Antibiotik dengan Injeksi Lebih Efektif dari Oral, Benarkah

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Antibiotik dengan Injeksi Lebih Efektif dari Oral, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Ketika sakit dan berkonsultasi dengan dokter, pernahkah kamu diresepkan antibiotik? Sebenarnya antibiotik itu obat jenis apa dan bagaimana cara kerjanya dalam memerangi penyakit, ya? Lebih jelasnya, yuk cari tahu lebih lanjut tentang antibiotik dalam pembahasan kali ini.

Antibiotik adalah jenis obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembangbiak di dalam tubuh. Oleh karena diperuntukkan membasmi bakteri, antibiotik tidak bisa digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dan jamur.

Mengapa Antibiotik Diperlukan?

Sebenarnya, infeksi bakteri yang tergolong ringan dapat pulih dengan sendirinya, sehingga pemberian antibiotik tidak diperlukan. Namun, ketika infeksi bakteri tidak kunjung membaik, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Selain keparahan infeksi bakteri, antibiotik juga biasanya diberikan ketika:

  • Infeksi yang diidap adalah infeksi menular.

  • Terasa mengganggu dan diduga membutuhkan waktu lama untuk sembuh dengan sendirinya.

  • Terdapat risiko tinggi menyebabkan komplikasi.

Penting untuk diketahui bahwa penggunaan antibiotik harus dengan anjuran dokter. Dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pengidap, memberitahukan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat menggunakan obat, serta efek samping yang dapat terjadi atas penggunaan antibiotik.

Baca juga: Ketahui Tes Bakteriologi untuk Diagnosis Penyakit

Jenis-Jenis Antibiotik

Berdasarkan cara penggunaannya, antibiotik terbagi atas 2 jenis, oral dan injeksi (suntik). Sementara itu, berdasarkan jenis kondisi yang diidap, antibiotik terbagi atas beberapa jenis, yaitu:

1. Penisilin

Penisilin digunakan untuk banyak kondisi akibat adanya infeksi bakteri, beberapa di antaranya adalah infeksi Streptococcus, meningitis, gonore, faringitis, dan juga untuk pencegahan endocarditis. Penisilin tersedia dalam berbagai bentuk, seperti kaplet, sirup kering, dan suntikan. Jenis-jenis antibiotik penisilin adalah Amoxicillin, Ampicillin, Oxacillin, dan Penicillin G.

2. Sefalosporin

Sefalosporin tersedia dalam bentuk suntik, tablet, dan sirup kering. Beberapa kondisi yang diobati menggunakan sefalosporin, di antaranya adalah infeksi tulang, otitis media, infeksi kulit, dan infeksi saluran kemih. Jenis-jenis antibiotik sefalosporin adalah Cefadroxil, Cefuroxime, Cefotaxime, Cefotiam, Cefepime, dan Ceftaroline.

Baca juga: Kecil tetapi Berbahaya, Inilah 5 Penyakit yang Disebabkan Bakteri

3. Aminoglikosida

Aminoglikosida adalah obat yang biasa digunakan untuk mengatasi banyak penyakit infeksi bakteri, seperti otitis eksterna, infeksi kulit, dan peritonitis. Aminoglikosida tersedia dalam banyak bentuk, di antaranya adalah salep, tetes mata, dan suntik. Jenis-jenis antibiotik aminoglikosida adalah Paromomycin, Tobramycin, Gentamicin, Amikacin, Kanamycin, dan Neomycin.

4. Tetrasiklin

Tetrasiklin tersedia dalam berbagai macam bentuk obat, yakni salep, salep mata, kapsul, dan suntik. Antibiotik jenis ini digunakan untuk mengobati berbagai macam kondisi yang muncul akibat adanya infeksi bakteri, seperti sifilis, anthrax, tifus, brucellosis, dan jerawat. Tetrasiklin tertentu tidak dapat digunakan pada anak usia di bawah 12 tahun. Jenis-jenisnya adalah Doxycycline, Minocycline, Tetracycline, Oxytetracycline, dan Tigecycline.

5. Makrolid

Beberapa kondisi yang diobati menggunakan antibiotik makrolida adalah bronkitis, servisitis, penyakit Lyme, pemfigus, dan sinusitis. Makrolida sendiri tersedia dalam banyak bentuk, yakni tablet, kaplet, sirup kering, dan suntik. Jenis-jenisnya adalah Erythromycin, Azithromycin, dan Clarithromycin.

6. Quinolone

Quinolone memiliki bentuk yang berbeda, dan dengan indikasi yang berbeda. Bentuk obat ini, di antaranya adalah tablet, suntik, dan kaplet. Quinolone digunakan untuk mengatasi banyak kondisi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Beberapa di antaranya adalah infeksi tulang, cystitis, servisitis, dan infeksi kulit. Jenis-jenisnya adalah Ciprofloxacin, Levofloxacin, Moxifloxacin, dan Norfloxacin.

Baca juga: Biar Enggak Parno, Cegah Kontaminasi Bakteri E. Coli dengan 7 Cara Ini

Oral dan Injeksi, Efektif Mana?

Meski banyak jenisnya, antibiotik memiliki tujuan yang sama, yaitu melawan infeksi bakteri, menekan, dan menghentikan pertumbuhan bakteri berbahaya di dalam tubuh. Lalu, mengapa ada yang oral dan injeksi? Adakah perbedaan terkait efektivitasnya? Jawabannya, iya.

Antibiotik injeksi lebih efektif, ketimbang antibiotik oral. Efektif dalam hal ini adalah kerja antibiotik injeksi lebih cepat dibandingkan antibiotik oral. Hal in dikarenakan antibiotik oral ketika ditelan akan masuk ke saluran cerna, kemudian ke lambung dan usus halus. Lalu setelah diserap di usus halus, barulah antibiotik masuk ke pembuluh darah dan sampai pada organ.

Proses tersebut tentunya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Sementara antibiotik injeksi bisa sampai ke organ dalam waktu yang lebih singkat, karena ada proses yang tidak harus ia jalankan. Antibiotik injeksi akan disuntikkan ke pembuluh darah lalu menuju ke organ, tanpa perlu ke saluran pencernaan. Antibiotik injeksi biasanya diberikan pada kasus infeksi yang berat. Sementara jika infeksinya ringan, pemberian antibiotik oral sudah cukup.  

Itulah sedikit penjelasan tentang antibiotik. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!