• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kemoterapi Bisa Mengobati Kanker Rektum, Ini Alasannya

Kemoterapi Bisa Mengobati Kanker Rektum, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Rektum adalah bagian ujung usus besar dan merupakan saluran pendek yang mengarah ke anus. Rektum dan usus besar adalah tempat makanan dicerna dan diubah menjadi energi untuk tubuh. Sisa dari pencernaan ini kemudian dibuang dalam bentuk feses atau tinja melalui anus. Akibat beberapa hal, sel kanker bisa tumbuh di rektum, tepatnya pada sel-sel yang melapisi bagian dalam rektum.

Kanker rektum, sering juga disebut kanker kolorektal dan biasanya tidak langsung berkembang menjadi kanker. Ia awalnya hanya polip prekanker, yang terkadang bisa tidak berbahaya. Namun, tidak jarang pula jaringan polip ini berkembang menjadi sel kanker. Beberapa langkah pengobatan bisa diterapkan, seperti kemoterapi, pembedahan, hingga terapi radiasi.

Baca juga: Benarkah Alkoholik Berisiko Terserang Kanker Rektum?

Lantas, Benarkah Kemoterapi adalah Pengobatan Paling Tepat?

Pengobatan yang tepat untuk mengatasi kanker rektum dilakukan berdasarkan stadium. Pengobatan bisa saja merupakan kombinasi antara operasi, kemoterapi dan radioterapi. Di dalam proses kemoterapi, dokter memberikan serangkaian obat yang akan diberikan dengan cara disuntikkan atau diminum untuk membunuh sel-sel kanker. Jika diperlukan, pembedahan juga dilakukan untuk membuang jaringan tumor atau seluruh bagian rektum. Biasanya, dokter bedah juga mengangkat lemak dan kelenjar limfa di sekitar rektum supaya sel kanker tidak berkembang lagi.

Untuk melengkapi dan memastikan sel kanker benar-benar hilang, terapi radiasi bisa dilakukan. Terapi ini menggunakan cahaya berkekuatan tinggi, seperti X-ray, untuk membunuh sel-sel kanker.

Baca juga: Diagnosis untuk Deteksi Kanker Rektum

Apa Saja Sih Gejala dari Kanker Rektum?

Saat mengalami kanker rektum, akan terjadi beberapa gejala, antara lain: 

  • Perubahan kebiasaan buang air besar;

  • Terdapat lendir atau darah saat buang air besar. Darah dapat berupa gumpalan darah atau bercak darah pada tinja;

  • Diare atau sembelit secara bergantian;

  • Merasa tidak puas setelah buang air besar atau merasa tidak kosong sepenuhnya;

  • Kotoran yang lebih kecil atau memiliki bentuk yang berbeda dari biasanya;

  • Perut tidak nyaman seperti merasa ada gas, kembung, perasaan penuh, atau kram;

  • Nafsu makan menurun;

  • Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas; dan

  • Merasa sangat lelah.

Sangat mungkin terjadi beberapa gejala seperti yang tidak disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lengkap mengenai kanker rektum, kamu bisa chat dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dokter akan memberikan saran yang tepat sesuai kondisi kesehatan kamu.

Adakah Perawatan Rumahan yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Kanker Rektum?

Terdapat beberapa gaya hidup dan pengobatan rumahan yang bisa diterapkan untuk mengatasi kanker rektum, antara lain:

  • Perbanyak konsumsi gandum utuh, buah dan sayuran, dan mengurangi asupan daging merah dan daging olahan karena mereka sulit dicerna;

  • Sangat disarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik; 

  • Sering duduk dalam jangka lama dikaitkan dengan angka kematian akibat penyakit ini oleh karena itu sebaiknya kamu lebih aktif lagi bergerak; 

  • Risiko kanker rektum juga bisa dikurangi dengan menjaga berat badan yang sehat.

Apa Penyebab Kanker Rektum?

Kanker rektum bisa terjadi saat sel-sel yang terdapat di rektum mengalami kerusakan pada DNA-nya. Sayangnya hingga saat ini, para ahli belum mengetahui penyebab kondisi ini terjadi.  Sel-sel yang normal biasanya tumbuh dan bereplikasi, lalu mati dan digantikan dengan yang baru. Namun, pada beberapa kasus, DNA di dalam sel bisa rusak dan menyebabkan sel-sel tersebut terus berkembang secara tak terkendali.

Baca juga: 2 Cara Pilih Nutrisi yang Tepat bagi Pengidap Kanker

Sel-sel yang berlebihan ini kemudian terus menumpuk dan membentuk jaringan yang kemudian dikenal dengan tumor. Lambat laun, sel-sel ini berkembang menjadi sel kanker yang dapat menyerang jaringan di sekitarnya. Bahkan, sel-sel kanker ini bisa menyebar ke tubuh lain jika perawatan tidak segera dilakukan. 

Walaupun penyebab pasti dari kerusakan DNA belum diketahui, para ahli yakin bahwa ada berbagai faktor yang memicu terjadinya kondisi ini. Salah satu yang paling umum adalah mutasi genetik, baik yang diturunkan dari keluarga maupun yang didapat (acquired).

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Rectal Cancer.
American Cancer Society. Diakses pada 2019. Rectal Cancer.