Ad Placeholder Image

Penyebab Raja Singa atau Sifilis yang Perlu Diketahui

10 menit
Ditinjau oleh  dr. Erlian Dimas SpDVE   25 Februari 2026

Raja singa atau sifilis merupakan penyakit menular seksual yang bisa menyebabkan komplikasi serius.

Penyebab Raja Singa atau Sifilis yang Perlu DiketahuiPenyebab Raja Singa atau Sifilis yang Perlu Diketahui

DAFTAR ISI


Raja singa adalah sebutan lain dari sifilis, yaitu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. 

Itu sebabnya, kamu perlu mengetahui lebih dalam tentang raja singa, terutama penyebabnya. Dengan begitu, kamu bisa semakin waspada dan menerapkan tindakan pencegahan.

Apa Itu Raja Singa?

Penyakit sifilis tidak bisa dibiarkan dan perlu segera diobati. Pasalnya, kondisi ini bisa cepat berkembang dalam beberapa tahapan.

Mulai dari tahap primer, sekunder, laten, sampai ersier. Masing-masing tahap ini memiliki gejala yang berbeda dan tingkat keparahan yang bervariasi.

Pada tahap primer, sifilis biasanya dimulai dengan munculnya luka di area genital, anus, atau mulut.

Luka ini sering kali tidak diperhatikan karena tidak menimbulkan rasa sakit dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu. 

Namun, meskipun luka sembuh, bakteri masih ada dalam tubuh dan dapat berkembang ke tahap selanjutnya.

Tahap sekunder ditandai dengan munculnya ruam di kulit, biasanya di telapak tangan dan telapak kaki.

Selain ruam, muncul juga gejala lain seperti demam, sakit tenggorokan, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. 

Gejala-gejala tersebut juga bisa hilang tanpa pengobatan, tetapi bakteri tetap aktif dalam tubuh. 

Jika tidak diobati, sifilis dapat masuk ke tahap laten, di mana tidak ada gejala yang muncul, namun bakteri masih ada dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ-organ tubuh dalam jangka panjang. 

Tahap tersier adalah tahap paling berbahaya, di mana sifilis dapat merusak organ-organ vital seperti jantung, otak, dan pembuluh darah, serta menyebabkan komplikasi serius seperti kebutaan, kelumpuhan, dan bahkan kematian.

Inilah Gejala Sifilis Sesuai dengan Tahap Perkembangannya yang perlu kamu pahami. 

Penyebab Raja Singa atau Sifilis

Penyebab utama sifilis adalah infeksi oleh bakteri Treponema pallidum yang menyebar melalui kontak langsung dengan luka yang terinfeksi, terutama selama aktivitas seksual. 

Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada janinnya selama kehamilan atau saat melahirkan. Kondisi ini dikenal sebagai sifilis kongenital. 

Sifilis kongenital dapat menyebabkan komplikasi serius pada bayi, termasuk cacat lahir, keterlambatan perkembangan, dan bahkan kematian.

Selain penularan melalui hubungan seksual, ada beberapa faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tertular raja singa, yaitu:

1. Bergonta ganti pasangan seksual

Seseorang yang sering berganti pasangan seksual memiliki risiko lebih tinggi tertular sifilis, terutama jika mereka tidak menggunakan kondom atau tidak mengetahui status kesehatan pasangan mereka.

2. Tidak menggunakan kondom

Penggunaan kondom yang tidak konsisten atau tidak tepat dapat meningkatkan risiko penularan sifilis. Sebab, bakteri dapat menyebar melalui kontak langsung dengan luka yang terinfeksi.

3. Pengidap penyakit menular seksual (PMS)

Orang yang sudah terinfeksi PMS lain, seperti HIV, memiliki risiko lebih tinggi tertular sifilis. 

Infeksi HIV, misalnya, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi lain, termasuk sifilis.

4. Hubungan seksual sesama jenis

Pria yang berhubungan seks dengan pria memiliki risiko lebih tinggi terkena sifilis.

Studi menunjukkan bahwa prevalensi sifilis lebih tinggi di kalangan ini dibandingkan dengan populasi umum.

Kamu bisa menghubungi 5 Pilihan Dokter yang Bisa Bantu Mengobati Sifilis berikut ini. 

