Mata Silinder: Faktor Risiko yang Perlu Kamu Tahu
Riwayat keluarga dengan astigmatisme merupakan salah satu faktor risiko mata silinder.

DAFTAR ISI
- Faktor Risiko Mata Silinder
- Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Mata Silinder
- Gejala Mata Silinder
- Diagnosis Mata Silinder
- Cara Mengatasi Mata Silinder
- Pencegahan Mata Silinder
- Kapan Harus ke Dokter?
- Hubungi Dokter Spesialis Mata di Halodoc
Mata silinder, atau astigmatisme, adalah kondisi umum pada mata yang menyebabkan penglihatan kabur atau distorsi.
Kondisi ini terjadi ketika kornea (lapisan depan mata) atau lensa di dalam mata tidak memiliki kelengkungan yang sempurna.
Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak dapat difokuskan dengan tepat pada retina, yang menyebabkan penglihatan menjadi tidak jelas.
Faktor Risiko Mata Silinder
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami mata silinder. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu dalam mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.
1. Faktor Genetik
Riwayat keluarga dengan mata silinder merupakan salah satu faktor risiko utama. Jika orang tua atau saudara kandung memiliki astigmatisme, kemungkinan seseorang untuk mengalami kondisi ini juga meningkat.
Faktor genetik berperan penting dalam menentukan bentuk dan kelengkungan kornea dan lensa mata.
2. Cedera atau Operasi Mata
Cedera pada mata atau riwayat operasi mata tertentu dapat menyebabkan perubahan pada permukaan kornea, yang kemudian dapat memicu terjadinya astigmatisme.
Jaringan parut yang terbentuk setelah cedera atau operasi dapat mengubah bentuk kornea dan mempengaruhi cara mata memfokuskan cahaya.
Baca juga: Katarak hingga Lasik, Ini Jenis Operasi Mata yang Perlu Diketahui.
3. Kelainan Refraksi
Kelainan refraksi lain seperti rabun jauh (miopia) dan rabun dekat (hipermetropi) yang parah sering kali terkait dengan mata silinder.
Kondisi-kondisi ini menyebabkan kesulitan dalam memfokuskan cahaya pada retina, yang dapat memperburuk atau memicu astigmatisme.
Koreksi yang tidak tepat untuk kelainan refraksi ini juga dapat berkontribusi pada perkembangan mata silinder.
Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Mata Silinder
Beberapa kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko terjadinya mata silinder:
- Membaca dengan jarak terlalu dekat.
- Penggunaan gadget dalam waktu lama tanpa istirahat yang cukup.
- Kurang tidur.
- Kebiasaan-kebiasaan ini dapat menyebabkan ketegangan pada otot mata dan mempengaruhi bentuk kornea atau lensa.
Gejala Mata Silinder
Gejala mata silinder bervariasi tergantung pada tingkat keparahan kondisi. Beberapa gejala umum meliputi:
- Penglihatan kabur atau terdistorsi pada semua jarak.
- Mata tegang.
- Sakit kepala.
- Kesulitan melihat di malam hari.
- Menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas.
Jika mengalami gejala-gejala ini, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter mata untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Baca selengkapnya: Ini Ciri Mata Silinder dan Cara Mengatasinya yang Tepat.
Diagnosis Mata Silinder
Diagnosis mata silinder biasanya dilakukan melalui pemeriksaan mata komprehensif oleh dokter mata. Beberapa tes yang umum dilakukan meliputi:
- Pemeriksaan ketajaman visual: Mengukur kemampuan mata untuk melihat huruf atau simbol pada berbagai jarak.
- Refraksi: Menentukan resep lensa yang tepat untuk mengoreksi kelainan refraksi.
- Keratometri: Mengukur kelengkungan kornea.
Cara Mengatasi Mata Silinder
Mata silinder dapat dikoreksi dengan beberapa metode, antara lain:
- Kacamata: Lensa silinder pada kacamata membantu memfokuskan cahaya dengan tepat pada retina.
- Lensa kontak: Lensa kontak torik dirancang khusus untuk mengoreksi astigmatisme.
- Operasi refraktif (LASIK): Prosedur bedah yang mengubah bentuk kornea untuk memperbaiki fokus mata.
Pilihan pengobatan terbaik tergantung pada tingkat keparahan astigmatisme dan preferensi individu.
Pencegahan Mata Silinder
Meskipun tidak semua faktor risiko mata silinder dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko atau memperlambat perkembangan kondisi ini:
- Menjaga jarak yang tepat saat membaca atau menggunakan perangkat elektronik.
- Mengambil istirahat secara teratur saat menggunakan gadget.
- Memastikan tidur yang cukup.
- Melakukan pemeriksaan mata rutin.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera hubungi dokter mata jika mengalami gejala-gejala mata silinder, terutama jika penglihatan kabur mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan mata rutin juga penting untuk mendeteksi masalah mata sejak dini dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Jika mengalami gejala mata silinder, segera konsultasikan dengan dokter mata di Halodoc untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Jangan tunda untuk memeriksakan mata secara rutin, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan masalah mata atau sering melakukan aktivitas yang dapat membebani mata.
Hubungi Dokter Spesialis Mata di Halodoc
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala mata silinder yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera hubungi dokter di Halodoc.
Dokter spesialis mata berikut sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun, sehingga mereka mampu memberikan penanganan yang tepat.
Tak perlu khawatir, sebab mereka telah menerima ulasan yang baik dari pasien-pasien sebelumnya yang mereka tangani.
Berikut ini dokter yang bisa kamu hubungi:
1. dr. Febria Restissa Sp.M

Kamu bisa berkonsultasi pada dr. Febria Restissa Sp.M, seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya pada tahun 2011 dan 2018.
Ia juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dengan nomor STR 1621603323130387 dan kini menjalani praktik di Tangerang, Banten.
Dengan pengalaman sebagai dokter mata selama 14 tahun, dr. Febria Restissa Sp.M mampu menjawab pertanyaan kamu seputar penanganan gangguan mata, termasuk mata silinder.
Tak hanya itu, ia juga bisa memberikan konsultasi seputar infeksi mata, gangguan retina, mata bintitan, maupun penglihatan buram.
Chat dr. Febria Restissa Sp.M mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
2. dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M

Dokter rekomendasi berikutnya adalah dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana pada tahun 2007 dan 2019.
Saat ini, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M berpraktik di Tabanan, Bali, dan merupakan anggota dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
Dengan pengalaman selama 17 tahun, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M dapat memberikan saran tentang perawatan mata silinder.
Selain itu, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M juga mampu memberikan konsultasi mengenai mata bintitan, pembuluh darah pecah, penglihatan buram, dan infeksi mata.
Chat dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc
Dokter spesialis mata tersebut siap membantu kamu dalam mengatasi gangguan mata silinder yang kamu alami.
Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kapan saja dan di mana saja.
Tak perlu khawatir jika dokter sedang offline atau tidak tersedia. Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.
Tunggu apa lagi? Ayo, hubungi dokter di Halodoc sekarang juga!


