• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Awas, Bayi Juga Bisa Kena Katarak

Awas, Bayi Juga Bisa Kena Katarak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Penyakit yang umum dialami oleh orang dewasa, seperti katarak, ternyata juga bisa dialami oleh bayi. Katarak pada bayi dapat dialami sebagai penyakit bawaan lahir, atau bisa disebut dengan katarak kongenital. Karena gejala katarak pada bayi baru bisa terlihat saat mereka lahir, ibu perlu mewaspadai penyakit yang satu ini.

Baca juga: Waspada, Katarak Dapat Menyerang Bayi

Katarak Pada Bayi, Apa Penyebabnya?

Katarak pada bayi terjadi ketika lensa mata terhalang oleh noda, yang menghalangi cahaya masuk ke dalam mata. Parahnya, katarak pada bayi bukan hanya mengganggu penglihatan, tapi juga dapat menjadi penyebab kebutaan. Kondisi ini bisa terjadi pada satu mata saja, atau kedua mata sekaligus, karena pertumbuhan gen yang tidak sempurna dari kedua orangtua. Hal tersebut menyebabkan lensa mata terbentuk tidak sempurna. 

Selain pertumbuhan gen yang tidak sempurna, katarak pada bayi juga bisa terjadi karena ibu mengidap infeksi selama masa kehamilan. Infeksi yang dimaksud antara lain rubella, toxoplasmosis, cacar air, serta virus herpes simpleks. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksakan kehamilan secara rutin di rumah sakit terdekat guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada ibu dan si buah hati.

Baca juga: Mengenal Buta Warna pada Anak

Gejala Katarak Pada Bayi, Apa Gejala yang Tampak?

Gejala katarak pada bayi baru dapat terlihat setelah mereka berusia 6-8 minggu. Jika katarak tergolong ringan, penanganan khusus tidak perlu dilakukan. Namun, jika katarak sudah mengganggu penglihatan, operasi perlu dilakukan saat Si Kecil memasuki usia 3 bulan.

Terkadang gejala akan terlihat saat terkena flash kamera, yang ditandai dengan munculnya bintik merah pada mata. Jika bayi mengalami katarak kongenital pada salah satu mata, bintik merah akan tampak berbeda dengan mata di sebelahnya. Berikut beberapa gejala katarak pada bayi:

  • Adanya bintik putih atau abu-abu yang menghalangi pupil mata.

  • Gerakan mata terlihat tidak terkontrol.

  • Bola mata terlihat juling.

  • Bayi tidak menyadari kondisi visual di sekitarnya.

Jika gejala tidak terlihat, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Bukan hanya organ mata saja, ketika cacat mata bawaan lahir sudah terdeteksi, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh guna mengetahui kelainan bawaan yang dialami oleh bayi secara keseluruhan.

Baca juga: 4 Tes Buta Warna pada Anak di Rumah

Apakah Katarak pada Bayi Bisa Dicegah?

Kelainan yang satu ini tidak bisa terdeteksi saat bayi masih dalam kandungan. Pasalnya, gejala baru dapat terlihat setelah proses persalinan. Sebelum mereka lahir, dokter belum bisa mendeteksi masalah mata pada janin. Meski terlihat  berbahaya, ibu masih dapat melakukan pencegahan agar bayi tidak terserang infeksi atau gangguan kesehatan lainnya selama kehamilan.

Perlu diketahui bahwa katarak pada bayi merupakan komplikasi saat kehamilan, karena ibu hamil mengidap infeksi rubella, cacar air, herpes simplex, herpes zoster, influenza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toxoplasmosis. Jika dialami selama masa kehamilan, seluruh penyakit tersebut akan menyebabkan gangguan perkembangan janin. Untuk mencegahnya, ibu harus melakukan imunisasi sebelum dan selama masa kehamilan.

Serangkaian imunisasi yang dijalani dapat ibu tanyakan langsung dengan dokter ketika pemeriksaan rutin dilakukan. Sementara itu, jika dalam keluarga ada yang memiliki riwayat katarak kongenital, diskusikan hal tersebut dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan. Pasalnya, penyakit yang satu ini merupakan penyakit yang dapat diwariskan pada anak cucu kelak.

Referensi:

NHS. Diakses pada 2020. Childhood Cataracts.

Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Cataracts in Children.

WebMD. Diakses pada 2020. Cataracts in Babies and Children: What to Know.