5. Pengguna narkoba

Penggunaan narkoba suntik dan berbagi jarum suntik dapat meningkatkan risiko tertular sifilis, meskipun cara ini lebih terkait dengan penularan HIV dan hepatitis C.

Tahapan Gejala Raja Singa (Sifilis)

Gejala raja singa berkembang dalam beberapa tahapan, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda. Memahami tahapan ini sangat krusial untuk deteksi dini dan pengobatan yang efektif.

1. Sifilis Primer (Tahap Awal)

Tahap ini biasanya muncul sekitar 10 hingga 90 hari setelah infeksi, dengan rata-rata 21 hari. Gejala utamanya adalah munculnya luka terbuka tunggal yang disebut chancre (ulkus). Luka ini:

  • Biasanya tidak nyeri dan berbentuk bulat atau oval.
  • Sering muncul di area kontak langsung dengan bakteri, seperti alat kelamin (penis, vagina, labia), mulut, bibir, atau dubur.
  • Dapat juga muncul di area lain yang tidak terlihat, seperti leher rahim atau rektum.

Meskipun tidak diobati, chancre biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 3-6 minggu. Namun, ini tidak berarti infeksi telah hilang; bakteri masih ada di dalam tubuh dan akan berlanjut ke tahap berikutnya.

2. Sifilis Sekunder

Tahap ini berkembang beberapa minggu hingga bulan setelah chancre primer sembuh. Gejala sifilis sekunder lebih bervariasi dan dapat memengaruhi berbagai sistem organ, menjadikannya “peniru hebat” yang sesungguhnya. Gejala yang umum meliputi:

  • Ruam kulit: Ruam sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki, namun bisa juga tersebar di bagian tubuh lain. Ruam ini biasanya tidak gatal dan bisa sangat samar atau menonjol, berwarna merah kecokelatan
  • Lesi mukosa: Munculnya lesi seperti kutil yang disebut condylomata lata di area lembap seperti selangkangan atau mulut.
  • Gejala mirip flu: Demam ringan, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, dan penurunan berat badan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening: Kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan selangkangan mungkin membengkak.
  • Rambut rontok: Kebotakan patch (bercak) bisa terjadi.

Seperti sifilis primer, gejala sifilis sekunder juga akan menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan, tetapi infeksi tetap berlanjut di dalam tubuh.

3. Sifilis Laten

Tahap laten dimulai ketika semua gejala primer dan sekunder menghilang. Pada tahap ini, tidak ada tanda atau gejala sifilis yang terlihat dari luar, namun bakteri Treponema pallidum masih aktif di dalam tubuh.

Tahap laten bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Selama fase ini, seseorang masih dapat menularkan penyakit, terutama pada awal fase laten. Tanpa pengobatan, sifilis laten akan berkembang ke tahap tersier.

4. Sifilis Tersier (Tahap Lanjut)

Ini adalah tahap paling berbahaya dari sifilis dan dapat berkembang 10-30 tahun setelah infeksi awal jika tidak diobati. Sifilis tersier dapat menyebabkan kerusakan serius dan ireversibel pada hampir semua organ tubuh, antara lain:

  • Kerusakan otak dan saraf (neurosifilis): Dapat menyebabkan stroke, meningitis, kebutaan, ketulian, demensia, masalah koordinasi, dan mati rasa.Kerusakan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular sifilis): Mengakibatkan aneurisma aorta, gagal jantung, dan penyakit katup jantung.Kerusakan tulang, sendi, dan organ lainnya: Pembentukan guma (tumor lunak) pada tulang, kulit, hati, atau organ lain yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
  • Komplikasi pada tahap ini seringkali tidak bisa dipulihkan, bahkan setelah pengobatan antibiotik berhasil membasmi bakteri.

Diagnosis Dini Raja Singa (Sifilis)

Mengingat gejala raja singa yang sering meniru penyakit lain dan kemampuannya untuk bersembunyi di tahap laten, diagnosis dini menjadi sangat krusial.

