• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Wanita Lebih Sering Mengidap Myasthenia Gravis?

Benarkah Wanita Lebih Sering Mengidap Myasthenia Gravis?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Melemahnya otot tubuh karena masalah pada otot dan saraf mengakibatkan kondisi yang disebut myasthenia gravis. Mulanya, seseorang yang mengalami kondisi ini akan merasa cepat lelah setelah beraktivitas, tetapi kembali membaik dengan sendirinya setelah cukup istirahat. Myasthenia gravis terjadi karena masalah autoimun, ketika sistem imunitas tubuh berbalik menyerang sel sehat tubuh itu sendiri. 

Oleh karena termasuk gangguan saraf, kelainan ini perlu segera mendapatkan penanganan. Jika tidak, perlemahan otot akan menjadi semakin buruk dan membuat pengidapnya mengalami kesulitan bicara, bergerak, menelan, bahkan mengalami kesulitan bernapas. Lalu, siapa saja yang berisiko mengalami kelainan ini? Adakah pengobatan yang bisa dilakukan? 

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Myasthenia Gravis?

Masalah autoimun disinyalir menjadi penyebab utama terjadinya myasthenia gravis. Pada kondisi ini, antibodi pada tubuh berbalik menyerang jaringan sehat yang menghubungkan otot dan sel saraf, sehingga terjadi perlemahan otot yang mengakibatkan pengidapnya menjadi lebih mudah lelah. 

Baca juga: 3 Pantangan Makanan untuk Pengidap Myasthenia Gravis

Namun, penyebab masalah autoimun ini masih belum diketahui secara pasti. Meski begitu, kelainan pada bagian kelenjar timus diduga menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan terjadinya kondisi ini. Kelenjar timus berada di bagian dada dan bertugas untuk menghasilkan antibodi. Tidak sedikit pengidap kelainan ini mengalami pembesaran pada kelenjar timus ini karena tumor atau kelenjar yang mengalami pembengkakan. 

Myasthenia gravis bisa terjadi pada siapa saja. Namun, kelainan ini lebih sering menyerang wanita berusia antara 20 hingga 30 tahun. Sedangkan pada pria, kelainan ini bisa terjadi pada usia lebih dari 50 tahun. Artinya, baik pria maupun wanita harus waspada terhadap kondisi ini, meskipun wanita memiliki risiko yang lebih tinggi karena faktor usia. 

Baca juga: Olahraga untuk Pengidap Myasthenia Gravis

Bagaimana Mengenali Gejalanya? 

Otot yang melemah menjadi gejala utama dari myasthenia gravis ini. Tubuh akan merasa mudah lelah setelah beraktivitas, tetapi segera pulih kembali setelah beristirahat. Namun, seiring berjalannya waktu, otot menjadi semakin lemah dan tubuh lebih mudah lelah, bahkan kondisi ini tidak membaik meski kamu sudah beristirahat. 

Seseorang yang mengalami myasthenia gravis akan mengalami penglihatan mengabur karena melemahnya otot pada bagian mata. Pada beberapa kasus, ditemui pula pengidap mengalami kelopak mata turun pada salah satu atau kedua mata. Tidak hanya otot mata, myasthenia gravis pun bisa berpengaruh pada otot tenggorokan dan bagian wajah. Jika ini terjadi, gejala yang biasanya muncul adalah bicara cadel, suara berubah serak, napas menjadi lebih pendek, sulit menunjukkan ekspresi wajah, hingga sulit mengunyah atau menelan. 

Tiap orang mengalami gejala yang berbeda, ada pula yang mengalami gejala seperti nyeri otot yang parah setelah beraktivitas, gangguan berjalan, kesulitan mengangkat kepala setelah berbaring, hingga kesulitan bergerak. Jadi, kalau kamu merasakan kelelahan setelah beraktivitas dan membaik setelah beristirahat, tampaknya kamu harus segera melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Jangan lupa, pakai aplikasi Halodoc agar prosesnya menjadi lebih mudah. 

Baca juga: Melemahkan Otot, Ini 10 Gejala Myasthenia Gravis pada Anak

Myasthenic crisis adalah komplikasi serius dari myasthenia gravis yang tidak mendapatkan penanganan. Hal ini terjadi karena otot pada bagian tenggorokan dan diafragma sangat lemah untuk menunjang pernapasan, sehingga sering kali terjadi sesak napas karena lumpuhnya otot pernapasan. Tidak hanya itu, komplikasi lainnya yang bisa terjadi termasuk lupus, rheumatoid arthritis, dan tirotoksikosis. 

Mengendalikan stres, menjaga suhu tubuh agar tetap stabil, tidak melakukan aktivitas terlalu berlebihan dan mencegah infeksi menjadi beberapa cara mencegah myasthenia gravis yang bisa dilakukan. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Myasthenia Gravis.
Healthline. Diakses pada 2020. Myasthenia Gravis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Myasthenia Gravis.