• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Buta Warna Parsial Menurun ke Anak?

Bisakah Buta Warna Parsial Menurun ke Anak?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Buta warna parsial adalah salah satu tipe buta warna yang terjadi ketika pengidapnya tidak bisa melihat beberapa macam warna saja, bukan semua jenis warna seperti pada buta warna total. Jenisnya pun terbagi lagi menjadi 2, yaitu buta warna merah-hijau dan biru-kuning. Lantas, mengapa buta warna parsial bisa terjadi dan apakah buta warna parsial bisa menurun ke anak? 

Perlu diketahui bahwa kerucut dalam mata merespon pada warna berbeda. Sebagian besarnya merespon pada warna merah, sebagian kecil pada warna hijau, dan hanya sedikit bagian yang merespons pada warna biru. Nah, pada orang dengan buta warna parsial, sel-sel kerucut tersebut mengalami kerusakan. Kondisi ini biasanya diturunkan dari orangtua dengan kelainan fotopigmen ke anak. Gen yang menurunkan buta warna parsial umumnya adalah kromosom X, sehingga kondisi ini lebih banyak terjadi pada pria, dibanding wanita.

Baca juga: Mengenal Buta Warna pada Anak

Bagaimana Buta Warna Parsial Bisa Menjadi Penyakit Keturunan?

Kebanyakan kasus buta warna parsial yang ditemukan adalah kondisi genetik. Artinya, pengidap buta warna mendapatkan kondisi tersebut melalui keturunan dari orangtuanya. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada pria. Namun, pada beberapa kasus, wanita juga memiliki peluang untuk mengalami buta warna parsial. Sebagai penyakit keturunan, buta warna parsial umumnya diturunkan dari ibu ke anak laki-lakinya.

Hal ini karena wanita biasanya menjadi pembawa kelainan genetik tersebut. Wanita yang membawa kelainan genetik memang belum tentu akan mengidap penyakit buta warna. Namun, ada kemungkinan ia akan melahirkan bayi dengan kondisi ini. Sementara itu, pria yang mengidap buta warna memiliki peluang kecil menurunkan penyakit tersebut ke anaknya. Kecuali ia memiliki pasangan wanita yang menjadi pembawa kelainan genetik buta warna.

Buta warna diturunkan pada kromosom ke-23, yang juga berperan dalam menentukan jenis kelamin. Perlu diketahui bahwa kromosom adalah struktur yang mengandung gen, yang bertugas untuk menginstruksikan pembentukan sel, jaringan, dan organ di dalam tubuh. Kromosom ke-23 terdiri atas dua bagian. Wanita memiliki dua kromosom X, sedangkan pria terdiri dari kromosom X dan Y.

Baca juga: Bisakah Buta Warna Disembuhkan?

Kelainan gen yang menyebabkan buta warna parsial hanya ditemukan pada kromosom X. Artinya, laki-laki yang mengidap buta warna memiliki kelainan gen hanya pada kromosom X-nya. Sementara itu, seorang wanita akan menurunkan buta warna parsial pada anaknya jika terdapat kelainan di kedua kromosom X-nya.

Faktor Lain yang Sebabkan Buta Warna Parsial

Genetik memang merupakan faktor utama dan paling umum dari buta warna parsial. Namun ternyata, kondisi ini juga dapat terjadi karena berbagai faktor lain, lho. Berikut beberapa faktor lain yang dapat sebabkan buta warna parsial:

1. Retinopati Diabetik

Penyakit degenerasi makula dan retinopati diabetik dapat menyebabkan kerusakan pada retina tempat sel kerucut berada. Hal inilah yang menyebabkan orang dengan diabetes bisa saja mengalami buta warna parsial.

Baca juga: 5 Cara Tes Buta Warna yang Akurat

2. Penyakit pada Otak

Pengidap Alzheimer dan Parkinson juga memiliki kecenderungan mengalami buta warna parsial. Selain itu, orang-orang yang mengidap demensia juga umumnya menghadapi kesulitan dengan persepsi penglihatan hingga salah menginterpretasi warna yang dimaksud.

3. Kecelakaan

Pada beberapa kasus, kecelakaan atau cedera berat pada mata juga bisa mengakibatkan sel kerucut dalam retina mengalami kerusakan, sehingga seseorang bisa mengalami buta warna parsial.

Itulah beberapa faktor yang bisa sebabkan buta warna parsial. Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan khusus yang dapat mengembalikan kemampuan pengidap buta warna sepenuhnya. Namun, pengidap buta warna dapat melatih dirinya agar terbiasa dengan kondisi ini. Latihannya seperti apa? Kamu bisa tanyakan pada dokter di aplikasi Halodoc lewat chat atau buat janji temu dengan dokter di rumah sakit agar lebih jelas.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Colour vision deficiency (colour blindness).
Colour Blind Awareness. Diakses pada 2020. Causes of Colour Blindness.