
Sering Tertukar, Ini Perbedaan Gumoh dan Muntah Pada Bayi
Gumoh dan muntah dapat dibedakan berdasarkan kuantitas cairan yang keluar dari mulut bayi.

DAFTAR ISI
- Apa Arti Gumoh pada Bayi?
- Perbedaan Gumoh dan Muntah
- Penyebab Bayi Sering Gumoh
- Cara Mengatasi Gumoh pada Bayi
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Momen menyusui bayi yang baru lahir merupakan pengalaman yang luar biasa bagi setiap ibu. Namun, tidak jarang momen ini juga diiringi dengan rasa khawatir, terutama ketika bayi tiba-tiba mengeluarkan kembali susu yang baru saja diminumnya. Kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi berusia di bawah satu tahun dan sering kali membuat orang tua baru merasa panik.
Penting bagi orang tua untuk mengetahui secara mendalam tentang arti gumoh pada bayi. Dengan pemahaman yang tepat, kamu tidak perlu lagi merasa cemas berlebihan. Sebagian besar kasus gumoh adalah proses fisiologis yang normal dan menandakan bahwa sistem pencernaan bayi sedang berkembang serta beradaptasi.
Lalu, apa sebenarnya arti gumoh, mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana cara membedakannya dengan muntah yang mengindikasikan adanya penyakit? Mari kita bahas secara lengkap penjelasan medisnya di bawah ini!
Apa Arti Gumoh pada Bayi?
Dalam istilah medis, arti gumoh dikenal dengan sebutan gastroesophageal reflux (GER) atau refluks gastroesofagus. Kondisi ini merujuk pada naiknya kembali isi lambung (berupa ASI atau susu formula) ke kerongkongan, hingga akhirnya mengalir keluar melalui mulut bayi. Proses ini terjadi secara pasif dan mengalir begitu saja, layaknya air yang tumpah dari gelas yang terlalu penuh.
Gumoh sangat wajar terjadi pada bayi sehat. Hal ini dikarenakan otot sfingter esofagus bagian bawah (cincin otot yang membatasi kerongkongan dan lambung) pada bayi belum berkembang dengan sempurna. Otot ini seharusnya menutup rapat setelah susu masuk ke lambung. Namun, karena masih lemah, otot tersebut bisa terbuka sesekali, menyebabkan susu mengalir naik kembali ke kerongkongan.
Perbedaan Gumoh dan Muntah
Banyak orang tua yang sering tertukar antara gumoh dan muntah. Padahal, keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda, baik dari segi penyebab maupun cara bayi meresponsnya. Berikut adalah perbedaan utamanya:
1. Tekanan Saat Keluar
Gumoh terjadi tanpa adanya kontraksi otot perut yang kuat. Susu keluar mengalir perlahan atau menetes dari mulut bayi saat ia sedang bersendawa, berganti posisi, atau bahkan saat tersenyum. Sebaliknya, muntah terjadi dengan tekanan yang kuat. Isi lambung disemburkan keluar secara paksa (proyektil) karena adanya kontraksi otot diafragma dan perut.
2. Kenyamanan Bayi
Arti gumoh yang paling mendasar adalah bayi tidak merasa kesakitan. Bayi yang mengalami gumoh biasanya akan tetap terlihat tenang, nyaman, dan bahkan bisa langsung tersenyum kembali setelah mengeluarkan susu. Berbeda dengan muntah, bayi biasanya akan terlihat rewel, menangis, pucat, dan tampak tidak nyaman sebelum maupun sesudah muntah.
3. Volume yang Dikeluarkan
Volume cairan yang keluar saat gumoh umumnya hanya sedikit, berkisar antara satu hingga dua sendok makan saja (meskipun terkadang terlihat banyak karena bercampur dengan air liur). Sedangkan pada muntah, volume cairan yang dikeluarkan jauh lebih banyak, seringkali mengosongkan hampir seluruh isi lambung bayi.
Faktor Pemicu Bayi Sering Gumoh
- Minum terlalu banyak atau terlalu cepat: Lambung bayi berukuran sangat kecil (sebesar buah ceri saat baru lahir dan perlahan membesar). Jika minum terlalu banyak, lambung akan penuh dan sisa susu akan meluap.
- Menelan banyak udara: Bayi yang minum susu dari botol dengan posisi dot yang salah, atau bayi yang menangis tersedu-sedu sebelum menyusu, cenderung menelan udara. Udara yang terperangkap ini akan mendesak susu keluar saat bayi bersendawa.
- Langsung berbaring setelah menyusu: Posisi tidur terlentang sesaat setelah lambung terisi penuh akan memudahkan gravitasi menarik cairan kembali ke kerongkongan.
Cara Mengatasi Gumoh pada Bayi
Meskipun gumoh adalah hal yang normal, kamu bisa melakukan beberapa langkah sederhana untuk meminimalisir frekuensinya agar bayi merasa lebih nyaman dan nutrisi yang masuk lebih optimal.
