu risiko yang paling umum terjadi ketika menerima donor sperma adalah riwayat genetik yang tidak jelas. Konon, pernah ada seorang wanita di Amerika Serikat yang pernah menggugat salah satu bank sperma, lantaran menerima sperma dari pendonor yang salah. Ia awalnya menginginkan sperma dari pria pendonor berkulit putih. Namun, wanita itu malah melahirkan anak berkulit hitam dari hasil donor sperma yang diterimanya.

Selain itu, sperma yang didonorkan biasanya tidak hanya diberikan pada satu wanita saja. Dengan kata lain, jika misalnya ada 4 wanita mendapatkan sperma dari donor yang sama, anak-anak mereka kelak tentu akan memiliki kesamaan genetik, karena berasal dari ayah yang sama. Bayangkan, bagaimana jika anak-anak itu tumbuh dewasa dan menikah dengan seseorang yang ternyata berasal dari satu sperma yang sama?

2. Keturunan yang Cacat

Meski kebanyakan bank sperma memiliki prosedur ketat dan persyaratan yang tinggi untuk menerima calon pendonor, bukan tidak mungkin jika ada beberapa di antaranya yang cacat atau memiliki sperma yang buruk. Hal ini berpotensi membuat keturunan yang dihasilkan dari donor sperma terlahir cacat.

Baca juga: Ini 3 Tahapan untuk Bisa Donor Sperma

Pastikan Sperma yang Diterima Sehat dan Berkualitas

Tak hanya menentukan kesuburan pria, sperma yang sehat juga dapat menjadi hal yang menentukan keberhasilan pembuahan. Sebelum menerima donor sperma pun, penting bagi calon ibu untuk memastikan sperma yang akan diterimanya sehat dan berkualitas. Namun, di Indonesia, donor sperma masih belum dibolehkan, berdasarkan Undang-undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Reproduksi Nomor 41 tahun 2014, yang menyebutkan bahwa inseminasi buatan maupun bayi tabung harus dilakukan oleh pasangan suami istri.

Kendati demikian, di negara-negara lain, yang melegalkan praktik donor sperma, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi calon pendonor ketika ingin mendonorkan spermanya. Jadi, bisa dikatakan, tidak sembarang sperma yang bisa diterima, lho. Apa saja sih seleksi yang diberlakukan pada calon pendonor sperma?

1. Seleksi Latar Belakang  

Latar belakang menjadi salah satu hal wajib yang pertama kali dicek, ketika seorang pria ingin mendonorkan spermanya. Calon pendonor biasanya akan diminta untuk memberitahu kondisi mereka secara detail. Mulai dari kondisi genetik, riwayat keluarga, berat dan tinggi badan, ras, penggunaan narkoba atau rokok, hingga riwayat pekerjaan.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pendonor masuk ke dalam kategori ‘orang baik-baik’. Bahkan, pada beberapa bank sperma, tak jarang pihak bank juga akan menilai penampilan calon pendonor. Hal ini dikarenakan banyaknya permintaan klien, atau calon penerima donor sperma, yang menginginkan sperma dari pria dengan kriteria tertentu.

Baca juga: 5 Syarat yang Harus Dipenuhi Jika Menjadi Donor Sperma

2. Tes Kesehatan

Setelah diperiksa latar belakang dan kondisi fisiknya, tahap selanjutnya adalah tes kesehatan. Pada tahap ini, calon pendonor akan melalui tes darah, untuk memeriksa masalah kesehatan yang mungkin ada dalam dirinya. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada penyakit yang dapat ditularkan ke sang jabang bayi nantinya.

3. Pemeriksaan Sperma

Meski lolos tes kesehatan, calon pendonor juga akan diperiksa spermanya, untuk memastikan jumlahnya cukup banyak dan sehat. Tahap ini amat berkaitan dengan usia pendonor, sebab bank sperma umumnya tidak akan menerima pria yang berusia di atas 40 tahun. Alasannya adalah karena sperma dari pria yang lebih tua umumnya tak lebih sehat ketimbang pria muda. Oleh sebab itu, para ahli biasanya akan memilih sperma yang berasal dari pria berusia 18-39 tahun. Bahkan, ada bank sperma yang menentukan 34 tahun sebagai batas maksimal.

Itulah sedikit penjelasan tentang donor sperma kriteria pendonor sperma yang perlu diketahui. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter di aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!