Cancel Culture, Ini Pengertian dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Bentuk cancel culture bisa berupa kritik pedas, boikot terhadap karya atau produk, hingga tekanan.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Cancel Culture?
- Akar Sejarah Cancel Culture
- Dampak Cancel Culture pada Kesehatan Mental
- Dampak Cancel Culture pada Masyarakat
- Dampak Positif Cancel Culture
- Bagaimana Menghadapi Cancel Culture?
- Kesimpulan
- FAQ
Cancel culture adalah praktik memboikot atau menarik dukungan dari seseorang, merek, atau figur publik karena ucapan atau tindakan yang dianggap salah atau ofensif.
Dalam era digital saat ini, istilah cancel culture semakin sering terdengar, terutama di media sosial.
Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan fenomena sosial di mana seseorang atau kelompok secara massal dikritik, dihakimi, bahkan “dibatalkan” karena ucapan, tindakan, atau kesalahan yang pernah dilakukan.
Apa Itu Cancel Culture?
Cancel culture adalah praktik sosial yang muncul dari media sosial, di mana individu atau kelompok diprotes dan dijauhi secara online karena dianggap melakukan hal yang salah atau kontroversial.
Bentuknya bisa berupa kritik pedas, boikot terhadap karya atau produk, hingga tekanan agar orang tersebut kehilangan pekerjaan atau reputasi.
Intinya, cancel culture berupaya “membatalkan” keberadaan sosial seseorang sebagai bentuk hukuman sosial tanpa proses hukum resmi.
Meski kadang berfungsi untuk menegakkan keadilan sosial, cancel culture juga sering dianggap sebagai bentuk bullying digital yang berlebihan.
Wajib untuk diketahui, Ini Perbedaan Psikiater dan Psikolog dalam Mengatasi Gangguan Mental.
Akar Sejarah Cancel Culture
Meskipun istilah “cancel culture” baru populer dalam beberapa tahun terakhir, konsep serupa telah ada selama berabad-abad.
Contohnya termasuk boikot ekonomi dan pengucilan sosial sebagai bentuk protes terhadap perilaku yang tidak dapat diterima.
Namun, dengan munculnya media sosial, cancel culture menjadi lebih cepat, lebih luas, dan seringkali lebih intens.
Media sosial memberikan platform bagi individu untuk dengan cepat menyuarakan ketidaksetujuan dan mengorganisir aksi kolektif.
Hal ini memungkinkan cancel culture untuk menyebar dengan cepat dan berdampak signifikan pada targetnya.
Dampak Cancel Culture pada Kesehatan Mental
Cancel culture tidak hanya berdampak pada reputasi seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis secara signifikan.
Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain:
1. Stres dan kecemasan
Orang yang menjadi sasaran cancel culture biasanya mengalami tekanan mental yang sangat besar.
Serangan verbal dan komentar negatif yang masif dapat menimbulkan stres berkepanjangan dan rasa cemas yang mendalam.
2. Depresi
Seringnya kritik dan penolakan sosial dalam skala besar dapat membuat korban merasa terisolasi, kehilangan harga diri, dan akhirnya mengalami depresi.
Dampak ini bisa berlangsung lama bahkan setelah tekanan dari publik mereda.
3. Gangguan tidur
Rasa takut, cemas, dan tekanan psikologis akibat cancel culture juga bisa menyebabkan gangguan tidur seperti insomnia.
Kurang tidur ini kemudian memperparah kondisi mental dan fisik seseorang.
4. Penurunan produktivitas dan motivasi
Korban cancel culture cenderung kehilangan motivasi untuk bekerja atau berkarya.
Perasaan tidak dihargai dan takut melakukan kesalahan lagi membuat produktivitas menurun drastis.
Dampak Cancel Culture pada Masyarakat
Selain individu, cancel culture juga berdampak pada masyarakat luas. Suasana sosial bisa menjadi lebih tegang, penuh ketakutan, dan intoleran.
Orang-orang jadi lebih berhati-hati dalam mengungkapkan pendapat, takut salah ucap dan langsung “dibatalkan”.
Hal ini bisa menghambat kebebasan berekspresi dan diskusi sehat.
Baca juga: Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Mental.
Dampak Positif Cancel Culture
Meskipun sering dikaitkan dengan dampak negatif, cancel culture juga dapat memiliki beberapa dampak positif:
- Akuntabilitas: Cancel culture dapat mendorong individu dan organisasi untuk bertanggung jawab atas tindakan dan perkataan mereka.
- Kesadaran sosial: Praktik ini dapat meningkatkan kesadaran tentang isu-isu sosial yang penting dan mempromosikan perilaku yang lebih etis.
- Perubahan positif: Dalam beberapa kasus, cancel culture dapat memicu perubahan positif dalam kebijakan perusahaan atau perilaku individu.
Namun, penting untuk diingat bahwa efektivitas dan etika cancel culture masih menjadi perdebatan.
Terkadang, tindakan ini dapat berlebihan dan tidak proporsional dengan kesalahan yang dilakukan.
Bagaimana Menghadapi Cancel Culture?
Menghadapi fenomena cancel culture membutuhkan sikap bijak dan pemikiran terbuka agar tidak terjebak pada emosi sesaat.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Jangan terburu-buru menyimpulkan sebelum mencari fakta dan mendengar penjelasan dari semua pihak.
- Kembangkan empati dan hindari memberikan komentar yang bisa menyakiti orang lain secara berlebihan.
- Jaga kesehatan mental dengan mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional jika merasa tertekan.
- Fokus pada perbaikan diri daripada terjebak dalam konflik sosial yang destruktif.
Kesimpulan
Cancel culture merupakan fenomena sosial yang memiliki dua sisi: bisa menjadi alat kontrol sosial yang efektif, namun juga berpotensi merusak kesehatan mental individu yang menjadi korban.
Dengan memahami pengertian dan dampak cancel culture, kita bisa lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya dan menjaga kesehatan mental bersama.
Jika kamu merasa tertekan atau kewalahan akibat cancel culture, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog lewat Halodoc agar mendapatkan dukungan yang tepat.
Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
Verywell Mind. Diakses pada 2025. Cancel Culture Examples and Mental Health Effects.
High Focus Centers Pennsylvania. Diakses pada 2025. Cancel Culture & Social Media: How It’s Hurting Our Teens.
Waterloo CBT Clinic. Diakses pada 2025. Cancel Culture.
FAQ
1. Apakah cancel culture itu baik atau buruk?
Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk akuntabilitas, sementara yang lain melihatnya sebagai hukuman tidak adil yang bisa membungkam kebebasan berekspresi.
2. Siapa saja yang bisa terkena cancel culture?
Cancel culture bisa menimpa siapa saja, selebriti, politisi, perusahaan, bahkan individu biasa, jika tindakannya memicu reaksi publik.
3. Apa dampak dari cancel culture?
Cancel culture bisa merusak reputasi, karier, atau bisnis, tetapi juga dapat meningkatkan kesadaran publik tentang isu keadilan sosial.
4. Apakah cancel culture sama dengan akuntabilitas?
Tidak selalu. Akuntabilitas menekankan tanggung jawab dan perubahan, sementara cancel culture lebih condong pada penolakan atau pengucilan.