1. Sendawakan Bayi Secara Rutin
Jangan tunggu sampai bayi selesai menyusu sepenuhnya untuk menyendawakannya. Jika kamu menyusui langsung, sendawakan bayi saat berganti payudara. Jika menggunakan botol, sendawakan bayi setiap ia menghabiskan sekitar 30-60 ml susu. Hal ini membantu mengeluarkan udara sebelum udara tersebut menumpuk di lambung.
2. Posisikan Bayi Tegak Setelah Menyusu
Setelah selesai memberikan ASI atau susu, gendong bayi dalam posisi tegak setidaknya selama 20 hingga 30 menit. Jangan memiringkan atau langsung meletakkan bayi di tempat tidur. Gravitasi sangat membantu menjaga isi lambung agar tetap berada di tempatnya. Hindari juga mengajak bayi bermain aktif seperti mengayun-ayunkannya setelah makan.
3. Perhatikan Porsi dan Frekuensi Menyusu
Daripada memberikan porsi susu yang terlalu besar dalam satu waktu, lebih baik susui bayi dalam porsi yang lebih kecil namun dengan frekuensi yang lebih sering. Ini memberikan waktu bagi sistem pencernaan bayi yang masih kecil untuk mencerna susu dengan baik. Sembari merawat Si Kecil, pastikan persediaan di rumah tetap aman. Jika kamu kehabisan kebutuhan si kecil, kamu bisa beli perlengkapan bayi dan produk kesehatan online di Halodoc, agar produk langsung diantar ke rumah tanpa harus repot keluar.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebagian besar bayi akan berhenti gumoh dengan sendirinya saat mereka berusia 6 hingga 12 bulan, seiring dengan menguatnya otot lambung dan kemampuan mereka untuk duduk tegap atau makan makanan padat. Namun, kamu harus waspada jika gumoh disertai dengan tanda-tanda “red flags” (bendera merah).
Segera buat jadwal konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam apabila bayi menunjukkan gejala berikut:
- Cairan yang keluar berwarna kuning, hijau, atau bercampur dengan darah.
- Bayi menolak untuk menyusu secara terus-menerus.
- Berat badan bayi tidak kunjung naik atau justru mengalami penurunan drastis.
- Bayi tampak sangat kesakitan, menangis keras sambil melengkungkan punggungnya saat menyusu (tanda dari refluks asam yang mengiritasi esofagus/GERD).
- Ubun-ubun terlihat cekung, mulut kering, dan popok jarang basah (tanda dehidrasi).
Studi Terkait Gumoh pada Bayi
American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan sebuah studi komprehensif mengenai gejala refluks pada bayi. Studi tersebut mencatat bahwa kejadian gumoh (refluks pasif) mencapai puncaknya saat bayi berusia 4 bulan, di mana hampir dua pertiga (67%) dari bayi mengalami gumoh setidaknya satu kali setiap hari.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa angka tersebut menurun drastis menjadi hanya 5% saat bayi menginjak usia 10 hingga 12 bulan. Data ini mendukung panduan klinis bahwa gumoh adalah fenomena perkembangan fisiologis yang normal dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis khusus, selama bayi tetap sehat dan bertumbuh dengan baik.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Academy of Pediatrics. Diakses pada 2024. Gastroesophageal Reflux Symptoms in Infants in a Primary Care Setting.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Spitting up in babies: What’s normal, what’s not.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Bedanya Gumoh dengan Muntah.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infant feeding and regurgitation.
FAQ
1. Apa arti gumoh pada bayi baru lahir?
Arti gumoh adalah keluarnya kembali cairan susu (ASI atau susu formula) dari lambung ke mulut secara perlahan dan tanpa paksaan. Hal ini wajar karena otot katup lambung bayi baru lahir belum berfungsi secara sempurna.
2. Apakah bahaya jika bayi sering gumoh keluar dari hidung?
Umumnya, gumoh yang keluar sedikit dari hidung tidak berbahaya karena hidung dan tenggorokan saling terhubung. Namun, pastikan saluran napas bayi tetap bersih dengan memiringkan tubuhnya agar cairan tidak masuk ke paru-paru (tersedak).
3. Bagaimana membedakan arti gumoh biasa dan gejala GERD pada bayi?
Gumoh biasa tidak membuat bayi kesakitan. Namun, jika gumoh diiringi tangisan histeris, bayi melengkungkan punggung ke belakang (sandifer syndrome), menolak menyusu, dan berat badannya sulit naik, itu bisa menjadi tanda GERD (Penyakit Refluks Gastroesofageal) yang butuh penanganan dokter.
4. Sampai umur berapa bayi normal mengalami gumoh?
Gumoh biasanya mulai berkurang secara signifikan saat bayi berusia 6 bulan, yaitu ketika ia mulai makan MPASI dan bisa duduk tegak. Gumoh umumnya akan berhenti total saat bayi berusia sekitar 12 bulan.




