Aturan Berpuasa Bagi Pengidap Diabetes Melitus Tipe 2

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Aturan Berpuasa Bagi Pengidap Diabetes Melitus Tipe 2

Halodoc, Jakarta – Berpuasa sudah terbukti bisa memberi manfaat menyehatkan bagi tubuh. Tapi, pada beberapa orang dengan kondisi khusus, misalnya diabetes mellitus tipe 2, puasa tidak boleh dilakukan sembarangan. Bukannya memberi manfaat sehat, sembarangan berpuasa malah bisa memberi dampak buruk bagi pengidap diabetes.

Baca juga: Inilah Manfaat Puasa bagi Pengidap Diabetes

Pengidap diabetes melitus tipe 2 yang ingin ikut menjalani puasa sebaiknya melakukan diskusi terlebih dahulu ke dokter. Hal itu untuk menghindari timbulnya efek samping dari penyakit diabetes atau dari obat antidiabetes yang dikonsumsi.

Selain itu, perlu tahu juga mengetahui “kategori” diabetes yang membagi pengidap penyakit ini ke dalam beberapa golongan berdasarkan boleh tidaknya menjalani puasa. Bagaimana aturan menjalani puasa bagi pengidap diabetes?

  • Boleh Berpuasa

Pada kategori ini, pengidap diabetes dinyatakan memiliki risiko rendah dan diizinkan untuk berpuasa. Pengidap diabetes disebut memiliki risiko rendah jika kondisi tubuhnya sehat, karena diabetes yang terkontrol dengan diet serta konsumsi obat-obatan. Pengidap diabetes yang masuk kategori ini memiliki kadar HbA1C kurang dari 7 persen.

  • Boleh Berpuasa dengan Hati-Hati

Pengidap diabetes yang diperbolehkan berpuasa dengan hati-hati dan aturan tertentu. Pada tahap ini, pengidap diabetes disebut memiliki risiko sedang. Umumnya, orang dengan kategori ini memiliki diabetes yang terkontrol oleh diet, konsumsi obat-obatan, dan penggunaan insulin. Pada kategori ini, pengidap diabetes memiliki kadar HbA1C kurang dari 8 persen.

Baca juga: Jangan Dipaksa, Ini Bahaya Berpuasa bagi Pengidap Diabetes

  • Diperbolehkan Tidak Berpuasa

Pengidap diabetes ini memiliki risiko tinggi dan diperbolehkan tidak berpuasa. Ada berbagai tanda pengidap diabetes masuk kategori ini, di antaranya nilai gula darah puasa atau gula darah sebelum puasa 150–300 miligram per desiliter (mg/dl), kadar HbA1C 8-10 persen, memiliki komplikasi mikrovaskular atau makrovaskular, serta berusia di atas 75 tahun.

Pengidap pasien yang memiliki risiko tinggi juga ditandai dengan penurunan fungsi ingatan, demensia, serta penyakit berat, seperti gagal jantung, stroke, kanker, atau darah tinggi yang tidak terkontrol.

  • Tidak Direkomendasikan Berpuasa

Pada pengidap diabetes dengan risiko sangat tinggi, biasanya tidak dianjurkan untuk ikut menjalani puasa. Sebab, memaksakan diri untuk berpuasa malah bisa memperparah kondisi. Pengidap diabetes dinyatakan memiliki risiko sangat tinggi jika memiliki ciri, seperti:

  • Hasil pemeriksaan gula darah tinggi, dengan rata-rata nilai gula darah puasa atau gula darah sebelum puasa lebih besar dari 300 miligram per desiliter
  • Kadar HbA1C lebih dari 10 persen
  • Memiliki hipoglikemia berat selama tiga bulan terakhir dan menyerang secara berulang
  • Ada penyakit akut
  • Tengah hamil
  • Sedang menjalani dialisis alias cuci darah
  • Mengalami penurunan fungsi ingatan berat, demensia, atau sedang menjalani pengobatan yang memengaruhi daya ingat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pengidap diabetes yang memutuskan untuk ikut berpuasa, salah satunya terkait asupan makanan untuk tubuh. Pengidap diabetes dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang menghasilkan energi secara lambat, seperti gandum, kacang-kacangan, dan nasi saat sahur atau berbuka puasa. Porsi makan juga harus disesuaikan, yaitu 50 persen saat sahur, 40 persen saat berbuka puasa, dan 10 persen pada malam hari atau setelah tarawih.

Baca juga: Ini Aturan Konsumsi Gula saat Sahur dan Buka Puasa

Pengidap diabetes yang menjalani puasa juga harus selalu memantau kondisi tubuh dan kesehatan. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter jika mengalami gejala tertentu selama berpuasa. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan tips puasa sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!