Risiko Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Gilbert

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Risiko Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Gilbert

Halodoc, Jakarta – Ada berbagai jenis penyakit yang ditandai dengan kondisi kulit dan mata menjadi kekuning-kuningan atau disebut sebagai jaundice. Gejala ini seringkali dinamai dengan penyakit kuning. Munculnya penyakit kuning biasanya berkaitan dengan gangguan produksi bilirubin. Munculnya jaundice biasanya sebagai gejala yang mendasari penyakit tertentu, seperti sindrom Gilbert.

Baca Juga: Diidap oleh Pembalap Jonas Folger, Kenali Lebih Dalam Sindrom Gilbert

Sindrom Gilbert sendiri sebenarnya merupakan penyakit keturunan di mana kadar bilirubin indirek dalam darah jumlahnya cukup tinggi. Bilirubin indirek adalah pigmen berwarna kuning kecoklatan yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah oleh limpa. Penyakit keturunan ini sesungguhnya tidak berbahaya, tetapi tetap memiliki risiko komplikasi yang bisa terjadi. Berikut ini komplikasi dari sindrom Gilbert.

Risiko Komplikasi Sindrom Gilbert

Munculnya komplikasi sindrom Gilbert bisa dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu yang kemudian menimbulkan efek samping. Umumnya, pengidap sindrom Gilbert memiliki kadar enzim yang rendah. Padahal, enzim-enzim ini dibutuhkan untuk memproses bilirubin dan membantu membersihkan sisa obat-obatan dari tubuh. 

Contoh obat-obatan yang sulit untuk dikeluarkan, yakni irinotecan yang merupakan obat kemoterapi kanker atau inhibitor yang digunakan untuk mengobati HIV. Orang yang mengidap sindrom Gilbert disarankan untuk bicara dengan dokter terlebih dahulu sebelum memakai obat-obatan tertentu. 

Kalau kamu mengalami perubahan warna kulit dan mata menjadi kekuningan, coba tanya dokter Halodoc untuk cari tahu penyebabnya. Berbicara dengan dokter lebih enak kalau langsung lewat aplikasi, oleh sebab itu, yuk download aplikasi Halodoc disini. Selain komplikasinya, sudahkah kamu mengetahui bagaimana sindrom Gilbert terjadi? Kalau belum, simak penjelasan dibawah ini.

Penyebab Terjadinya Sindrom Gilbert

Sebelumnya telah disebutkan bahwa sindrom Gilbert adalah penyakit yang diturunkan dari keluarga. Pengidap sindrom Gilbert memiliki gen yang dapat menyebabkan hiperbilirubinemia, yakni peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Peningkatan bilirubin indirek disebabkan karena kurangnya aktivitas enzim glucuronyl transferase. Enzim ini bekerja mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air setelah dilepaskan dari sel darah merah.

Baca Juga: Stres dapat Memicu Munculnya Sindrom Gilbert

Normalnya, bilirubin bisa diubah kedalam bentuk yang larut dalam air di dalam empedu yang kemudian diteruskan ke usus duodenum untuk dikeluarkan dalam bentuk tinja. Sebagian pengidap sindrom Gilbert tidak mengalami gejala yang signifikan. Gejalanya mungkin hanya meliputi kulit dan mata yang menguning akibat tingginya kadar bilirubin dalam tubuh. 

Terlepas dari perubahan warna pada kulit dan mata, kondisi sindrom Gilbert tidak menimbulkan memiliki gejala-gejala lainnya. Oleh karena itu, pengidap sindrom Gilbert disarankan untuk merawat diri mereka guna mencegah peningkatan kadar bilirubin yang lebih tinggi lagi. Berikut ini gaya hidup yang bisa diterapkan untuk mengelola kadar bilirubin.

Gaya Hidup untuk Mengelola Kadar Bilirubin

Kondisi seperti stres atau gaya hidup yang buruk, misalnya mengonsumsi alkohol bisa memicu episode kadar bilirubin yang lebih tinggi. Berikut ini tips pencegahan dan gaya hidup untuk menjaga kadar bilirubin tetap terkendali :

  • Beri tahu dokter. Saat melakukan pemeriksaan, pastikan untuk memberi tahu dokter bahwa kamu mengidap sindrom Gilbert. Tujuannya agar dokter bisa menyesuaikan obat-obatan yang bisa dikonsumsi. Ini karena kondisi sindrom Gilbert yang kamu miliki dapat memengaruhi cara tubuh dalam memproses obat-obatan tertentu.

  • Konsumsi makanan sehat. Hindari melakukan diet dengan kalori yang sangat rendah. Kurangi kebiasaan melewatkan jadwal makan rutin.

  • Kelola stres. Temukan cara untuk mengatasi stres. Caranya bisa melalui olahraga, meditasi, atau mendengarkan musik.

Baca Juga: Apakah Sindrom Gilbert Berbahaya?