• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berapa Lama Idealnya Cuti Melahirkan?

Berapa Lama Idealnya Cuti Melahirkan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pemerintah melalui DPR RI dilaporkan telah mengesahkan 50 RUU untuk selanjutnya dibahas pada tahun 2020. Nah, salah satu yang cukup menjadi sorotan adalah RUU Ketahanan Keluarga. Meski banyak RUU yang menuai pro-kontra di tengah masyarakat, tetapi ada pasal yang disambut baik oleh kalangan wanita, yakni pasal yang mengatur cuti melahirkan dan menyusui. Dari yang awalnya hanya tiga bulan menjadi enam bulan. 

Lantas, jika dilihat dari sisi kesehatan, baik itu untuk kesehatan ibu dan bayi, apakah RUU Ketahanan Keluarga ini sudah tepat? Yuk, simak ulasannya berikut!

Baca juga: 5 Masalah Kesehatan yang Rentan Dialami Ibu Hamil

Durasi Ideal Cuti Melahirkan

Dalam RUU Ketahanan Keluarga, tepatnya pada pasal 29 ayat 1 pada poin pertama, disebutkan bahwa: "hak cuti melahirkan dan menyusui selama 6 (enam) bulan, tanpa kehilangan haknya atas upah atau gaji dan posisi pekerjaannya." Namun, jika ditanya mengenai durasi ideal seorang wanita mengambil cuti melahirkan, ini bukanlah hal yang mudah untuk dijawab. 

Berdasarkan beberapa riset yang ditinjau oleh CNN Health, cuti melahirkan yang dibayar nyatanya memberikan efek positif yang signifikan terhadap kesehatan anak dan ibu. Beberapa pihak pun menganggap bahwa cuti melahirkan yang hanya tiga bulan bukan hal yang paling tepat. Apalagi jika sang Ibu membagi cutinya, 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan sesudah melahirkan. Ini berarti ibu harus meninggalkan bayi untuk bekerja di usianya yang hanya enam minggu.

Selama enam minggu setelah kelahiran pun Ibu masih dalam proses pemulihan fisik. Terutama jika ibu menjalani operasi caesar, yang membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk pemulihan. Diperlukan waktu dua hingga tiga bulan sebelum ibu bisa mulai tidur selama 4 jam di malam hari. Beberapa bayi akan tidur selama lima atau enam jam pada saat mereka berusia empat bulan, tetapi bayi lain bisa saja tidak melakukannya sampai usia delapan bulan atau lebih. 

Selain itu, American Academy of Pediatrics juga menilai cuti yang terlalu singkat tidak bisa mendukung usaha pemberian ASI eksklusif. Hal ini telah dikaitkan dengan risiko keterlambatan perkembangan bayi, kemunculan penyakit, dan bahkan meningkatkan angka kematian bayi. Dari sudut pandang kesehatan bayi pun memberikan ASI kepada bayi secara eksklusif selama enam bulan adalah hal yang baik. Cara terbaik untuk menjamin hal ini bisa terwujud adalah dengan memberikan ibu cuti berbayar setidaknya selama enam bulan. 

Baca juga: Ibu Wajib Tahu Pentingnya ASI Eksklusif

Mengurangi Risiko Depresi Pasca Melahirkan

Melahirkan adalah sesuatu yang tidak bisa diduga, terutama berkaitan dengan kesehatan ibu atau bayi setelah proses persalinan. Dibutuhkannya lebih lama waktu cuti hamil ini bukan tanpa alasan. Apalagi risiko ibu mengalami depresi atau baby blues setelah kelahiran juga sangat tinggi. 

Mauricio Avendano, seorang profesor di Harvard School of Public Health juga menyebutkan bahwa cuti hamil yang berbayar memiliki efek jangka panjang yang nyata pada kesehatan mental wanita. Hal ini bahkan bisa memperpanjang usia mereka hingga beberapa tahun. 

Manfaatnya bagi anak-anak juga bisa lebih baik lagi. Para peneliti membandingkan kehidupan anak-anak yang lahir di Norwegia sebelum 1977, ketika para ibu hanya memiliki 12 minggu cuti yang tidak dibayar, dengan anak-anak yang lahir setelahnya, ketika negara itu menawarkan tambahan cuti berbayar empat bulan. Anak-anak yang ibunya memiliki lama cuti lebih lama terbukti memiliki perkembangan kognitif dan akademik yang lebih baik pada usia 30 dan cenderung lebih sukses, seperti lulus dari perguruan tinggi dan memiliki upah yang lebih tinggi.

Baca juga: Ibu Pekerja, Inilah Cara Sukses Pumping di Kantor

Itulah pandangan dari sisi kesehatan mengenai RUU Ketahanan Keluarga yang sangat mungkin semakin menyejahterakan ibu dan bayi jika cuti melahirkan diperpanjang. Nah, jika kamu tengah hamil atau baru saja melahirkan dan membutuhkan saran dokter, tak usah ragu untuk bertanya dengan dokter melalui fitur chat di aplikasi Halodoc. Dokter di Halodoc akan selalu siaga memberikan semua saran kesehatan yang kamu butuhkan.

Referensi:
CNN Health. Diakses pada 2020. Paid Leave for Parents: What's the Right Amount of Time?
Huffington Post. Diakses pada 2020. Maternity Leave: How Much Time Off Is Healthiest For Babies And Mothers?
The Balance Careers. Diakses pada 2020. How Long Should Your Maternity Leave Be?