• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Tahap Kesembuhan pada Pasien Difteri

Begini Tahap Kesembuhan pada Pasien Difteri

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Penyakit difteri merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Guna mencegah perkembangan penyakit semakin bertambah parah, penanganan dan perawatan yang tepat diperlukan guna mempercepat proses penyembuhan. Proses penularannya sendiri terjadi melalui air liur pengidap atau benda yang telah terkontaminasi. Apa saja proses yang harus dilakukan oleh pengidap guna mencapai tahap penyembuhan? Berikut ini beberapa langkah tersebut.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat Memberikan Vaksin Difteri?

Proses Pengobatan Guna Mempercepat Proses Penyembuhan

Droplet atau air liur pengidap yang masuk ke dalam tubuh seseorang akan berkembang biak pada permukaan selaput pernapasan. Bakteri kemudian akan memproduksi racun yang mengontaminasi jaringan di sekitar. Jika tidak segera ditangani, bukan hal yang tidak mungkin jika racun menyebar ke seluruh tubuh melalui darah. Sebelum mengetahui proses yang dilalui guna mencapai tahap kesembuhan pengidap difteri, berikut ini beberapa gejala awal yang tampak pada pengidap:

Jika ditemukan sejumlah gejala tersebut, berikut ini beberapa langkah yang harus dilakukan guna mencapai tahap kesembuhan pengidap difteri:

  • Periksakan Diri

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mencapai tahap kesembuhan pengidap difteri adalah memeriksakan diri ke dokter. Jika ditemukan sejumlah gejala awal seperti yang telah disebutkan, biasanya dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan untuk diperiksa lebih lanjut.

  • Berikan Suntikan ADS

Jika hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan positif, maka dokter akan mengambil langkah selanjutnya dengan menyuntikkan anti-diphtheria serum (ADS) guna melawan penyebaran racun yang dihasilkan oleh bakteri. Suntikan ini juga efektif mencegah komplikasi yang mengancam nyawa pengidap.

  • Melakukan Terapi Antibiotik

Untuk membunuh bakteri penyebab difteri, dokter akan melakukan terapi antibiotik, yang dilakukan dengan pemberian penisilin atau erythromycin. Prosedur yang ini akan dilakukan jika pengidap terbukti tidak memiliki alergi terhadap kedua antibiotik tersebut.

  • Berikan Suntikan Steroid

Suntikan steroid biasanya akan diberikan jika pengidap mengalami gejala berupa sesak napas. Suntikan ini akan mengurangi gejala sesak napas yang dialami oleh pengidap.

  • Rawat Inap

Proses terakhir yang harus dilakukan guna mencapai tahap kesembuhan pengidap difteri adalah rawat inap di rumah sakit. Hal ini dilakukan agar pengidap mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan tidak menularkan infeksi pada orang lain. Dengan melakukan rawat inap, kesembuhan akan lebih terjamin.

Baca juga: Penyebab Sulit Bernapas Bisa Menjadi Gejala Difteri

Adakah Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan?

Upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini dengan melakukan vaksinasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), TD (Tetanus dan Difteri), serta DT (Difteri dan Tetanus). Vaksin DPT sudah dapat dilakukan sejak anak berumur 5 tahun, sedangkan vaksin DT diberikan satu kali saat anak menginjak usia 7 tahun. Vaksin lainnya, yaitu vaksin TD, diberikan setiap 10 tahun sekali, sejak anak berusia 18 tahun.

Bukan hanya vaksinasi saja, langkah pencegahan dapat dilakukan dari diri sendiri dengan cara menjaga kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan sekitar. Tidak lupa untuk mempraktikkan pola hidup sehat, dengan asupan makanan yang bergizi. Lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya, serta minimnya sanitasi dapat dengan mudah menularkan penyakit difteri. Makanan sehat juga belum tentu baik jika dibeli di luar rumah, dengan proses masak yang sembarangan.

Baca juga: Mitos atau Fakta Belum Divaksinasi Berisiko Terkena Difteri

Selain beberapa langkah tersebut, kamu dapat menjaga sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi suplemen atau multivitamin tambahan yang sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin membelinya, kamu dapat menggunakan fitur “beli obat” di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Diphtheria.
WHO. Diakses pada 2021. Operational protocol for clinical management of Diphtheria.
CDC. Diakses pada 2021. Diphtheria.