Deteksi awal memungkinkan pengobatan yang efektif sebelum kerusakan organ permanen terjadi. Diagnosis biasanya melibatkan kombinasi metode berikut:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa adanya chancre atau ruam yang mencurigakan, terutama di area genital, mulut, dan dubur.
  • Tes darah (serologi). Ini adalah metode diagnosis paling umum dan andal. Tes darah mencari antibodi yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap bakteri Treponema pallidum. Ada dua jenis tes utama:
  • Tes non-treponemal (VDRL dan RPR). Tes ini mendeteksi antibodi yang tidak spesifik untuk bakteri sifilis tetapi muncul sebagai respons terhadap kerusakan sel yang disebabkan oleh infeksi. Tes ini digunakan untuk skrining dan memantau respons pengobatan. Diagnosis dini melalui tes darah seperti VDRL sangat disarankan bagi yang memiliki riwayat perilaku berisiko.
  • Tes treponemal (TPPA, FTA-ABS, EIA, Chemiluminescence Immunoassay). Tes ini mendeteksi antibodi spesifik terhadap bakteri sifilis. Tes ini digunakan untuk mengkonfirmasi hasil positif dari tes non-treponemal.
  • Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF). Jika ada kecurigaan neurosifilis (keterlibatan otak atau saraf), dokter mungkin akan melakukan pungsi lumbal untuk menganalisis cairan serebrospinal.
  • Pemeriksaan lapangan gelap (dark-field microscopy). Untuk kasus sifilis primer, cairan dari chancre dapat diperiksa di bawah mikroskop khusus untuk melihat langsung bakteri Treponema pallidum. Metode ini memberikan hasil cepat tetapi memerlukan luka aktif.

Kementerian Kesehatan RI secara konsisten menekankan pentingnya skrining IMS, termasuk sifilis, terutama bagi kelompok berisiko tinggi dan wanita hamil.

Pengobatan Raja Singa (Sifilis) dan Prognosis

Kabar baiknya, sifilis adalah penyakit yang dapat disembuhkan, terutama jika didiagnosis dan diobati pada tahap awal. Pengobatan standar untuk sifilis adalah dengan antibiotik:

1. Penisilin

Ini adalah obat pilihan utama dan sangat efektif. Untuk sifilis primer, sekunder, dan laten awal (kurang dari satu tahun), biasanya cukup dengan satu dosis suntikan penisilin G benzathine intramuskular.

Untuk sifilis laten lanjut (lebih dari satu tahun) atau sifilis yang tidak diketahui durasinya, diperlukan beberapa dosis suntikan penisilin yang diberikan dalam interval mingguan. Untuk neurosifilis atau sifilis okular, dosis tinggi penisilin intravena mungkin diperlukan.

2. Alternatif antibiotik

Bagi individu yang alergi terhadap penisilin, dokter dapat meresepkan antibiotik lain seperti doksisiklin atau tetrasiklin. Namun, rejimen ini mungkin memerlukan durasi pengobatan yang lebih lama dan tidak selalu direkomendasikan untuk wanita hamil.

Sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotik, biasanya suntikan penisilin, namun kerusakan organ yang sudah terjadi di tahap lanjut tidak bisa dipulihkan.

Setelah pengobatan, pasien perlu melakukan tes darah lanjutan secara berkala untuk memastikan infeksi telah terbasmi sepenuhnya. Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati jika diperlukan untuk mencegah reinfeksi.

Komplikasi Serius Akibat Raja Singa

Sifilis yang tidak diobati dapat menyebabkan serangkaian komplikasi yang sangat serius dan memengaruhi berbagai sistem organ. Kerusakan ini seringkali ireversibel dan dapat mengancam jiwa.

1. Neurosifilis

Keterlibatan sistem saraf pusat dapat menyebabkan gejala neurologis seperti sakit kepala kronis, kejang, masalah koordinasi (ataxia), kelumpuhan, kebutaan, ketulian, dan demensia. Ini bisa terjadi pada setiap tahapan sifilis, tetapi paling umum di tahap tersier.

2. Kardiovaskular sifilis

Infeksi dapat merusak jantung dan pembuluh darah besar, terutama aorta. Ini dapat mengakibatkan aneurisma aorta (pelebaran dinding aorta), stenosis katup aorta, dan gagal jantung.

3. Gumma

Pembentukan lesi granulomatosa non-kanker yang disebut gumma dapat muncul di berbagai organ seperti kulit, tulang, hati, atau otak, menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan.

