Awas, Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Sindrom Gilbert

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Awas, Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Sindrom Gilbert

Halodoc, Jakarta - Sindrom gilbert terjadi ketika kadar bilirubin dalam darah sangat tinggi, sehingga membuat permukaan kulit dan mata berubah warnanya menjadi kuning. Kondisi ini dikenal dengan penyakit kuning, meski terdapat perbedaan yang terbilang signifikan di antara keduanya. Pada sindrom gilbert, organ hati pengidap tidak mengalami gangguan atau berada pada kondisi normal, sementara pada pengidap penyakit hati, organ hati mengalami masalah. 

Selain penyakit kuning, sindrom gilbert terjadi dengan sejumlah gejala lainnya, termasuk tubuh merasa lelah berlebihan, penurunan nafsu makan karena mual dan rasa nyeri yang muncul di bagian perut, serta diare. Namun, penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit lainnya, karena gejalanya yang mirip, sehingga dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. 

Benarkah Kurang Tidur dapat Meningkatkan Risiko Sindrom Gilbert?

Penyebab utama terjadinya sindrom gilbert adalah perubahan gen UGT1A1 yang bertugas untuk mengontrol kadar bilirubin di dalam darah. Gen ini menyampaikan pesan dari otak menuju ke hati untuk menghasilkan enzim yang bisa mengubah bilirubin indirek menjadi direk, sehingga bisa dikeluarkan dalam tubuh melalui urine dan feses. 

Baca juga: Idap Sindrom Gilbert, Tubuh akan Alami Ini

Sayangnya, ketika sindrom gilbert terjadi, perubahan pada gen ini mengakibatkan organ hati tidak bisa mensekresikan enzim pengubah bilirubin ini, sehingga bilirubin pun bertumpuk di dalam darah. Kamu bisa mengetahui berapa tingginya bilirubin melalui tes darah. Supaya lebih mudah, gunakan fitur Cek Lab dari aplikasi Halodoc. Kapan saja kamu melakukan tes darah, kamu tidak perlu pergi ke laboratorium. 

Sayangnya, apa yang menyebabkan terjadinya perubahan gen ini belum diketahui dengan pasti. Namun, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko mutasi gen, karena sindrom ini baru bisa terdeteksi ketika seseorang beranjak remaja karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang menunjukkan gejala yang semakin jelas. Waspada, salah satu faktor risiko karena kurang tidur

Baca juga: Apakah Sindrom Gilbert Berbahaya?

Faktor risiko lain yang perlu kamu waspadai adalah stres atau mengalami tekanan emosional yang berlebihan, menjalani diet rendah kalori dalam jangka waktu yang lama sehingga tubuh kurang asupan makanan, menjalani olahraga berat, mengidap infeksi tertentu, seperti misalnya flu, menstruasi, dan sedang pemulihan setelah menjalani operasi. 

Hampir semua faktor risiko ini mengacu pada tubuh yang terlalu lelah, sehingga salah satu tindakan pencegahan yang dianjurkan adalah tidak beraktivitas berlebihan yang menyebabkan tubuh terlalu lelah. Perhatikan waktu istirahat kamu, pastikan setidaknya kamu tidur malam 6 jam hingga 8 jam. Perhatikan asupan makanan, hindari menjalani diet yang rendah kalori. 

Untuk menghindari dehidrasi, usahakan kamu minum setidaknya 8 gelas setiap harinya. Berolahraga disarankan, tetapi tidak untuk olahraga yang terlalu berat dan memicu kelelahan pada tubuh. Penting untuk kamu perhatikan, konsumsi alkohol bisa memicu kerusakan pada fungsi organ hati, sehingga hindari konsumsinya. Terakhir, lakukan aktivitas relaksasi, seperti yoga untuk mengurangi stres dan tekanan emosional yang kamu alami. 

Baca juga: Risiko Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Gilbert

Ketika kamu mengonsumsi obat dan memiliki riwayat sindrom gilbert atau terdiagnosis dengan penyakit ini, perhatikan penggunaannya. Pasalnya, ada beberapa obat yang konsumsinya harus berdasarkan dengan anjuran dokter. Termasuk paracetamol, irinotecan yang berperan sebagai obat kemoterapi pada pengidap kanker, dan obat antivirus untuk mengatasi hepatitis C dan HIV. 



Referensi: 
BetterHealth. Diakses pada 2019. Health. Gilbert Syndrome. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Gilbert Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2019. Gilbert Syndrome.