• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenapa Anak-Anak Rentan Terkena SARS?

Kenapa Anak-Anak Rentan Terkena SARS?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Sindrom pernapasan akut berat atau SARS (Severe acute respiratory syndrome) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus, yang disebut coronavirus terkait SARS (SARS-CoV). Meskipun SARS bisa menyerang siapa saja, tetapi anak-anak dikatakan paling rentan terkena penyakit tersebut. Yuk, cari tahu alasannya di sini.

SARS adalah penyakit yang dapat menular dengan cepat dan berpotensi fatal. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), SARS menjadi wabaha yang menjadi ancaman global pada Maret 2003. Penyakit pernapasan ini pertama kali muncul di Tiongkok Selatan pada November 2002 dan sudah menyebar ke lebih dari 24 negara di Asia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Untungnya, belum ditemukan lagi kasus baru SARS sejak 2004 dan penyakit tersebut sudah sangat minim terjadi.

Secara umum, orang-orang yang berisiko tinggi terkena SARS adalah mereka yang melakukan kontak langsung dan dekat dengan pengidap yang terinfeksi virus, seperti anggota keluarga dan petugas medis. Namun, anak-anak dan orangtua juga adalah kelompok orang yang rentan terkena SARS karena mereka memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga dapat dengan mudah terserang virus.

Cara Penyebaran SARS yang Perlu Diketahui

Sebagian besar penyakit pernapasan, termasuk SARS, menyebar melalui percikan liur yang ada di udara ketika pengidap batu, bersin, atau berbicara. Selain itu, sebagian besar ahli juga percaya bahwa penyebaran SARS yang paling utama adalah melalui kontak pribadi yang dekat, seperti merawat seseorang dengan SARS. Virus tersebut juga dapat menyebar pada benda-benda yang terkontaminasi, seperti gagang pintu, telepon dan tombol lift.

Pada anak-anak, SARS-CoV seringkali menyebar ketika seorang anak menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan liur pengidap, dan kemudian menyentuh mulut, hidung atau matanya.

Baca juga: Waspada, SARS Dapat Sebabkan Komplikasi Penyakit Ini

Gejala SARS pada Anak

SARS pada anak-anak seringkali sulit diketahui karena gejalanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya, seperti influenza. SARS biasanya dimulai dengan demam yang tinggi sekitar 38 derajat lebih dan semakin berkembang dengan munculnya gejala-gejala lain berikut:

  • Sakit kepala.

  • Tidak enak badan.

  • Tubuh terasa sakit dan kedinginan.

  • Sakit tenggorokan.

  • Batuk.

  • Pneumonia.

  • Sulit bernapas.

  • Sesak napas.

  • Hipoksia, yaitu kekurangan oksigen dalam darah.

  • Diare (terjadi pada 10-20 persen pengidap).

Saat ini, belum ada tes untuk mendiagnosis SARS. Karena gejala-gejala SARS terlihat mirip dengan kondisi lainnya, orangtua sebaiknya membawa anak ke dokter untuk memastikan diagnosis.

Baca juga: Begini Pemeriksaan untuk Deteksi SARS

Cara Mencegah SARS

Sayangnya, sampai saat ini juga belum ada vaksin untuk mencegah SARS. Karena itu, CDC merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk mencegah SARS pada anak:

  • Ingatkan anak untuk mencuci tangan secara teratur dengan air mengalir dan sabun.

  • Ingatkan Si Kecil untuk tidak menyentuh mata, hidung dan mulutnya.

  • Ajarkan anak untuk menggunakan tisu sekali pakai untuk menutup mulut saat batuk daripada menggunakan tangan. Setelah itu, segera buang tisu yang sudah digunakan.

  • Ingatkan anak untuk menghindari berbagi makanan, minuman atau peralatan makan dengan orang lain.

  • Orangtua juga perlu membantu menjaga kebersihan anak dengan rutin mencuci peralatan, handuk, barang-barang lainnya yang sering digunakan anak dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

Baca juga: Cara Pengobatan SARS yang Penting Untuk Diketahui

Nah, itulah penjelasan mengenai mengapa anak-anak rentan terkena SARS. Bila ibu ingin bertanya-tanya lebih lanjut tentang cara mencegah SARS pada anak, gunakan saja aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa menghubungi dokter untuk bertanya-tanya seputar kesehatan kapan dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Severe acute respiratory syndrome (SARS).