• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Aroma Tak Sedap di Kelamin, Tanda Terkena ISK?

Aroma Tak Sedap di Kelamin, Tanda Terkena ISK?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menjaga kebersihan alat kelamin sangat penting, agar bakteri atau kuman-kuman yang ada di daerah intim tersebut tidak masuk ke dalam dan menyebabkan infeksi. Namun, bila daerah intim mulai menimbulkan aroma tidak sedap, hati-hati. Bisa jadi kamu terkena infeksi saluran kemih. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini.

Infeksi saluran kemih atau ISK adalah infeksi yang terjadi di dalam sistem kemih, yaitu ureter, ginjal, kandung kemih, dan juga uretra. ISK adalah salah satu jenis infeksi yang paling umum yang menyumbang sekitar 8,1 juta kunjungan ke dokter tiap tahunnya.

Saluran kemih dapat dibagi menjadi dua, yaitu saluran bagian atas dan saluran kemih bagian bawah. Saluran kemih bagian atas terdiri dari ginjal dan ureter, sedangkan saluran kemih bagian bawah terdiri dari kandung kemih dan uretra. Namun, sebagian besar infeksi saluran kemih biasanya terjadi di saluran kemih bawah, yaitu kandung kemih dan uretra. 

Dibanding pria, ISK lebih sering terjadi pada wanita. Infeksi ini biasanya menyerang wanita usia 20–40 tahun.

Baca juga: Anyang-Anyangan Jadi Tanda Infeksi Saluran Kemih?

Kenali Gejala Infeksi Saluran Kemih

Gejala paling khas dari infeksi saluran kemih adalah peningkatan frekuensi buang air kecil. Orang yang terkena ISK biasanya lebih sering buang air kecil dari biasanya atau mengalami dorongan untuk pipis secara tiba-tiba. Namun, tidak hanya itu saja, dalam berkemih pun biasanya muncul masalah. 

Salah satunya adalah urine berwarna keruh, berdarah, dan berbau menyengat. Jadi, aroma tidak sedap yang ada di kelamin berasal dari urine yang berbau. Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan urine menjadi berbau tidak sedap.

Selain itu, pengidap infeksi saluran kemih juga dapat mengalami rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air kecil, sakit perut di bagian bawah, serta merasa lelah dan tidak sehat.

Bila kamu mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu juga bisa buat janji temu dengan dokter di rumah sakit terbaik yang dekat dengan domisili melalui Halodoc.

Baca juga: Sakit saat Buang Air Kecil, Mungkin 4 Hal Ini Penyebabnya

Cara Mendiagnosis Infeksi Saluran Kemih

Selain dengan mengamati gejala yang dialami pengidap, dokter mungkin juga perlu melakukan beberapa tes dan prosedur berikut untuk mendiagnosis infeksi saluran kemih:

  • Menganalisis Sampel Urine

Pengambilan sampel urine bertujuan untuk mencari sel darah putih, sel darah merah atau bakteri. Untuk menghindari kemungkinan sampel terkontaminasi, kamu mungkin akan diminta untuk menyeka area kelamin terlebih dahulu dengan kapas antiseptik dan mengumpulkan urine di tengah aliran.

Baca juga: 4 Penyakit Ini Bisa Dideteksi Melalui Pemeriksaan Urine

  • Menumbuhkan Bakteri Saluran Kemih di Laboratorium

Analisis urine dari lab kadang-kadang perlu diikuti juga dengan kultur urine. Tes ini dapat memberi tahu dokter, bakteri apa yang menjadi penyebab ISK yang kamu alami dan obat mana yang paling efektif.

  • Melihat Saluran Kemih

Bila kamu sering mengalami infeksi saluran kemih yang menurut dugaan dokter, disebabkan oleh kelainan pada saluran kemih kamu, maka mungkin kamu akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi, CT scan atau MRI. Dokter mungkin akan menggunakan pewarna kontras untuk menyoroti struktur saluran kemih kamu.

  •  Melihat Bagian Dalam Kandung Kemih

Bila kamu mengalami infeksi saluran kemih berulang, dokter mungkin juga akan melakukan sistoskopi yang menggunakan tabung panjang dan tipis dengan lensa untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih. Sistokop akan dimasukkan ke dalam uretra, lalu diteruskan ke kandung kemih kamu.

Nah, itulah gejala-gejala beserta pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk mendiagnosis infeksi saluran kemih. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play yang bisa menjadi teman penolong untuk membantu menjaga kesehatan kamu.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Urinary tract infection (UTI).
Medical News Today. Diakses pada 2020. What to know about urinary tract infections.