19 November 2018

Ini 3 Tahapan untuk Bisa Donor Sperma

Ini 3 Tahapan untuk Bisa Donor Sperma

Halodoc, Jakarta - Semakin canggihnya perkembangan teknologi, banyak cara untuk bisa mendapatkan anak. Salah satu cara yang cukup populer di negara maju seperti Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. Donor sperma berarti tindakan seorang pria yang secara sukarela menyumbangkan cairan mani yang berisi sperma untuk pasangan atau wanita yang ingin memiliki anak. Setelah didapatkan, sperma tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam sistem reproduksi wanita calon pendonor melalui proses inseminasi buatan. Apabila diinginkan, pembuahan dapat dilakukan melalui proses bayi tabung.

Sayangnya di Indonesia, hal ini masih belum diperbolehkan mengingat pertimbangan etika. Lagipula praktik donor sperma yang dijalankan di negara-negara maju semakin diperketat terkait pencegahan peredaran sperma yang tidak layak.

Direktur laboratorium dan Bank of New England Cryogenic Center, Grace Centola, Ph.D. berpendapat bahwa menjadi donor sperma sebenarnya tak sesederhana itu. Pria yang ingin melakukannya harus memenuhi sejumlah syarat dan prosedur yang harus dilalui. Prosesnya cukup rumit dan memakan waktu yang agak lama.

Tidak semua pria bisa menjadi donor sperma, tentunya pendonor diseleksi secara ketat selama berbulan-bulan. Pihak bank sperma mengungkapkan, hanya sekitar 1 persen calon donor yang diterima.

Berikut ini tahapan yang akan dijalankan bagi pria yang hendak menjadi pendonor sperma:

1. Mengetahui Latar Belakang Pendonor

Pertama kali yang harus dilakukan bagi pria yang hendak menjadi donor sperma adalah mengisi sejumlah kuesioner. Calon pendonor harus menginformasikan berbagai hak seperti kondisi genetik atau riwayat kesehatan keluarga, tinggi badan, berat badan, warna mata, ras, penggunaan narkoba, rokok, bahkan riwayat pekerjaan. Pihak bank sperma akan memilih calon terbaik sesuai permintaan pasangan yang menginginkan donor sperma.

Selanjutnya, diadakan tahap wawancara dengan pihak medis bank sperma. Dari situ akan dinilai apakah layak seorang pria untuk mendonorkan sperma atau tidak. Penilaian dari segi penampilan juga dilakukan. Proses memilih donor sperma cenderung subjektif sebab nantinya pasangan tidak mengetahui identitas si pendonor.

2. Pemeriksaan Kesehatan

Tahap berikutnya adalah pemeriksaan kesehatan. Calon pendonor akan melalui tes darah untuk memeriksa masalah kesehatan mungkin bisa menular ke anak.  Sesuai prosedur yang ditetapkan Federal Drug Administration (FDA) dan American Society for Reproductive Medicine, pria yang terinfeksi HIV, hepatitis, atau herpes tidak bisa menjadi pendonor sperma. Mereka yang memiliki kondisi genetik seperti fibrosis sistik tidak bisa mendonorkan sperma. Tes kesehatan ini menjadi rangkaian paling penting dalam proses donor sperma. Sebab jika sperma ternyata diberikan oleh pria yang mengidap suatu penyakit, hal ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari.

3. Pengambilan Sperma

Di samping tes kesehatan, ahli di laboratorium akan memeriksa air mani pria untuk memastikan jumlah sperma pendonor cukup banyak dan sehat. Proses ini dapat dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang akurat. Biasanya bank sperma memiliki batas usia maksimal bagi pendonor yaitu maksimal 40 tahun.

Hal ini dilakukan sebab sperma pria yang berusia lebih dari itu biasanya tidak lebih sehat dibanding pria yang lebih muda. Calon pendonor dibawa ke kamar khusus untuk melakukan ejakulasi. Kemudian, sperma diambil dan dibekukan terlebih dahulu di bank sperma. Setelah itu, pendonor akan diberikan bayaran.

Sayangnya donor sperma belum bisa dijadikan pilihan bagi warga Indonesia untuk memiliki keturunan. Nah, jika kamu dan pasangan punya keluhan kesehatan atau masalah kesuburan, kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: