• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Anak-Anak Mengidap Aneurisma Otak?

Bisakah Anak-Anak Mengidap Aneurisma Otak?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Otak merupakan organ penting yang rentan mengalami masalah. Salah satu contohnya masalah yang bisa terjadi pada otak adalah aneurisma otak. Penyakit ini merupakan pembesaran pada pembuluh darah di otak akibat dinding pembuluh darah melemah. Aneurisma otak termasuk penyakit yang sangat serius karena bisa menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian. Penyakit ini biasanya terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun. Namun, bisakah anak-anak juga mengalami aneurisma otak? Simak jawabannya di bawah ini. 

Baca juga: Pengalaman Pelecehan Seksual saat Kecil Bisa Mengakibatkan Kerusakan Otak

Memahami Aneurisma Otak

Aneurisma otak adalah kondisi yang terjadi ketika dinding pembuluh darah melemah. Akibatnya, saat aliran darah menekan dinding pembuluh darah yang lemah ini, pembuluh darah akan menggelembung seperti balon. Benjolan tersebut bisa bocor atau pecah, sehingga menyebabkan perdarahan ke otak (stroke hemoragik). Aneurisma otak paling sering pecah di ruang antara otak dan jaringan tipis yang menutupi otak. Jenis stroke hemoragik ini disebut perdarahan subarachnoid.

Aneurisma otak yang pecah sangat berbahaya karena dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu, kondisi ini perlu mendapatkan pertolongan medis secepatnya.

Namun, sebagian besar kasus aneurisma otak tidak pecah, tidak menimbulkan masalah kesehatan, dan seringkali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, penyakit ini seringkali baru terdeteksi saat melakukan pemeriksaan untuk kondisi kesehatan lainnya.

Penyebab dan Faktor Risiko Aneurisma Otak

Penyebab di balik kondisi melemahnya dinding pembuluh darah masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya aneurisma otak atau pecahnya aneurisma. Penyakit otak yang satu ini sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja dari segala usia. Namun, aneurisma otak lebih sering dialami oleh orang dewasa daripada anak-anak. Jadi, anak-anak bisa mengidap aneurisma otak, tetapi kemungkinannya sangat kecil. Selain itu, aneurisma otak juga lebih sering dialami oleh wanita ketimbang pria.

Faktor risiko aneurisma otak ada yang bisa berkembang seiring berjalannya waktu, sedangkan beberapa faktor lainnya muncul sejak lahir. Berikut ini faktor risiko aneurisma otak yang berkembang seiring waktu:

  • Penuaan. Aneurisma otak lebih sering ditemukan pada orang-orang yang berusia di atas 40 tahun. Hal ini karena dinding pembuluh darah cenderung melemah seiring waktu akibat tekanan darah yang melewati dinding tersebut.

  • Kebiasaan merokok.

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi). Kondisi ini bisa meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah, sehingga memicu terjadinya aneurisma otak.

  • Penyalahgunaan narkoba, terutama penggunaan kokain.

  • Konsumsi alkohol yang berat.

Baca juga: Begini Tahapan Diagnosis untuk Deteksi Aneurisma Otak

Beberapa jenis aneurisma otak dapat terjadi setelah cedera kepala (diseksi aneurisma) atau dari infeksi darah tertentu (aneurisma mikotik).

Selain faktor risiko di atas, kondisi yang terjadi saat lahir juga dapat dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya aneurisma otak, di antaranya:

  • Gangguan jaringan ikat turunan, seperti sindrom Ehlers-Danlos, yang melemahkan pembuluh darah.

  • Penyakit ginjal polikistik, yaitu kelainan bawaan yang menghasilkan kantung berisi cairan di ginjal dan biasanya dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

  • Penyempitan tidak normal pada aorta (koarktasio aorta), yaitu pembuluh darah besar yang bertugas mengalirkan darah yang penuh oksigen dari jantung ke tubuh.

  • Malformasi arteriovenous serebral (AVM otak), yaitu adanya koneksi abnormal antara arteri dan vena di otak yang mengganggu aliran normal darah di antara mereka.

  • Memiliki riwayat keluarga yang mengidap aneurisma otak, khususnya kerabat tingkat pertama, seperti orangtua, saudara laki-laki dan perempuan, ataupun anak.

Jadi, walaupun kemungkinannya sangat kecil, tetapi anak-anak juga berisiko mengidap aneurisma otak bila memiliki faktor risiko di atas. Karena itu, orangtua juga perlu mewaspadai penyakit otak berbahaya ini yang bisa menyerang anak. Bila anak mengalami gejala-gejala  aneurisma otak, seperti pusing, sulit berbicara, dan keseimbangannya terganggu, segera periksakan ia ke dokter.

Baca juga: Ini Gejala Aneurisma Otak yang Perlu Diwaspadai

Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa buat janji kapan dan di mana saja dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu melalui Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play sebagai teman penolong untuk menjaga kesehatanmu sekeluarga.

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Brain Aneurysm – Symptoms and causes.