• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Mudah Tantrum Tanda Emosi Tak Stabil, Benarkah?

Anak Mudah Tantrum Tanda Emosi Tak Stabil, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Anak usia di bawah lima tahun umumnya mengalami tantrum, yaitu kondisi ketika ia marah, mengamuk, dan menangis kencang. Apakah itu tanda emosinya tidak stabil? Belum tentu. Sebab, tantrum adalah hal yang normal, dan merupakan bagian dari proses perkembangan anak. 

Tantrum umumnya terjadi ketika anak memiliki dua emosi yang kuat, yaitu kemarahan dan kesedihan. Hal ini juga bisa dipicu oleh belum sempurnanya kemampuan komunikasi Si Kecil, sehingga ia menjadi frustasi ketika orangtuanya tidak memahaminya. 

Baca juga: Mengenal 2 Jenis Tantrum pada Anak

Anak Mudah Tantrum yang Tergolong Tidak Wajar

Meski setiap anak sangat mungkin untuk mengalami tantrum, kalau frekuensinya berlebihan atau anak terlalu mudah tantrum, orangtua perlu waspada. Sebab bisa jadi, ada masalah pada perkembangannya. Berikut beberapa tanda tantrum pada anak yang tidak wajar:

1.Terlalu Sering

Perhatikan seberapa sering anak mengalami tantrum. Jika dalam sehari anak tantrum lebih dari 5 kali, dan terjadi selama beberapa hari, ibu perlu waspada. Sebab, bisa saja ada masalah kejiwaan yang dialami anak. Sebagai langkah awal, ibu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada psikolog anak lewat chat tentang hal ini. 

2.Durasi Mengamuk Lama

Selain frekuensi, perhatikan juga berapa lama durasi mengamuk yang dilakukan anak. Jika ada indikasi gangguan mental, durasi tantrum biasanya akan lebih lama dan konstan, dibanding tantrum yang normal. Anak yang punya masalah dengan kesehatan mental, durasi tantrum akan berlangsung hingga 20-30 menit tanpa henti. Lalu, jika di waktu berikutnya ia mengamuk lagi, durasinya akan sama atau bahkan lebih lama.

Baca juga: Anak Tantrum, Ini Sisi Positifnya untuk Orang Tua

3.Melukai Diri Sendiri atau Orang Lain saat Mengamuk

Jika anak marah dan mengamuk hingga melukai dirinya sendiri, bisa jadi itu tanda ia mungkin mengalami masalah kesehatan mental. Pada beberapa kasus, anak dengan depresi berat, akan cenderung menggigit, mencakar, membenturkan kepala ke dinding, bahkan menendang berbagai benda di sekitarnya ketika ia sedang mengamuk. 

Waspadai juga jika anak melukai orang lain ketika mengamuk. Jika anak sering memukul, mencubit, atau menendang orang lain di sekitarnya ketika tantrum, itu sudah tidak wajar. Sebaiknya segera ajak anak ke psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan saran terbaik. 

4.Tidak Mampu Menenangkan Dirinya Sendiri

Sering kali anak tantrum untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Entah karena lapar, lelah, atau menginginkan sesuatu. Jadi, ketika anak tantrum, sebisa mungkin tetap tenang dan jangan terpancing. Biarkan ia meluapkan emosinya dan menenangkan dirinya sendiri. Namun, jika anak tak kunjung mampu untuk menenangkan dirinya sendiri, bisa jadi ada masalah dalam caranya mengatur emosi. 

Baca juga: 4 Cara untuk Mencegah Anak Mengalami Tantrum

Harus Apa Jika Anak Mudah Tantrum?

Meski umumnya normal, ternyata ada beberapa kasus di mana tantrum pada anak tidak wajar atau telah melewati batas. Lalu, orangtua harus apa? Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu:

  • Beri contoh baik dan ajarkan anak cara mengelola emosi. Terutama ketika dilanda kemarahan dan kesedihan. Umumnya, sikap anak akan berubah seiring bertambahnya usianya, disertai atmosfer baik dari keluarga yang mendukung perubahan sikapnya. 
  • Diskusikan dengan psikolog anak jika merasa tidak tahu bagaimana harus bersikap dan menangani anak yang mudah tantrum. 

Jika berdiskusi dengan psikolog, pastikan untuk menceritakan semua kondisi anak dan situasi yang terjadi dalam keluarga. Hal ini berguna untuk membantu psikolog dalam menilai penyebab anak mudah tantrum.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. 5 Tantrum Ref Flags. 
Dr Greene. Diakses pada 2020. Temper Tantrums - When to Worry.