4. Sifilis kongenital

Pada bayi yang lahir dari ibu dengan sifilis yang tidak diobati, dapat menyebabkan deformitas tulang, masalah gigi, tuli, kebutaan, gangguan pertumbuhan, bahkan kematian. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa skrining sifilis sangat dianjurkan untuk semua wanita hamil.

5. Peningkatan risiko penularan HIV

Luka chancre sifilis meningkatkan risiko penularan dan akuisisi HIV karena memudahkan virus masuk ke dalam tubuh. Punya pertanyaan lebih lanjut terkait HIV/AIDS? Ini Dokter Spesialis yang Paham Seputar HIV untuk kamu hubungi.

Pencegahan Raja Singa (Sifilis)

Mencegah raja singa adalah upaya terbaik untuk menjaga kesehatan seksual dan umum. Beberapa strategi pencegahan yang efektif meliputi:

1. Praktik seks aman

  • Penggunaan kondom yang konsisten dan benar: Kondom lateks efektif mengurangi risiko penularan sifilis jika digunakan dengan benar pada setiap tindakan seks (vaginal, anal, dan oral). Namun, kondom hanya melindungi area yang tertutup. Jika luka sifilis (chancre) berada di area yang tidak tertutup kondom, penularan masih mungkin terjadi.
  • Pembatasan pasangan seksual: Memiliki satu pasangan seksual yang setia dan telah teruji bebas IMS adalah cara paling efektif untuk mencegah sifilis dan IMS lainnya.

2. Skrining dan deteksi dini

  • Tes IMS rutin: Individu yang aktif secara seksual, terutama yang memiliki beberapa pasangan atau riwayat IMS, disarankan untuk melakukan skrining IMS secara rutin.
  • Skrining ibu hamil: Semua wanita hamil harus diskrining untuk sifilis pada kunjungan prenatal pertama dan, jika berisiko tinggi, diulang pada trimester ketiga dan saat persalinan. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat merupakan kunci untuk memutus mata rantai penularan sifilis dan mencegah komplikasi serius.

3. Komunikasi terbuka

Berbicara secara terbuka dengan pasangan seksual tentang riwayat IMS dan status kesehatan adalah langkah penting dalam pencegahan.

4. Hindari berbagi jarum suntik

Meskipun jarang, sifilis dapat menular melalui berbagi jarum suntik yang terkontaminasi. Menghindari praktik ini juga merupakan langkah pencegahan penting untuk IMS lainnya.

Supaya lebih waspada, simak informasi lain seputar Sifilis / Syphilis (Raja Singa) – Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya di sini.

Itulah berbagai penyebab yang perlu kamu waspadai. Jika punya pertanyaan lain tentang kondisi ini, jangan ragu menghubungi dokter spesialis kulit dan kelamin di Halodoc.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Syphilis.
NHS. Diakses pada 2026. Syphilis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Syphilis.

FAQ

1. Apakah raja singa bisa sembuh total?

Ya, raja singa dapat sembuh total dengan pengobatan antibiotik yang tepat, terutama jika diobati pada tahap awal. Namun, kerusakan organ yang sudah terjadi pada tahap lanjut (sifilis tersier) tidak dapat dipulihkan.

2. Berapa lama gejala raja singa muncul setelah terinfeksi?

Gejala sifilis primer (chancre) biasanya muncul 10 hingga 90 hari setelah infeksi, dengan rata-rata 21 hari. Gejala sifilis sekunder dapat muncul beberapa minggu hingga bulan setelah chancre sembuh.

3. Apakah saya masih bisa menularkan raja singa jika tidak ada gejala?

Ya, terutama pada tahap laten awal di mana bakteri masih aktif di dalam tubuh meskipun tidak ada gejala yang terlihat. Ini adalah mengapa skrining rutin sangat penting, bahkan tanpa gejala.

4. Bisakah saya terkena raja singa lebih dari sekali?

Ya, terinfeksi sifilis sekali tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi di masa depan. kamu bisa terinfeksi ulang jika terpapar bakteri lagi.

5. Apakah tes darah untuk raja singa selalu akurat?

Tes darah sifilis sangat akurat, tetapi ada periode “jendela” di mana tubuh belum menghasilkan cukup antibodi untuk terdeteksi, biasanya beberapa minggu setelah infeksi. Jika ada kecurigaan tinggi, tes ulang mungkin diperlukan.