• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala Demam pada Anak dengan Demam Berdarah, Apa Bedanya?

Gejala Demam pada Anak dengan Demam Berdarah, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Setiap orangtua tentu cemas jika muncul gejala demam pada anak. Namun, demam sebenarnya merupakan gejala umum dari berbagai jenis penyakit. Mulai dari yang ringan, hingga yang serius seperti demam berdarah. Gejala demam berdarah pada fase awal memang mirip dengan sakit demam biasa. Itulah sebabnya banyak kasus demam berdarah yang jadi fatal karena terlambat ke dokter. Untuk itu, ibu perlu mengetahui bedanya demam pada anak dengan demam berdarah.

Secara umum, ada beberapa tanda yang patut dicurigai sebagai gejala demam berdarah pada anak. Salah satunya adalah gejala demam yang datang tiba-tiba atau mendadak. Misal, jika Si Kecil pada pagi hari masih beraktivitas seperti biasa, lalu pada malamnya tiba-tiba demam tinggi hingga lebih dari 38 derajat Celcius, ibu patut curiga adanya gejala demam berdarah pada anak.

Baca juga: Hati-Hati DBD yang Bisa Diketahui Lewat Air Liur

Bedanya Demam Biasa dan Demam Berdarah pada Anak

Salah satu cara membedakan demam biasa dan demam berdarah pada anak adalah dengan melihat gejala yang menyertainya. Pada demam berdarah, selain gejala demam, akan ada gejala lain yang muncul seperti sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri pada bagian belakang mata, dan ruam kulit. Selain itu, demam berdarah pada anak juga dapat memunculkan gejala seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare

Orangtua harus benar-benar hati-hati dan menuangkan perhatian ekstra jika Si Kecil masih berusia di bawah 5 tahun. Sebab, balita biasanya belum bisa mengungkapkan semua keluhan sakitnya dengan jelas dan spesifik. Ia bisa saja hanya menangis ketika merasa tubuhnya sakit.

Hati-hati juga jika gejala demam tiba-tiba turun setelah 3 hari. Sebab, pada kasus demam berdarah dengue, suhu tubuh yang turun setelah 3 hari merupakan fase kritis. Jadi, jangan sampai terkecoh dengan siklus demam yang dikenal dengan sebutan “demam pelana kuda” ini. Waspadai juga adanya risiko demam berdarah jika ada orang di lingkungan sekitar rumah yang telah terkena demam berdarah sebelumnya.

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar DBD

Penanganan yang Tepat untuk Gejala Demam Anak

Seperti telah dikatakan di awal, demam adalah gejala umum dari banyak penyakit. Jadi, orangtua tidak perlu langsung panik dan menyimpulkan bahwa gejala demam anak adalah demam berdarah. Agar lebih pasti, coba download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan darah dan memastikan diagnosis.

Jika memang anak didiagnosis demam berdarah, dokter biasanya akan melakukan perawatan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala dan meningkatkan sistem imun anak, agar bisa melawan virus yang menginfeksi tubuh. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah:

  • Jika dokter memberi resep obat untuk menurunkan demam, pastikan anak mengonsumsinya. Untuk membantu turunkan demam, dapat menggunakan kompres hangat pada dahi.
  • Pastikan anak istirahat yang cukup.
  • Berikan banyak air putih pada anak untuk mencegah dehidrasi.
  • Berikan makanan yang kaya nutrisi.
  • Hindari pemberian obat pereda nyeri seperti aspirin dan ibuprofen karena dapat memengaruhi kadar trombosit dalam darah dan meningkatkan risiko perdarahan.

Baca juga: Lakukan Hal Ini untuk Mengobati Gejala Demam Berdarah

Tidak jarang anak yang terkena demam berdarah harus dirawat di rumah sakit. Sebagai upaya untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang karena diare, muntah atau kehilangan nafsu makan, dokter akan memberikan cairan melalui infus. Pada kasus anak yang kehilangan banyak darah, transfusi darah biasanya diperlukan.

Referensi:
World Health Orgaization. Diakses pada 2020. Dengue and Severe Dengue.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dengue Fever.
Kids Health. Diakses pada 2020. Dengue Fever.
Baby Center. Diakses pada 2020. Dengue in Babies and Toddlers.