• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Terlambat Jalan dan Bicara Tanda Alami Dispraksia?

Anak Terlambat Jalan dan Bicara Tanda Alami Dispraksia?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Dispraksia merupakan kondisi medis yang mempengaruhi koordinasi gerak tubuh, sehingga pengidap tidak dapat beraktivitas fisik layaknya orang normal pada umumnya. Pengidap kondisi ini akan lebih mudah terlihat, karena cenderung ceroboh, dan memiliki gangguan keseimbangan gerak tubuh.

Baca juga: Apakah Dyspraxia Memengaruhi Intelegensia Anak?

Penyakit ini lebih umum dialami oleh anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Yang perlu ibu ketahui adalah, kondisi ini tidak mempengaruhi kecerdasan anak. Tanda anak dengan dispraksia biasanya sudah muncul sejak usia dini, tapi sulit terdeteksi karena tingkat perkembangan masing-masing anak berbeda. Apakah gangguan keseimbangan dan terlambat bicara merupakan tanda dispraksia?

Tanda Klinis Dispraksia pada Anak

Anak dengan dispraksia biasanya mengalami gangguan keseimbangan, serta keterlambatan bicara. Bukan itu saja, berikut tanda klinis anak dengan dispraksia:

  • Tidak mampu mempelajari teknik baru.

  • Tidak mampu mengingat informasi.

  • Tidak mampu mempraktikkan kemampuan dasar sehari-hari, seperti makan, berpakaian atau mengikat tali sepatu.

  • Tidak mampu menulis.

  • Tidak mampu menggambar.

  • Tidak mampu menggenggam benda kecil.

  • Tidak mampu memahami situasi sosial.

  • Tidak mampu mengelola emosi dengan baik.

  • Tidak mampu memanajemen waktu dengan baik.

  • Tidak mampu merencanakan sesuatu dengan baik,

  • Tidak mampu mengatur sesuatu yang berantakan dengan baik.

  • Pada bayi, mereka akan membutuhkan waktu lebih lama untuk duduk, merangkak, dan berjalan.

  • Memiliki posisi atau postur tubuh yang berbeda dari anak pada umumnya.

Saat ibu menemukan serangkaian gejalanya, segera temui dokter di rumah sakit terdekat guna menindaklanjuti gejala yang dialami Si Kecil. Biasanya, koordinasi gerak tubuh sudah dapat terlihat ketika Si Kecil menginjak usia 3 tahun, tapi pada sebagian besar anak, gejala baru dapat terdeteksi setelah mereka menginjak usia 5 tahun.

Baca juga: Apakah Orang Dewasa juga Bisa Mengalami Dyspraxia?

Setelah Terdeteksi, Ini yang Dilakukan Dokter

Saat serangkaian gejala ditemukan, dokter biasanya akan memeriksa kondisi saraf anak guna memastikan gejala yang muncul disebabkan oleh dispraksia. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tanda positif, dokter akan melakukan sejumlah langkah penanganan berikut guna membantu anak melakukan aktivitasnya:

  • Terapi okupasi, yaitu perawatan yang bertujuan agar anak mampu melakukan aktivitas hariannya, seperti makan, mandi, atau menulis.

  • Terapi wicara, yaitu perawatan yang bertujuan untuk melatih kemampuan anak berkomunikasi dengan lebih jelas.

  • Terapi motorik perseptual, yaitu perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa, visual, gerak, serta memahami sesuatu.

Namun, ketika ibu menemukan serangkaian gejalanya, ibu dapat membantu mengatasi dispraksia dengan melakukan sejumlah hal berikut ini:

  • Mengajak anak berolahraga ringan guna mendorong koordinasi gerak aktif.

  • Mengajak anak bermain puzzle guna membantu kemampuan visual dan memahami.

  • Mengajak anak untuk menulis atau menggambar dengan alat tulis.

  • Mengajak anak bermain lempar bola guna membantu koordinasi gerak mata dengan tangan.

Baca juga: Jenis-Jenis Dyspraxia yang Perlu Diketahui

Faktor Risiko yang Perlu Dipahami

Dispraksia terjadi saat saraf dan bagian otak yang menangani koordinasi gerak tubuh mengalami gangguan. Belum jelas apa yang menjadi penyebab pasti dari kondisi ini, tapi anak akan lebih berisiko mengidap dispraksia saat anak terlahir prematur, lahir dengan berat badan di bawah rata-rata, memiliki riwayat dispraksia, serta ibu yang mengonsumsi alkohol.

Referensi:

NHS. Diakses pada 2020. Developmental Coordination Disorder (Dyspraxia) in Children.
Dyspraxia Foundation. Diakses pada 2020. What Is Dyspraxia? 
Understood. Diakses pada 2020. Dyspraxia: What You Need to Know.