• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Batuk Rejan Bisa Memicu Sesak Napas?

Benarkah Batuk Rejan Bisa Memicu Sesak Napas?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pernah atau sedang mengalami batuk-batuk yang tak kunjung sembuh meski telah lebih dari satu bulan? Dalam dunia medis, kondisi ini bisa saja disebabkan oleh batuk rejan. Batuk ini merupakan infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang amat menular. Pengidapnya bisa mengalami batuk hingga tiba bulan lamanya. Nah, karena durasi tersebut batuk rejan juga biasa disebut dengan “batuk seratus hari”. 

Batuk seratus hari ini bisa mengancam nyawa bila terjadi pada lansia dan anak-anak, apalagi pada bayi yang belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis. Batuk rejan bisa dikenali dari rentetan batuk keras yang terjadi terus-menerus. Batuknya ditandai dengan tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). 

Baca juga: Batuk Rejan Bisa Tanda 4 Penyakit Serius

Sesak Napas Bisa Berujung Fatal

Fase pertama dari batuk rejan ini adalah masa di mana infeksi akan sangat rentan menular. Nah, di fase kedua manula mesti berhati-hati, jangan tunda untuk mendapatkan penanganan medis. Sebab fase ini memiliki tingkat risiko kematian yang paling tinggi. Selain manula, batuk pertusis yang dialami oleh anak-anak juga perlu diawasi dengan ekstra. Sebab batuk keras yang terjadi terus-menerus selama beberapa menit bisa membuat paru-paru anak kelelahan. Nah, kondisi ini bisa membuat anak mengalami sesak napas atau bahkan kesulitan bernapas (apnea). Ujung-ujungnya paru-paru yang kelelahan ini bisa membuat anak kekurangan oksigen (hipoksia) dan berujung pada gagal napas yang berakibat fatal. 

Menurut ahli, bayi yang berusia kurang dari satu tahun dan terinfeksi batuk seratus hari, seharusnya perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Tujuannya agar terhindar dari komplikasi pernapasan serius seperti pneumonia. Kondisi ini juga bisa menyebabkan napas seseorang jadi terengah-engah dan pendek.

Hal yang bikin resah lagi, batuk pertusis ini juga bisa menimbulkan komplikasi kelainan otak pada bayi. Menurut penelitian dari Denmark, bayi yang mengalami jenis batuk ini berisiko tinggi untuk mengalami epilepsi pada masa kanak-kanak. 

Baca juga: Sama-Sama Batuk, Ini Bedanya Batuk Rejan dan Batuk Biasa

Gegara Infeksi Bakteri

Biang keladi dari batuk rejan adalah bakteri Bordetella pertussis yang bisa menyebar melalui udara. Bakteri ini akan masuk dan menyerang dinding saluran napas seseorang dan melepaskan racun. Kata ahli, pembengkakan saluran napas merupakan salah satu cara tubuh bereaksi terhadap racun yang dilepaskan oleh bakteri tersebut. 

Nah, saluran napas yang membengkak ini bisa membuat pengidapnya harus menarik napas melalui mulut karena kesulitan bernapas. Tarikan napas ini akan menimbulkan bunyi dengkingan (whoop) yang panjang. Selain pembengkakan, cara lain yang dilakukan tubuh saat bakteri menyerang dinding saluran pernapasan dengan memproduksi lendir kental. Selanjutnya, saluran pernapasan akan merespon untuk mencoba mengeluarkan lendir kental tersebut dengan batuk.

Bukan Cuma Batuk-Batuk

Dalam banyak kasus, tanda dan gejala dari batuk rejan biasanya baru muncul sekitar 10 hari setelah seseorang terinfeksi. Tanda yang muncul dari batuk ini di tahap awalnya biasanya mirip dengan gejala pilek biasa. Misalnya, demam, hidung beringus, batuk, hidung tersumbat, dan mata merah serta berair.

Baca juga: 5 Fakta Mengenai Batuk Rejan yang Mesti Diketahui

Namun, satu atau dua minggu setelahnya, tanda dan gejalanya akan memburuk. Misalnya, batuk parah dan berkepanjangan yang bisa membuat pengidapnya terdengar, seperti mau muntah dan menyebabkan kelelahan ekstrem. Tak hanya itu, gejala lainnya bisa berupa wajah berwarna merah atau biru dan suara tinggi melengking saat menarik napas.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!


Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Disease & Conditions. Whooping Cough. Healthline. Diakses pada 2020. Whooping Cough (Pertussis). 
Medscape. Diakses pada 2020. Drugs & Diseases. Pertussis.