• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gangguan pada Ginjal Bisa Dideteksi dengan Cek Urine

Gangguan pada Ginjal Bisa Dideteksi dengan Cek Urine

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Gangguan pada Ginjal Bisa Dideteksi dengan Cek Urine

Halodoc, Jakarta - Agar bisa memberikan hasil diagnosis yang lebih akurat terhadap suatu masalah kesehatan, dokter umumnya akan melakukan sederetan pemeriksaan medis penunjang. Salah satunya adalah cek urine atau dikenal sebagai urinalisis. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa mengetahui apakah urine masih berada dalam kategori normal atau mengindikasikan adanya gangguan kesehatan tertentu.

Air seni, atau kamu mungkin lebih mudah menyebutnya urine, merupakan limbah dari tubuh yang dikeluarkan oleh ginjal. Pada kondisi normal, urine seseorang mengandung urea, air, amonia, asam laktat, asam urat, asam sulfat, kreatinin, dan zat lain yang berlebih dan tidak lagi digunakan, termasuk vitamin C.

Urine yang normal dan sehat memiliki warna sedikit kuning karena adanya pengaruh dari zat warna empedu. Jika warnanya berubah, seperti kemerahan atau kuning pekat, mungkin kamu sedang menunjukkan gejala penyakit tertentu. Jika demikian, segera periksakan diri ke dokter untuk bisa mendapatkan penanganan.

Baca juga: Benarkah Sering Minum Soda Bisa Terkena Penyakit Ginjal?

Cek Urine untuk Mendeteksi Gangguan Ginjal

Biasanya, petugas akan melakukan pemeriksaan sampel urine pada bau, warna, dan kejernihannya. Tidak hanya itu, tingkat asam dan basa atau pH, kandungan glukosa, nitrit, protein, bilirubin, sel darah merah dan putih, hingga kemungkinan adanya bakteri dalam urine pun turut dilakukan pemeriksaan.

Lalu, mengapa perlu dilakukan cek urine? Ternyata, pemeriksaan penunjang ini bisa membantu dokter mengetahui jika ada organ tubuh kamu yang tidak berfungsi dengan normal, salah satunya adalah ginjal. Melalui tes ini, keabnormalan pada ginjal bisa segera diidentifikasi, termasuk tumor, infeksi, kelainan yang bersifat genetik, hingga gangguan pada sistem metabolik. 

Jika kamu mengalami gangguan pada ginjal, kamu cenderung akan merasa mudah sesak napas, napas menjadi tersengal ketika kamu melakukan aktivitas yang cukup berat, nyeri pada pinggang, dan masalah ketika berkemih atau buang air kecil, seperti nyeri dan intensitas buang air kecil yang meningkat. 

Baca juga: Hindari 5 Minuman Ini untuk Ginjal Sehat

Pengidap penyakit ginjal biasanya memiliki warna urine yang berbeda dari normal, yaitu kemerahan, oranye tua, atau bahkan kecoklatan. Jika urine berbusa ketika dikeluarkan, mungkin ada indikasi terlalu banyak protein yang terbuang bersama. 

Kalau kamu merasakan adanya gejala yang mengarah pada gangguan ginjal, kamu bisa tanya langsung dengan dokter spesialis. Pakai aplikasi Halodoc, jadi kamu bisa tanya jawab setiap saat. Jika memang perlu ke rumah sakit, kamu juga bisa buat janji di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, tentunya lebih mudah dan cepat.

Persiapan dan Prosedur Melakukan Cek Urine

Sebelum melakukan cek urine, kamu biasanya akan diminta untuk banyak mengonsumsi air mineral, sehingga akan lebih mudah untuk buang air kecil nantinya. Berbeda dengan tes darah, kamu tidak perlu berpuasa untuk melakukan pemeriksaan urine. Namun, jangan lupa untuk memberitahu dokter atau petugas jika kamu sedang mengonsumsi obat atau vitamin ya, karena ada beberapa jenis obat yang bisa mengganggu keakuratan hasil pemeriksaan.

Baca juga: Gaya Hidup Sehat untuk Pemilik Satu Ginjal

Setelahnya, petugas akan memberikan kamu tabung khusus untuk wadah menampung urine. Tidak perlu banyak, kamu hanya perlu menampung antara 30 hingga 60 mililiter atau sekitar setengah tabung. Sebelum menampung, pastikan kamu sudah membersihkan lubang kencing terlebih dahulu, dan buang aliran kencing pertama sedikit saja. 

Pemeriksaan urine cenderung aman dan minim risiko, kok. Kamu bisa melakukannya di rumah sakit yang memiliki laboratorium atau klinik terdekat yang telah dilengkapi dengan fasilitas ini, ya!

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2020. Urinalysis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Urinalysis.