• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Primer, Apa Bedanya?

Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Primer, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Primer, Apa Bedanya?

Halodoc, Jakarta - Ketika berobat ke dokter, salah satu prosedur yang umum dilakukan adalah pemeriksaan tekanan darah. Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan jika seseorang memiliki tekanan darah yang normal, rendah, ataupun tinggi. 

Beberapa masalah kesehatan yang terjadi biasanya berkaitan dengan tekanan darah. Seperti halnya hipertensi yang erat dikaitkan dengan penyakit dewasa dan lansia, sekarang remaja dan dewasa muda bisa mengidapnya. 

Saat seseorang mengalami tekanan darah tinggi, masalah ini bisa disebabkan oleh banyak hal dan sebagian besar berhubungan dengan pola hidup dan kebiasaan yang tidak sehat. Perlu diketahui, hipertensi yang terjadi dapat terjadi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Lalu, apa sih beda dari kedua jenis hipertensi ini? 

Baca juga: 7 Tanda Darah Tinggi yang Harus Diketahui

Perbedaan Antara Hipertensi Primer dan Sekunder

Tekanan darah adalah seberapa tinggi tekanan pada darah yang mendorong dinding arteri di dalam tubuh. Arteri membawa darah dari jantung ke bagian tubuh lainnya. Faktanya, tekanan darah naik dan turun sepanjang hari, tetapi jika tekanannya terlalu tinggi, tentu dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih kompleks jika terjadi dalam waktu yang lama. 

Hipertensi disebut juga dengan tekanan darah tinggi karena tekanan darah lebih tinggi dari biasanya. Selain itu, hipertensi terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Berikut perbedaan dari kedua jenis tersebut:

Hipertensi Primer

Hipertensi primer yang disebut juga hipertensi esensial adalah tekanan darah tinggi primer yang terjadi tanpa penyebab yang pasti. Masalah ini terjadi saat tekanan darah tinggi lebih besar dari 130 sistolik dan 80 diastolik. Faktanya, gangguan ini termasuk umum terjadi pada seseorang yang mengidap hipertensi dengan kasus lebih dari 90 persen.

Meski begitu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap hipertensi primer, antara lain:

  1. Genetik, dikenal juga dengan faktor keturunan. Ya, hipertensi bisa terjadi karena riwayat kesehatan keluarga. Jadi, apabila orangtua atau keluarga kamu mengidap hipertensi, kamu juga berisiko mengalaminya. 
  2. Obesitas, yang terjadi karena pola makan dan pola hidup yang tidak sehat. Bahkan, risiko hipertensi pada pengidap obesitas lebih tinggi dua hingga enam kali lipat. 
  3. Konsumsi garam berlebihan, yang didapat dari konsumsi makanan cepat saji. Garam membuat volume cairan di dalam tubuh meningkat yang mengakibatkan tekanan darah turut meningkat untuk mengimbanginya. 
  4. Kurang asupan kalium, yang berperan untuk menstabilkan kadar garam di dalam tubuh. 
  5. Kebiasaan buruk, seperti merokok, stres, konsumsi alkohol berlebihan, dan sering begadang atau mengalami gangguan tidur. 

Baca juga: 5 Tanda Orang yang Berpotensi Terkena Hipertensi

Jika kamu mengidap gangguan ini, pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjauhi pemicu yang dapat menyebabkannya. Caranya adalah dengan rutin berolahraga atau banyak melakukan aktivitas fisik yang membakar kalori, membiasakan untuk melakukan pola hidup sehat, hentikan kebiasaan merokok, minum alkohol, dan istirahat cukup. 

Selain itu, jaga asupan makanan yang masuk ke tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta hindari makanan yang dapat memicu tekanan darah untuk meningkat. Hentikan konsumsi makanan cepat saji dan olahan makanan yang tinggi garam. 

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait perbedaan antara hipertensi primer dan sekunder, dokter dari Halodoc siap memberikan jawaban. Dengan download aplikasi Halodoc, kamu bisa berinteraksi dengan ahli medis melalui fitur Chat dan Voice/Video Call. Unduh aplikasinya sekarang juga!

Hipertensi Sekunder

Berbeda dengan hipertensi primer, pada hipertensi sekunder memiliki penyebab yang jelas, yaitu karena kondisi medis tertentu. Salah satu kondisi medis yang sangat rentan untuk terjadi akibat hipertensi adalah penyakit ginjal. Hal ini wajar terjadi karena salah satu fungsi ginjal adalah untuk mengontrol tekanan darah. Saat tekanan darah terus naik, ginjal semakin sulit untuk mengontrolnya dan akhirnya bermasalah.

Faktanya, glomerulonefritis dan penyakit ginjal polikistik adalah dua di antara sekian banyak gangguan ginjal yang memicu terjadinya hipertensi. Penyakit lainnya seperti gangguan pada kelenjar adrenal yang memiliki peran yang sama dengan ginjal, yaitu mengontrol tekanan darah. Sindrom Cushing dan Pheochromocytoma adalah dua contoh penyakit yang berhubungan dengan kelenjar adrenal. 

Gejala dari hipertensi sekunder mungkin tidak terlihat hingga masalah ini sangat parah. Beberapa gejala yang dapat terjadi, termasuk penglihatan menjadi kabur, perasaan goyah dan sensasi pusing, hingga sakit kepala yang parah. Meski begitu, hipertensi sekunder dapat dicegah jika seseorang dapat mengontrol masalah medis yang menyebabkannya.

Baca juga: 8 Cara Sederhana Turunkan Tekanan Darah

Seseorang yang mengidap hipertensi primer dapat diatasi dengan mengubah pola hidup dan pola makan yang sehat. Sedangkan hipertensi sekunder, dapat diatasi dengan obat-obatan berdasarkan segala penyebab yang mendasarinya. Meski begitu, pola hidup sehat tetap harus diterapkan untuk membuat tekanan darah lebih baik sehingga hipertensi tidak mudah kambuh.

Referensi:
Difference Between. Diakses pada 2021. Difference Between Primary and Secondary Hypertension.
Beth and Howard Baver. Diakses pada 2021. The Difference Between Primary and Secondary Hypertension.