• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah Nyeri Sendi merupakan Gejala Awal Chikungunya?

Apakah Nyeri Sendi merupakan Gejala Awal Chikungunya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Nyeri sendi merupakan salah gejala awal yang biasanya muncul setelah terinfeksi virus chikungunya. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini.

Penyebab chikungunya adalah virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk tersebut adalah jenis nyamuk yang sama yang menyebabkan demam berdarah

Nyamuk tersebut dapat membawa virus chikungunya bila menggigit seseorang yang sudah terinfeksi virus tersebut sebelumnya, lalu menularkannya pada orang lain dengan cara menggigitnya juga. Perlu diketahui, virus chikungunya tidak menular dari orang ke orang.

Baca juga: Awas, 4 Penyakit Ini Disebabkan Gigitan Nyamuk

Gejala Chikungunya yang Perlu Diwaspadai

Gejala yang biasanya dapat terjadi pada awal setelah terinfeksi virus chikungunya adalah demam dan nyeri sendi secara mendadak. Namun, gejala-gejala lainnya juga bisa menyertai, seperti sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan sendi atau ruam. 

Gejala chikungunya biasanya dimulai 3-7 hari setelah digigit oleh nyamuk yang terinfeksi, dan dapat membaik dalam seminggu. Namun, pada beberapa pengidap, nyeri sendi dapat berlangsung selama berbulan-bulan. 

Meski jarang menyebabkan kematian, tetapi gejala chikungunya yang terjadi bisa parah dan melumpuhkan. Orang-orang yang berisiko mengalami chikungunya yang parah adalah bayi baru lahir yang terinfeksi sekitar waktu kelahiran, orangtua yang berusia 65 tahun ke atas (lansia), dan orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau penyakit jantung.

Baca juga: Mengapa Lansia Rentan Terkena Penyakit Chikungunya?

Pengobatan untuk Chikungunya

Jadi, bila kamu mengalami demam tinggi dan nyeri sendi secara tiba-tiba, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk memastikan diagnosis penyakit Chikungunya. Apalagi bila kamu baru saja berpergian ke daerah endemik. Dokter biasanya akan merekomendasikan untuk melakukan tes darah untuk melihat adanya virus chikungunya atau virus lain yang serupa, seperti demam berdarah atau zika.

Vaksin atau obat untuk menyembuhkan chikungunya sampai saat ini belum ditemukan. Namun, pengidap biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Untuk mempercepat proses pemulihan, kamu bisa melakukan langkah-langkah berikut:

  • Beristirahat yang banyak.

  • Perbanyak minum cairan untuk mencegah dehidrasi.

  • Untuk mengurangi demam dan nyeri sendi, obat antiradang atau obat flu tulang, seperti parasetamol atau ibuprofen.

  • Jangan minum aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) lainnya sampai dokter memastikan gejala yang kamu alami bukan gejala demam berdarah. Hal ini untuk mengurangi risiko perdarahan.

  • Bila kamu perlu mengonsumsi obat untuk kondisi medis lain, sebaiknya bicarakan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengambil obat tambahan.

  • Bila kamu mengidap chikungunya, sebisa mungkin cegah gigitan nyamuk pada minggu pertamamu sakit. Hal ini karena selama minggu pertama infeksi, virus masih dapat ditemukan dalam darah sehingga kamu berpotensi menularkannya pada orang lain melalui gigitan nyamuk. 

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghindari gigitan nyamuk, antara lain menggunakan baju dan celana berlengan panjang, memasang obat nyamuk, atau menggunakan losion antinyamuk.

Dalam kebanyakan kasus, gejala chikungunya dapat mereda dalam seminggu. Namun, nyeri sendi mungkin dapat berlangsung lebih lama hingga beberapa bulan, bahkan tahunan.

Baca juga: 8 Tips Simpel Mencegah Chikungunya

Itulah penjelasan mengenai nyeri sendi yang merupakan gejala awal chikungunya. Untuk melakukan pemeriksaan terkait kondisi kesehatan yang kamu alami, kamu bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihanmu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Chikungunya Virus.